1
Rab. Sep 23rd, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

TOLAK HARE KRISHNA DI BALI, TAKSU BALI DWIPA GELAR AKSI DEMO DENGAN PARADE SENI

2 min read

DENPASAR-JARRAKPOSBALI.CPM – Aksi penolakan terhadap ajaran Hare Krisna di Bali terus berlanjut. Aksi penolakan terhadap ajaran Hare Krishna di Bali dilakukan warga Pulau Dewata di Medsos yang semakin viral, aksi serupa juga dilaksanakan dalam bentuk demo penolakan oleh sejumlah komponen masyarakat Bali.

Senin (3/8/2020) siang giliran Taksu Bali Dwipa menyampaikan aspirasinya yang dikemas secara apik dan penuh kedamaian lewat Parade Seni Dan Budaya di Lapangan Bajra Sandhi, Renon, Denpasar.

Dalam aksi budaya yang dimulai pukul 11.00 wita tersebut ditampilkan Pertunjukan Calonarang, Fragmen Tari, Joged Bumbung, Ngurek, Baleganjur dan gambelan angklung sehingga menciptakan nuansa budaya Bali yang amat kental dan memikat.

Menurut Jro Kemuning,s alah seorang anggota Taksu Bali Dwipa mengatakan bahwa ini bukan demo dan bukan pula aksi dari anggota ormas. “Kami warga Bali dari berbagai kabupaten di Bali yang benar-benar berniat tulus datang mempunyai tujuan menjaga Adat dan Budaya Bali yang bernafaskan Hindu. Kami menghormati keyakinan orang lain termasuk aliran Hare Krishna ini. Kalau mereka ngajak teman-temannya dari India untuk bergabung, ya silakan.Tapi jangan sekali-kali menghasut krama Bali untuk ikut-ikutan karena kami sangat mencintai budaya kami,” tandas Jro Kemuning.

Baca Juga :  VIRUS CORONA: MAHASISWA KKN UM MALANG MODIFIKASI TEKNOLOGI CIPTAKAN SANITIZER PRESSER

Jro Kemuning menegaskan bahwa sebagai orang Bali tidak rela generasi muda Bali dihasut dan diiming-iming dengan cara-cara tidak elok dan tidak etis yang bermuara pada perusakan budaya Bali. “Kami tidak rela generasi kami dihasut dan diiming-imingi model gituan yang bisa merongrong budaya dan Hindu Bali yang luhur tapi berlindung di PHDI dan membawa-bawa nama Hindu,” tegas Jro Kemuning yang menekuni spiritual ini dengan nada geram.

Aksi demo Taksu Bali Dwipa menyampaikan sejummlah tuntutan yaitu menolak Aliran Hare Krishna di Bali; mereformasi PHDI Bali; meminta PHDI Bali untuk memohon kepada Kejaksaan Agung memberlakukan SK Jaksa Agung No.107/ JA/5/1984 dan menarik semua barang cetakan yang memuat Ajaran HK dan juga melarang seluruh kegiatan HK di ranah Bali.

Bagaimana sikap PHDI Bali? Ketua PHDI Bali, Prof.Gusti Ngurah Sudiana, menganggap aksi demo itu hal yang wajar. “Ya,orang menyampaikan aspirasi kan sah-sah saja. Dan kita apresiasi penyampaiannya yang santun dan damai tersebut. Tapi yang jelas apa menjadi tuntutan mereka yang intinya sama dengan tuntutan beberapa elemen masyarakat tanggal 22 Juli lalu semua sudah kita sampaikan kepada pihak terkait termasuk permintaan agar Kejaksaan Agung memberlakukan SK No. 107/JA/5/1984,” jawab Sudiana.

Baca Juga :  DUA ANAK MUDA BULELENG WAKILI BALI DI SELEKNAS PEMUDA PELOPOR 2020

Salah seorang peserta yang dicegat di lokasi mengatakan, dia baru pertama mengikuti aksi damai ini dan akan mempelajari situasi. “Saya tumben ikut terjun ke lapangan seperti ini karena saking cinta saya kepada Hindu dan budaya Bali. Tapi nanti saya pelajari dulu situasinya, kalau memang ini aksi murni nindihin Bali, ya saya lanjut, tapi kalau ada unsur politik atau mematikan karakter tokoh tertentu maaf saja, saya stop sampai di sini,” tandas peserta yang tidak mau ditulis namanya di media.

Penulis: Beratayasa
Editor: Francelino

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *