1
Sab. Sep 26th, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

1# BINCANG-BINCANG KHUSUS DENGAN DEMER, WAKIL KETUA KOMISI VI DPR RI, SOAL NEW NORMAL

3 min read

DENPASAR-JARRAKPOSBALI.COM – JELANG penerapan new normal, JBM Group mencoba menggali konsep dan pandangan dari pejabat pusat. Salah satu dengan anggota DPR RI yang turut bermain dan mewarnai kebijakan-bijakan yang diambil Presiden. Maka JBM Group berkesempatan bertemu dengan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Gede Sumarajaya Linggih, di kediamannya di Jalan Tunjung, Denpasar, Bali, Selasa (9/6/2020) sore.

Tim JBM Group yang terdiri atas Executive Directur Nyoman Sarjana, pimpinan Kontributor JBM Bali Francelino XXF dan wartawan/cameraman Francelino XFF Junior itu berbincang-bincang cukup lama dengan politisi Partai Golkar tersebut.
Sejumlah pandangan dan kajian disampaikan pria asal Dsa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng yang akrab disapa Demer itu, dalam diskusi santai tersebut.

Menurut kalian Demer berdasarkan analisis WHO bahwa situasi COVID-19 ini masih berlangsung lama. Kenapa demikian? “Berdasarkan WHO, kondisi perbaikan masih lama, bisa sampai 2021, bisa sampai 2022. Karena vaksin belum ditemukan,” jawab Demer.

Nah, ini bukan berarti Indonesia tidak bisa menerapkan kebijakan recovery baru yang dinamakan new normal. Terobosan Presiden Joko Widodo itu harus tetap dilaksanakan karena masyarakat butuh sebuha kehidupan untuk survive menghadapi wabah virus corona (COVID-19) ini. Bahasa sederhana Demer adalah perut masyarakat tidak dijakan bertahan hingga 2021 atau 2022, hingga ditemukan vaksin.

Baca Juga :  INFO POLRI: KAPOSPOL UNGASAN GELAR PERTEMUAN DIALOGIS SOAL PHYSICAL DISTANCING

“Oleh karena itu perekonomian harus dijalankan simultan dengan kesehatan. Jadi, protocol kesehatan tetap kita lakukan kemudian perekenomian dibuka dengan protokol yang ketat,” papar Demer.

“Pasar dibukan pelan-pelan, apakah dengan shift, setengahnya jam 6 sampai 10 lalu setengahnya lagi jam 10 dan seterusny. Sehingga ada social distancing, jarak. Atau barangkali pemerintah penutup jalan untuk sebagian pasar itu, peralatan disiapkan, hand sanitizer disiapkan, cucu tangan disiapkan,” urai politisi yang sudah tiga periode di Senayan itu.

Dengan new normal ini paling perekonomian mulai digerahkan. Aktivitas perekonomian mulai dibangkitkan. Namun saran dia, tetap menghormati penerapan protokosl Kesehatan COVID. “Paling tidak mulai digerakan perekonomian itu. Ole karena itu mau tidak, suka tidak, ini dua sisi mata uang, perekoonimua dan Kesehatan jalan bersama,” ungkapnya.

Demer menyatakan, “Ini dari covid ini kan masker dan jaga jarak, bukan tidak keluar rumah. Selama itu bisa dijaga yang namanya jarak dan pakai masker kann aman-aman saja. Jadi, kita tidak bisa seperti kehidup anyang normal, tapi disebut new normal. Karena memulai kebiasaan-kebiasaan baru memakai masker. Dulu oranng pakai masker dianggap abnormal, tapi nanti kalau orang tidak pakai masker dianggap abnormal. Itu yang terjadi di masa yang akn datang, new normal.”

Baca Juga :  VIRUS CORONA: DI BULELENG 1 POSITIF CORONA, 1 PERAWAT DAN 1 BIDAN JUGA PDP CORONA

Bagaimana implementasi membangkitkan perekonomian nasional? “Kita mulai dari pasar dalam negeri dibuka pelan-pelan. Di Eropa sudah dibuaka sekrang. Itali sudah bisa terbang sekarang, mereka bebas terbang selama ikuti protokol Kesehatan. Pdahal mereka dulu lockdown. Di Bali kita bisa lakukan itu. Kita punya perangkat untuk awasi itu. Dan tidak lama megawasinya, dan saya yakin seyakin-yakinnya maksimum 2 bulan kita mengawasi masyarakat kita, mengajarkan masyarakat kita, mengedukasi masyarakat kita untuk mau menuruti protokol Kesehatan,” jawab Demer.

Terus yang mengawasi? “Siapakah mengawsasi? kita pakeai desa adat, kita minta kepolisian, kita juga bisa minta tentara bila kurang. Ini perekonomian kalau kita tidak buka pelan-pelan, maka kalau jatuh sekali utk kembalinya akan sangat berat. Oleh karena itu saya sangat berharap, protokol kesehatan harus tetap dijalankan, bukan tidak keluar rumah,” jelas Demer panjang lebar.

Mantan Ketua HIPMI Bali dan itu menyadari bahwa masyarakat saat ini dalam situasi sulit dan serba salah. Produk pertanian tidak laku dijual karna demandnya kurang, sementara di sisi lain supply-nya cukup tinggi. “Tadi dikatakan harga produk pertanian jatuh karena memang perputarannya kecil, kita terlockdown, kalau supply dan demand sama kan normal, tapi sekarang supply-nya kebanyakan otomatis harga turun,” urai Demer.

Penulis: Francelino
Editor: Sarjana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *