1
Ming. Sep 20th, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

POLITIK: SEKRETARIS DPC NASDEM SUKASADA DAN MASSA PENDUKUNG TAK AKTIF LAGI DI NASDEM

4 min read

SINGARAJA-JARRAKPOSBALI.COM – Massa dan kader Partai NasDem Bali terutama dari Bali Utara benar-benar berjiwa puputan. Begitu kebenaran dirampas dari mereka, perang ala “puputan Jagaraga” pun mereka tempuh untuk melawan arogansi petinggi Partai NasDem baik di tingkat DPD, DPW hingga DPP.

Kader NasDem di Bumi Panji Sakti itu bersama massa pendukung masing-masing mengundurkan diri secara teratur dari Parta NasDem atas “virus corona politik” yang diciptakan DPP Partai NasDem yang bakal menunjuk kembali Ida Bagus Oka Gunastawa sebagai Ketua DPW Partai NasDem Bali.

Kabar tergres tentang mundurnya kader NasDem di Kabupaten Buleleng menyusul kekecewaan terhadap Gunastawa yang dinilai tidak mempunyai kemampuan mimpin DPW NasDem Bali itu adalah Nyoman Sardana, SH.

Nyoman Sardana, SH, adalah seorang pengacara senior Buleleng yang menjabat Sekretaris DPC NasDem Kecamatan Sukasada. Kendati secara organisasi Ketua DPC NasDem Sukasada, Made Teja, S.Sos, sudah menyatakan seluruh jajaran mundur namun Sardana pun ingin menegaskan kembali sikap politik pribadinya tentang carut-marutnya manajemen di tubuh Partai NasDem di Bali baik itu manajemen di DPW NasDem Bali maupun manajemen di tubuh DPD NasDem Kabupaten Buleleng.

Ditemui di kantor pengacara miliknya di Jalan Teleng No 19 Singaraja, Rabu (5/2/2020) siang, Sardana yang dikenal low profile dan santai itu memaparkan panjang lebar kekecewaannya tentang carut-marutnya manajemen di DPW NasDem Bali yang diketuai Ida Bagus Oka Gunastawa.

“Terus terang kalau manajemen partai baik di DPW maupun di DPD masih seperti ini, maka sikap saya adalah saya tidak aktif lagi (baca: mundur) di Partai NasDem,” ucap Sardana dengan nada serius.

Ia pun menegaskan bahwa dengan tidak aktifnya lagi dia di NasDem maka secara otomatis massa pendukungnya yang mencapai hampir 2 ribu pemilih di Desa Pegayaman, Desa Gitgit dan desa-desa lain di Kecamatan Sukasada pun langsung tidak aktif semua dari Partai NasDem. “Kalau saya sudah tidak aktif lagi NasDem maka jelas massa pendukung saya juga akan tidak aktif lagi di NasDem,” papar Sardana dengan senyum tipis.

Baca Juga :  VIRUS CORONA: ANGGOTA DPRD BULELENG MADE SUDIARTHA SERUKAN LAWAN CORONA

Sardana memaparkan, program Ketua Umum DPP Partai NasDem Surya Paloh dengan slogan “restorasi” sangat bagus. Itu didukung oleh sikap, perlaku, dan prinsip berpolitik Surya Paloh yang jelas dengan menanamkan nilai-niali perjuangan dan nasionalis yang kuat sehingga membuat Partai NasDem menjadi besar seperti ini.

Hanya saja, sebut dia, para pemimpin Partai NasDem di DPW dan DPD tidak mampu mengimbangi semangat dan nilai-nalai juang Partai NasDem yang ditanam Surya Paloh. “Pemimpin Partai NasDem di DPW dan DPD yang tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk membesarkan NasDem di daerah. Ibaratnya nafsu besar tetapi tenaga kurang,” sindir Sardana terhadap Keua DPW NasDem Bali dan Ketua DPD NasDem Buleleng.

Kepada demikian? “Karena Ketua DPW dan Ketua DPD itu tidak memiliki kemampuan intelektual yang mumpuni untuk memenage partai. Omongnya bergaya seperti Bang Surya Paloh, tetapi pelaksanaannya nol. Sebab mereka tidak mempunyai kemampuan intelektual yang cukup , tidak memiliki skil manajemen yang mumpuni. Ya, akhirnya NasDem seperti ini,” jawab Sardana diplomatis.

Ia mencontohkan, Ketua DPW NasDem Bali Ida Bagus Oka Gunastawa, dan Ketua DPD NasDem Buleleng Made Suparjo. Kedua pejabat NasDem ini tidak pernah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pengurus partai di tingkat kecamatan dan tingkat desa/kelurahan. Gunastawa dan Suparjo tidak pernah turun ke bawah.

“Setelah Pemilu lalu, sampai hari ini tidak pernah ada komunikasi dengan kami di bawah. Saya sebagai Sekretaris DPC NasDem Sukasada, sampai hari ini tidak pernah dihubungi sama sekali soal perkembangan partai atau program-program partai. Mereka hanya turun saat Pemilu, setelah Pemilu mereka sudah lupa,” kritik Sardana membongkar dosa-dosa para ketua tokoh NasDem di Bali itu.

Baca Juga :  VIRAL KASUS PERCERAIAN MENINGKAT, TAPI DI BALI TIDAK

Sebagai bukti kelemahan manajemen, sebut dia, hingga saat ini tidak pernah ada pertanggungjawaban keuangan partai secara terbuka dan akuntabel. “Informasinya tidak pernah ada pertanggungjawaban. Ini membuktikan bahwa manajemennya tertutup. Kalau manajemen tertutup, artinya penggunaan dana-dana di DPW tidak jelas,” ungkapnya.

Ia menyatakan, kalau Gunastawa dan Suparjo itu bisa merefleksi perjalanan politik mereka baik sebelum di NasDem maupun selama di NasDem maka keduanya sudah harus mengundurkan diri dari kepengurusan bukan malah getol mempertahankan posisi di puncak kepimpinan partai.

“Gunastawa misalnya, tidak pernah berhasil setiap kali menjadi caleg, begitu pula Suparjo juga begitu. Suparjo waktu masih di Golkar pun gagal, setelah pindah ke Demokrat pun gagal. Setelah menjadi Ketua DPD NasDem Buleleng gagal jadi anggota dewan. Ini cukup bukti kalau mereka tidak mempunyai kemampuan sehingga tidak layak menjadi pimpinan Partai NasDem baik di DPW maupun DPD,” beber Sardana buka-bukaan tentang kegagalan Gunastawa dan Suparjo dalam memimpin NasDem.

Ia berharap DPP Partai NasDem membuka mata dan membuka track record Gunastawa dan Suparjo ini sebelum kembali mengambil keputusan untuk menentukan Ketua DPW dan Ketua DPD NasDem. “Salah ambil keputusan sekarang, sama dengan NasDem hancur selama lima tahun,” tandas Sardana seraya menegaskan kembali bahwa dirinya bersama ribuan massa pendukung tidak aktif lagi di NasDem kalau Gunastawa ditunjuk kembali sebagai Ketua DPW NasDem Bali oleh DPP NasDem.

Penulis: Francelino
Editor: Jering Buleleng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *