1
Sen. Sep 28th, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

POLITIK: TIDAK SUKA POLITIK CANIBAL, MADE TEJA MUNDUR DARI NASDEM

2 min read

SUKASADA-JARRAKPOSBALI.COM – Akibat “virus corona politik” yang diciptakan DPP Partai NasDem, kini terjadi gelombang pengunduran diri para kader potensial di Bali.

Begitu kader terpengaruh NasDem Bali, Nyoman Tirtawan, mendeklarasikan pengunduran diri karena tidak suka Ida Bagus Oka Gunastawa kembali ditunjuk oleh DPP Partai NasDem sebagai Ketua DPW Partai NasDem Bali, langsung diikuti oleh para kader dan massa di daerah asal Tirtawan, Kabupaten Buleleng.

Menariknya, pengunduran diri itu bukan kader perorangan tetapi mundur secara massa alias secara organisasi. Seperti DPC NasDem Kecamatan Sukasada yang diketuai kader NasDem ternama di kawasan itu, Made Teja, langsung menyatakan mundur mulai pengurus desa/kelurahan hingga seluruh jajaran pengurus DPC NasDem Sukasada.

“DPC NasDem Sukasada .ambil sikap mundur teratur jika DPP NasDem betul menunjuk Gunastawa sebagai Ketua DPW NasDem Bali kembali. Kalau NasDem kembali dipimpin Gunastawa maka NasDem Bali akan kerdil setiap Pemilu gagal tidak punya DPR RI utusan Bali. Artinya NasDem tetap kecil di Bali, jika tak mau ada perubahan prombakan structural,” tandas Teja, Senin (3/2/2020) pagi.

Baca Juga :  Tiba di Bali, Jorge Lorenzo ‘Disambut’ Nikita Mirzani

Made Teja yang juga Caleg DPRD Bali dari Nasdem Dapil Buleleng pada Pemilu 2019 lalu menyatakan mundur bersama jajaran pengurus DPC NasDem Sukasada serta jajaran pengurus NasDem desa dan Kelurahan di Kecamatan Sukasada.

“Saya mundur sebagai Ketua DPC NasDem beserta jajaran pengurus Nasdem desa dan kelurahan. Orang-orang saya tarik biar mundur di 14 desa dan 1 kelurahan di Kecamatan Sukasada,” tegas Teja.

Menurut Teja, dengan ditunjuknya kembali Gunastawa sebagai Ketua DPW NasDem Bali berarti induk partai yakni DPP Partai NasDem tidak menghiraukan aspirasi kader dan massa di daerah, sehingga tidak layak berada di sebuah partai yang bersikap otoriter terhadap aspirasi kader dan massa di daerah.

“Untuk apa, aspirasi kami tak mampu dihiraukan, aspirasi kami bersama massa di bawah diabaikan. Kepeminpinan Gunastawa tidak mengkedepankan kader partai dalam pencalegan itu artinya rugi duduk di struktur partai, cuma mengurus partai dengan uang banyak tapi tidak dipakai saat pencalegan,” beber Teja membongkar dosa-dosa Gunastawa.

Baca Juga :  DUGAAN KORUPSI DI TIRTASARI: KETUA BUMDES JADI TERSANGKA?

Teja memastikan bahwa Partai NasDem di Bali tidak akan besar dan berkembang bahkan akan menjadi partai kerdil karena di NasDem Bali memainkan politik cannibal.

“Di mana dipraktekan politik Canibal, maka tidak akan pernah partai itu besar apalagi membantai kadernya sendiri, partai besar bisa terplosok apalagi partai yang masih kecil. Saya suka good politic, politik yang memiliki otoritas membangun untuk rakyat bukan politik untuk kepentingan kelompok. Salam restorasi kita,” pungkas Teja menyindir elit politik dengan slogan yang digaung-gaungkan Ketua Umum DPP Partai Nasdem, Surya Paloh.

Sebagai penutup pernyataannya, Teja menyatakan “Tidak ada yang abadi, tapi karakter yang buruk tetap abadi dan karakter yang baikpun abadi juga. Karakter Oka Gunastawa yang otoriter dan melawan AD/ART pasti dibawa sampai mati.”

Penulis: Francelino
Editor: Jering Buleleng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *