BeritaGaya Hidup

Menyandang Nama Besar, Seniman Gusti Sudarsana Hidup Memprihatinkan

DENPASAR, jarrakposbali.com | Para penggemar lagu pop Bali pastilah masih ingat dengan sosok Gusti Sudarsana.

 

Di era 1990- an hingga tahun 2000, nama Sudarsana sempat populer di blantika musik pop Bali. Dia sangat piawai mengkolaborasikan musik eknik Bali dengan musik moderen.

 

Sudarsana juga dikenal pada jamannya sebagai penyanyi dan pencipta lagu pop Bali. Dia juga dikenal capak sebagai musik arrager.

 

Banner Iklan Sariksa

Ratusan lagu pop Bali telah diciptakannya dengan paduan ramuan musik yang apik. Lagu-lagu ciptaannya kerap dibawakan oleh penyanyi-penyanyi pop Bali papan atas.

 

Masih terngiang lagu-lagu pop Bali ciptaan penyandang tuna netra ini ngehits dinyanyikan oleh penyanyi ternama, seperti Widi Widiana, Sri Dianawati, Ary Kencana, Adi Semarandana, Panji Kuning, Tut Asmara, Niki Marini, Galuh Billen dan masih banyak penyanyi Bali lain.

 

Dengan banyaknya karyanya dengan perpaduan musik eknik dengan musik moderen, akhirnya Gusti Sudarsana berhasil meraih penghargaan bergengsi, berupa piagam penghargaan khusus. Piagam ini diraihnya dengan menyisihkan para pesaingnya.

 

Di samping itu, Gusti Sudarsana juga pernah tenar saat lagu Beli Teke Uling Banyuwangi, Rajapala, Luh Ayu, Suba Kadung dan Galang Kangin. Lagu-lagu ini dinyanyikannya sendiri dan sempat ngehits.

 

Baca Juga :  Villa for sell at South off bali

Disamping banyak menciptakan lagu pop Bali, dia juga banyak menciptakan karya rindik dan dengung. Karya Rindik dan Dengung bisa dinikmati dalam album garapannya. Karya Rindik dan Dengung itu masih abadi hingga saat ini.

 

Namun, dibalik karya-karya besarnya itu, justru kehidupan di usia senjanya sangat miris. Ditemui di rumahnya yang berlokasi di di Jl.Bhuana Kubu, Gang.Asem Xll/20,Monang Maning, Denpasar, dia tingal bersama istri tercinta yang juga tuna netra dan dua orang anaknya.

 

Sudarsana kini sudah tidak bekerja lagi.

Saat sebelum pandemi, setiap harinya bekerja main rindik di sebuah hotel di kawasan Legian dan aktif berkarya sebagai musisi.

 

Namun saat ini, hotel tutup akibat pandemi, orderan bikin lagu dan menata musik juga sangat jarang.

 

“Ya, begini nasib tiang saat ini. Di hotel sudah tidak kerja, penyanyi yang mau bikin lagu juga jarang. Sudah dua tahun lebih nasib tiang tidak karuan,” ujarnya lirih.

Baca Juga :  Apes! Nyebrang Jalan Raya, Pekak di Tabanan Ditabrak Motor

 

Dia berharap ada perhatian pemerintah kepada seniman musik Bali. Karena seniman musik Bali juga berkontribusi melestarikan budaya Bali. Karena itu perhatian pemerintah sangat di harapkan.

 

Perhatian pemerintah yang dimasudkannya adalah kesempatan tampil dan pemerintah diharapkan lebih banyak memberikan kesempatan bagi seniman-seniman musik lokal Bali untuk tampil di even-even yang dibuat pemerintah.

 

“Saat pandemi ini memang serba susah,lebih-lebih seperti tiang yang menyandang tuna netra ini,” inbuhnya.

 

Karena itu Sudarsana meminta pihak pemerintah bisa memberi ruang bagi seniman penyandang disabilitas untuk tampil. Bagi warga Bali yang hobi bernyanyi, Sudarsana juga siap menjebatani sehingga menjadi penyanyi Bali.

 

“Bagi penyanyi pendatang baru silahkan datang ke studio musik saya atau yang sudah punya nama boleh juga nanti saya buatkan lagu-lagu bagus,” tutupnya.

 

Untuk diketahui, studio musik milik Sudarsana dengan lebel Jumah Record berlokasi di Monang Maning, Denpasar. (asa)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: