1
Ming. Sep 20th, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

VIRUS CORONA: MAKANAN DAN MINUMAN PENYUMBANG DEFLASI TERBESAR BAGI KOTA SINGARAJA

2 min read

SINGARAJA-JARRAKPOSBALI.COM – Pengaruh wabah virus corona (COVID-19)benar-benar luar biasa terhadap perekonomian masyarakat seperti di Kota Singaraja.

Singaraja sebagai ibukota Kabupaten Buleleng, Bali, yang merupakan pusat pertumbuhan dan perkembangan ekonomi Bali Utara, kini terjun bebas. Kondisi perekonomian di Kota Singaraja cenderung mengalami deflasi.

Hal ini diakibatkan karena daya beli masyarakat menurun. Sesuai data yang dihimpun oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Buleleng mencatat, deflasi pada Bulan April di Kota Singaraja mencapai angka 0,36 persen.

Penyumbang andil deflasi di Kota Singaraja ada pada kelompok pengeluaran makanan dan minuman. Angka deflasi dari kelompok makanan dan minuman mencapai angka 0.73. Selain itu ada juga kelompok lain yang menyumbang deflasi seperti, perlengkapan rumah tangga dan informasi komunikasi.

Ditemui di ruang kerjanya, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Buleleng Ni Made Rousmini, S.Sos selaku Sekretaris TPID Kabupaten Buleleng membenarkan hal tersebut. Rousmini menjelaskan, pengumpulan data penghitungan berbeda dari biasanya. Hal ini mengikuti imbauan pemerintah dalam pencegahan penyebaran COVID-19.

Baca Juga :  CAMAT BANJAR TANTANG PLT KADISDIKPORA REBUT JABATAN KADISDIKPORA BULELENG

“Ada beberapa kedalaman teknis tertentu angka inflasi tidak dapat disamakan dengan cara perhitungan yang dilakukan sebelum merebaknya COVID-19,” jelasnya.

Selain itu, Rousmini menambahkan, ketidaksamaan perhitungan dikarenakan prilaku konsumen dan pedagang dalam menetapkan harga tidak seperti biasanya. “Namun secara statistik estimasi, angka inflasi dapat dipertanggungjawabkan,” imbuhnya.

Dia pun mengungkapkan beberapa komoditas penyumbang deflasi di Kota Singaraja. Menurutnya, komoditas terbesar penyumbang deflasi ada pada bahan makanan.

“Penyumbang deflasi terbesar ada pada cabai merah yang mencapai 0.16 persen, daging ayam ras 0.15 persen, telur ayam 0.06 persen, pisang 0.04 persen, tauge atau kecambah 0.04 persen, bawang putih 0.03 persen, daging babi 0.03 persen, dan ikan teri 0.02 persen,” ungkapnya.

Baca Juga :  VIRUS CORONA: POLRES BULELENG HIMBAU WARGA TETAP DI RUMAH

Selanjutnya, ia memaparkan penyebab deflasi yang terjadi di Kota Singaraja akibat dampak COVID-19 yang melanda. Ia pun memperkirakan, daya beli masyarakat yang menurun dikarenakan penghasilan dari masyarakat menurun.

“Seperti diketahui, banyak masyarakat yang diberhentikan dari pekerjaannya, sehingga mereka penghasilannya menurun,” jelasnya lagi.

Rousmini mengatakan, pihaknya sedang mengkaji upaya untuk mengantisipasi terjadinya deflasi. Ia akan segera melapor kepada Bupati Buleleng terkait deflasi yang dialami Kota Singaraja.

“Walaupun stok pangan mencukupi dan harga stabil, namun deflasi tidak selamanya baik, karena jika ini terus terjadi berarti perputaran ekonomi melemah. Sehingga kami sedang menyusun strategi untuk mengantisipasi hal ini,” pungkas Rousmini.

Penulis: Junior
Editor: Francelino

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *