1
Sab. Sep 19th, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

KONSEP ‘BALI METANGI’ MADE TEJA BANGKITKAN EKONOMI BALI DENGAN TANAM PORANG DI TENGAH COVID-19

2 min read

BADUNG-JARRAKPOSBALI.COM – Budidaya tanaman porang terus disosialisasikan oleh Made Teja, Direktur CV Indo Porang Bali, ke seluruh Bali.

Seperti Minggu (6/9/2020), Teja tampil dalam sebuah acara seminar di Griya Bongkasa Abiansemal, Badung.

“Porang merupakan tanaman yang mudah sekali tumbuh disekitar kita. Manfaatnya yang sangat ekonomis inilah yang membuat seseorang Paidi yang bisa sukses dari budidaya porang,” cerita Teja .

Teja bercerita tentang Paidi yang berupaya membudidayakan Porang di hutan-hutan yang dia sewa dari pemerintah daerah. Sedangkan Made Teja mulai tertarik karena ia bercerita tidak memiliki tanah jadi ia mulai mencari bibit-bibit Porang di hutan sekitar daerah tempat tinggalnya, “Saya bawa karung dan masuk ke hutan-hutan, “ceritanya.

Mantan anggota DPRD Buleleng ini pun menawarkan sebuah program inovatif dalam membangunkan rasa juang orang Bali, untuk melewati keterpurukan ekonomi saat ini dengan tema ‘BALI METANGI’ yang memiliki arti bangkitnya Bali (Bali bangkit/Bangun).

Baca Juga :  VIRUS CORONA: TEPATI JANJI, BUPATI AGUS REALISASIKAN BERAS UNTUK RELAWAN COVID-19

Ia juga menceritakan Panjang lebar tentang alasan atau motivasi dia memilih budidaya tanaman porang. “Saya memilih budidaya ini karena penanamannya sangat mudah ‘entungang jeg tumbuh’ (dilempar aja tumbuh),” cerita Teja dengan gaya khas Bulelengnya.

Dengan mudahnya menanam porang dengan hasil panen harga yang menggiurkan inilah dia ingin bersama-sama masyarakat di Griya Bongkasa Abiansemal mengebangkan budidaya tanaman porang. “Dengan program ‘Bali Metangi’ saya ingin membangunkan seluruh masyarakat Bali untuk melihat kembali potensi tanah mereka untuk membangun bersama ekonomi Bali yang lagi terpuruk karena pandemi COVID-19,” jelasnya dengan nada berapi-api.

“Konsep ‘Bali Metangi’ bangkitkan sektor pertanian di era COVID-19, sebagai wujud bhakti kepada Ibu Pertiwi,” ucap Teja.

Ketut Tinggal, manager administrasi, menjelaskan dan membagikan brosur dengan menerangkan bahwa kebutuhan 1 hektar tanah adalah 200 kg katak porang dengan estimasi harga per hari Minggu tanggal 6 September 2020 adalah Rp 54 juta, dengan pengeluaran untuk 1 hektar adalah Rp 78.975.000, dengan hasil yang cukup fantastis yakni hasil bersih Rp 681.025.000.

Baca Juga :  WEBINAR KEMENPAREKRAF: WAGUB BALI INGIN TURIS AUSTRALIA KEMBALI KUNJUNGI BALI

Camat Kota Tabanan, Putu Arya Suta, terlihat hadir dalam acara seminar tersebut. Ia mengaku tertarik dengan budidaya tanaman porang setelah melihat di youtube dan berita dari teman-temannya. “Saya tertarik untuk datang melihat acara ini karena melihat youtube dan berita dari teman-teman, saya juga melihat potensi yang dihasilkan kedepannya, “ujar Arya Suta yang mengaku memiliki lahan di kampungnya seluas 4 ha yang bisa dipakai menanam Porang .

Ni Komang Ary Wariyati yang terlihat hadir sebagai tamu undangan juga berujar keingintahuannya terhadap budidaya Porang, “Saya hadir ingin tahu saja, pemasarannya bagaimana, kemitraannya seperti apa. Kebetulan juga saya ada lahan kopi yang bisa dimanfaatkan, karena di Pupuan (Tabanan) sudah banyak yang menanamnya,” ujar Wariyati.

Penulis: Francelino
Editor: Sarjana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *