1
Kam. Sep 24th, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

KOL INF KETUT BUDI ASTAWA: “HARE KRISHNA LANGGAR KEPUTUSAN KEJAGUNG NO 107/1984”

5 min read

BANDUNG-JARRAKPOSBALI.COM – Meningginya suasana di kalangan masyarakat Bali soal polemik keberadaan Hare Krishna (HK) membuat seorang tokoh Hindu yang sudah menasional turut urung pendapat.

Tokoh itu adalah Kolonel Infantri Ketut Budi Astawa, S.Sos, M.Si, mantan Kakanwil Kemenhan Bali.

Dalam sebuah webinar di Bandung, sang kolonel banyak sharing pendapat soal Hindu Dharma yang dianut oleh masyarakat Indonesia dan khusus masyarakat Bali, serta ajaran Hare Krishna yang kini menimbulkan pro-kontra masyarakat penganut agama Hindu Dharma di Pulau Dewata itu.

Kolonel Budi Astawa mengawal sharingnya dengan bercerita seputar aksi protes masyarakat Bali terhadap keberadaan Hare Krishna beberapa hari terakhir ini. Keberadaan Hare Krishna ini dikategorikan sebagai sebuah ancaman non-militer terhadap nusa dan bangsa.

“Sebelum ke jakarta, beberapa Ormas datang ke perwakilan Kemenhan berkaitan dengan Hare Krishna. Ada rumusan ancaman yaitu ada yang nyata ada yang belum nyata. Jenis ancaman itu dibagi tiga yaitu ancaman militer, hibrida dan non-militer.
Ancaman militer dan ancaman hibrida itu kecil kemungkinan terjadi di Indonesia. Karena negara Indonesia tidak ada konflik dengan negara lain,” ungkap Kolonel Budi Astawa.

Kololen kelahiran Singaraja, 23 Januar 1965 itu menegaskan bahwa ancaman yang sudah nyata di depan mata ada ancaman non-militer. Ancaman non-milter itu ada 7 yaitu ancaman terhadap ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, keselamatan umum, teknologi dan legislasi.

“Ancaman yang paling nyata sekarang dan hangat saat ini ada dua hal, yaitu ancaman keselamatan umum yang didalamnya ada pandemi yang sekarang ada corona. Ancama ideologi sejak lama sudah muncul. Ancaman ideologi itu adalah ada sekelompok orang, dia mengatasnamakan Tuhan, mengatasnamakan agama bebruat sesuatu justru menyimpan dari agamanya sendiri untuk kepentingan diri dan kelompoknya,” bebernya.

Bagaimana di Bali? “Di Bali sekarang lagi hangat memang. Semua unsur-unsur Ormas di Bali, ada tokoh agama, tokoh masyarakat, yang langsung WA saya, telpon saya, dan ada yang langsung berbicara dengan saya. Karena saya aparat yang bukan menentukan keputusan, disini saya hanya menyatakan ‘let them think, let them decide’, biarkan mereka berpikir dan biarkan mereka ambil keputusan,” jawab Kolonel Budi Astawa.

Kendati dirinya juga tidak setuju dengan keberadaan ajaran Hare Krishna, namun sebagai aparat pemerintah di bidang pertahanan nasional, ia melakukan komunikasi dan koordinasi dengan padnamun saya sudah terus kontak dengan ida penglinsir tokoh adat, tokoh, masyarakat, PHDI, Ketua MDUP dan lainnya agar bisa meredam masyarakat supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diingingkan.

Baca Juga :  NEW NORMAL: PD PASAR DIMINTA LEBIH INTENS URAI PEDAGANG DI PASAR TRADISIONAL

“Memang ancaman ideologi khususnya yang terkait dengan agama, keyakinan, memang agak rumit. Namun ada negara, ada pemerintah punya kewenangan mengatur hal ini,” tandas perwira menengah TNI-AD dengan pangkat tiga melati di pundak itu.

Nah, kini sang colonel mulai membahas Hare Krishna. Dia menceritakan bahwa keberadaan Hare Krishna di Bali sejak tahun 1980-an. “Karena dilihat masyarakat Bali, pelaksanaan upacara dan upakaranya maupun teologinya memang sangat jauh berbeda sehingga terjadilah konflik di Bali,” ungkap Kolonel Budi Astawa.

Diuraikannya, akibat konflik itu pemerintah turun tangan melalui Keputusan Jaksa Agung RI No. Kep.107/JA/5/1984 tentang larangan peredaran barang‐barang cetakan yang memuat ajaran kepercayaan Hare Krsna di Indonesia. “Dalam keputusan itu sudah jelas disebutkandiadakan pelarangan peredaran buku-buku, simbol-simbol, dan kegiatan Hare Krishna,” ungkapnya.

“Kemudian begitu reformasi, reformasi kebablasan saya katakan, masyarakat menuntut kemerdekaan, kebebasan, kebebasan yang melebihi batas. sesungguhnya UUD sudah mengatur, presiden saja punya kewenangan tidak tak terbatas, ini masyarakat ingin memiliki kewenangan tak terbatas,” paparnya.

“Nah, ketika Presiden Gus Dur memberikan kebebasan berkumpul, berogansiasi, berpendapat, kelompok Hare Krishna memanfaatkan kesempatan itu, peluang itu. Lagi dia (Hare Krsihna) berbuat padahal keputusan Kejaksaan Agung No. Kep.107/JA/5/1984 belum dicaput sampai sekarang, masih berlaku sampai sekarang,” tegas Kolonel Budi Astawa seraya menegaskan bahwa Hare Krishna melanggar keputusan Kejaksaan Agung No. Kep.107/JA/5/1984.

Lalu kenapa ada surat pegakuan dari Ditjen Bimas Hindu buat Hare Krishna? “Kemudian ceritanya saya tidak tahu, memang ada juga Pembimas Hindu di pusat, beliau adalah pentolan Hare Krishan. Beliau mengeluarkan surat itu. Kemudian PHDI juga mengeluarkan perizinan itu, kemudian Kesbangpol juga mencatat keberadaannya. Kesbangpol tidak salah karena dia mencatat sebagai Ormas,” jawab Kolonel Budi Astawa.

“Tetapi berjalan terus sampailah dia (Hare Krishna) merasa merdeka betul, di lapangan bebas. Dan saya sudah beberapa kali diundang menjadi pembicara khususnya pada hari ulang tahun Hare Krishna. Di situ saya sampaikan bhwa doktrin individu atau orangnya yang salah. Menganggap bahwa Kitab Suci Weda hanya satu hanya Bhagawad Gita. Sekarang di sini saya mau sampaikan bagaimana ajaran Hindu dan Hare Krishna . Ajaran agama Hindu yang utuh adalah bahwa Brahman, Tuhan, Sang Hyang Widhi Wasa memberikan wahyu kepada Maharesi lewat Dewa. Wahyu yang diterima Maharesi dihimpun menjadi kitab suci. Kitab suci agama Hindu dibagi menjadi dua, ada lontar tertulis ada lontar tidak tertulis. sehingga wahyu yang diterima tertulis ini dikelompokan menjadi Weda Sruti dan Weda Smerti,” paparnya.

Baca Juga :  VIRUS CORONA: KAPOLDA BALI BAGI-BAGI SEMBAKO KEPADA PELAKU PARIWISATA

Kolonel Budi Astawa menguraikan bahwa Weda Sruti ada Catur Weda dan Panca Weda, Smerti juga ada dua yaitu Wedangga (sadangga), dan Upaweda. “Saya sempat bertanya kepada guru besar dari India dan kelompok Hare Krishan supaya tidak ada salah persepsi apakah Bhagawad Gita dalam Ssruti atau Smerti? Dia jawab Sruti, benar. Saya tanya selanjutnya, mari kita lihat sekarang, Bhagawad Gita itu secuil dari bagian Mahabarata, mestinya dia masuk di Weda Smerti. Guru besar India itu tak bisa jawab,” bebernya.

Kolonel Budi Astawa juga meluruskan pandangan sempit dari kelompok Hare Krishna tentang vegetarian. “Vegetairan itu bukan milik Hare Krishna tetapi milik Hindu murni, tetapi ‘the man behind the religious’. Jadi jangan kita menyalahkan ajaran Hindu atau leluhur, tidak. Kalian sekarang sudah bisa baca sudah bisa belajar kenapa tidak mau baca,” tandas Kolonel Budi Astawa lagi.

Dia juga menyadari bahwa masyarakat Bali yang tergoda oleh ajaran Hare Krishan itu adalah orang-orang tidak pernah belajar tentang agama Hindu, tidak pernah mau membaca lontar-lontar, dan tidak pernah memikirkan kenapa leluhur buat upacara-upakara kayak begitu. “Dia tahu dari orang lain sehingga apa yang diberikan oleh kelompok Hare Krishan itu dianggap benar, itu yang diikuti,” ucapnya.

Ia secara tegas mengkritik kelompok Hare Krishna yang tidak pernah mau membaca buku lain sehingga pandangan mereka tentang ajara Hindu cenderung sempit. “Kelompok Hare Krishna itu tidak mau baca buku lainnya. Dia doktrinnya harus garis perguruan, harus sesuai dengan aslinya yang lain dianggap palsu, sehingga semua pengikutnya tidak boleh membeli buku yang lain. Karena dia penjual buku, biar laris bukunya ya begitu. Ini buku aslinya padahal disitu sudah ada pembelokkan-pembelokkan,” kritik Kolonel Budi Astawa membongkar aib Hare Krishna.

Penulis: Francelino
Editor: Sarjana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *