1
Rab. Sep 23rd, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

PEMUDA MASIH APATIS TERHADAP POLITIK; DIABAIKAN ATAU DIRANGKUL?

4 min read

Oleh: M.Yefry Rinaldi/Fungsionaris DPP Partai Demokrat dan Wasekjen 1 FKKGD

SEORANG pemimpin revolusioner sekaligus presiden pertama kita, Ir. Soekarno pernah mengatakan “Berikan aku 1000 orang tua, maka akan aku cabut semeru dari akarnya dan berikan aku 10 pemuda maka akan aku guncangkan dunia”. Hal tersebut menunjukkan peran pemuda, sebagai generasi pernerus bangsa yang sangat diharapkan dapat mengubah dunia, terkhususnya Indonesia.

Secara tidak langsung juga, ini merupakan pedoman bahwa untuk mengubah Indonesia melalui politik, maka diperlukan keterlibatan remaja. Sebagaimana politik memiliki tujuan mulia untuk menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat umum serta bagian penting dari mekanisme ketatanegaraan dalam menyelesaikan permasalahan suatu negara.

Realitas sosial yang hadir menunjukkan kondisi politik nasional mengalami keterpurukan. Hal tersebut berdasarkan temuan Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengenai kondisi politik di Tanah Air. LSI mencatat, hanya 20,9 % responden yang menyatakan situasi perpolitikan Indonesia berada dalam kondisi baik, adapun 2,0 % lainnya menilai sangat baik, dan 34,2 % menyatakan sedang atau normatif. Sementara itu, jumlah responden yang melihat kondisi politik Indonesia kini memburuk mencapai 27 %, sangat buruk 6,8 %, dan jawaban tidak tahu kondisi politik mencapai 9,0 %.

Kondisi keterpurukan dunia perpolitikan nasional merupakan pekerjaan rumah tidak hanya bagi pemerintah namun masyarakat secara umum, khususnya generasi muda. Sebagaimana remaja merupakan generasi penerus bangsa yang harus ikut andil dalam mempertahankan politik sebagai salah satu alternatif solusi dalam mekanisme ketatangeraan untuk memecahkan problema nasional di kemudian hari.

Proses penanaman nilai politik khususnya nilai-nilai demokrasi kepada generasi bangsa sudah dilakukan sejak dini. juga saat menyampaikan kritikan dan aspirasi dalam berbagai hal, merupakan bagian dari kegiatan berbau politik yang sudah sering dilakukan remaja.

Namun, yang menjadi masalah adalah kurangnya partisipasi remaja dalam kesadaran berpolitik dan cenderung apatis karena sebagian besar beranggapan bahwa politik itu hanya untuk generasi tua yang hanya memperebutkan kursi di pemerintahan, politik uang, penunjang popularitas dan lebih parahnya lagi politik itu adalah sesuatu yang kotor dan salah.

Pada Pemilu 2014 saja, jumlah pemuda yang mempunyai hak pilih bisa mencapai 40 – 42%. Coba saja bayangkan jika angka sebegitu besarnya menjadi golput? Sebagaimana rilis yang juga di keluarkan oleh Indonesian Future Leaders (2016) angka pemuda memasuki persentase 30% dari total hak pilih yang terdaftar, tentu saja bukan jumlah yang sedikit. Bahkan, Indonesian Future Leaders juga merilis bahwa 53% dari total pemilih pemuda masih apatis terhadap proses politik yang ada. Sungguh miris bukan?

Baca Juga :  TOLAK HARE KRISHNA DI BALI, TAKSU BALI DWIPA GELAR AKSI DEMO DENGAN PARADE SENI

Dari fakta tersebut, bukan berarti remaja dijauhkan dari politik, justru hal itu seharusnya dijadikan penyemangat bagi remaja guna mencapai tujuan berpolitik yang benar. Solusinya ialah bagaimana ruang publik dan berbagai forum pendidikan politik yang baik bagi remaja harus terus digiatkan dengan kompetensi yang mudah dimengerti. Sehingga sedari dini, remaja sudah mengetahu nilai-nilai politik dan nantinya remaja dapat merevitalisasi ataupun mengubah kondisi politik di Indonesia, menjadi politik yang emas.

Menurut pandangan saya bahwa kaderisasi melalui partai politik ke depan akan sangat dibutuhkan sebagai ujung tombak perubahan budaya dan kepemimpinan politik di Indonesia. Karena sebuah tatanan negara yang demokratis harus menyediakan dan dalam faktanya membutuhkan partai politik. Partai politik mestinya harus mampu memberikan pendidikan politik kepada para kadernya baik yang sudah tua, maupun yang masih muda. Dalam hal ini, yang paling penting diberikan bimbingan yaitu remaja, sebagai generasi muda Indonesia, untuk menuju perubahan politik Indonesia yang lebih baik, sebagaimana politik emas yang menjadi dambaan bumi pertiwi kita sejak dulu.

Jika generasi ini tidak dibimbing supaya berpolitik yang benar, mereka bisa terjebak dalam tindakan yang tidak baik, maka tak dapat dipungkiri bahwa generasi emas bangsa akan sia-sia begitu saja. Mereka perlu diolah dan dipupuk agar berguna bagi nusa bangsa. Mereka bisa saja tersesat dalam pikiran salah bahwa kekuasaan sekedar demi mencari popularitas, agar dipandang hebat atau ditakuti oleh orang-orang.

Misalnya saja sekarang, banyak remaja yang menggunakan narkoba, menghina orang tuanya, menyuap guru ataupun dosennya, melakukan aksi bullying, tawuran dan masih banyak lagi. Karena itu, pendidikan politik yang baik benar-benar dibutuhkan generasi muda sebagai antisipasi dari kemungkinan buruk tersebut.

Baca Juga :  SUSUN RKPD 2021, PEMKAB BULELENG GELAR KONSULTASI PUBLIK

Dengan pendidikan politik, menjadikan remaja menjadi lebih dewasa, sehingga menciptakan rasa kepedulian. Sebagaiman politik sesungguhnya berkaitan dengan urusan orang banyak, maka akan tercipta kepedulian sosial remaja dalam membela kepentingan umum, serta membangun rasa tanggung jawab, karena politik berhubungan dengan kekuasaan yang harus dipertanggungjawabkan.

Sehingga kelak setelah dewasa, remaja mampu menjadi pemimpin yang amanah karena sebelumnya sudah berpengalaman. Saat itu, para remaja sudah dapat menentukan siapa pemimpin politik negara yang memang layak bahkan menjadi pemimpin negara, atau menunjuk wakil rakyat di DPR atau menjadi bagian dari DPR itu sendiri dan masih banyak lagi. Peran politik yang demikian besar itu perlu dibekali dengan pendidikan dan pengalaman politik sejak usia muda.

Kesadaran berpolitik remaja bukan saja berkaitan dengan tujuan pencerdasan generasi muda, tapi juga menyadarkan mereka tentang amanah kepemimpinan bangsa di masa depan. Remaja diharapkan berani bicara politik dan masyarakat pun harus menghargainya. Ini akan menjadi proses pencerdasan politik yang efektif di kalangan anak muda. Saatnya, politik disebut sebagai karakter anak gaul bukan? Remaja hendaknya peka dengan kondisi sosial politik serta berani melakukan aksi-aksi damai demi membangun sebuah partai politik baru yang emas.

Partai politik baru dalam artian ini, dengan terbina dan terlibatnya remaja dalam dunia politik, akan menjadi landasan partai politik lama untuk merevitalisasi sistemnya, ataupun mendorong terbentuknya partai politik baru yang emas demi kemajuan Indonesia kedepannya, mengingat Indonesia sedang dilanda keterpurukan politik saat ini.

Oleh karena itu, sudah sangat jelas betapa remaja sangat penting untuk terlibat dalam politik. Merekalah yang akan menjadi pemimpin dan penerus bangsa ini di masa yang akan datang. Diperlukan bimbingan dan pelatihan yang mengasah kesadaran politik sejak usia dini . Dan yang tak kalah penting adalah bagaimana melibatkan para remaja dalam politik yang sehat, yang mencerdaskan, membangun jiwa kepemimpinan, sehingga nantinya generasi emas ini dapat merevitalisasi ataupun mendorong terciptanya politik yang emas. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *