1
Ming. Sep 27th, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

TRAGIS, TOKOH GOLKAR YANG JADI KORBAN COVID-19 DITOLAK RS DAN YPUH

2 min read

Foto Ist: Almarhum Komang Kertia

SINGARAJA-JARRAKPOSBALI.COM – Ternyata rasa kemanusiaan di masyarakat saat ini sudah luntur bahkan sudah sirna.

Ketika sesama manusia meninggal dunia karena COVID-19, jenazahnya ditolak. Ironisnya, korban COVID-19 ini adalah salah satu tokoh Partai Golkar Buleleng bernama Komang Kertia, 67. Almarhum Komang Kertia berasal Desa Jagaraga Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali.

Sebelum meninggal dunia, Sabtu (08/8/2020) siang, putra dari tokoh Golkar Buleleng ini minta dirawat inap namun ditolak RSU Paramasidi Singaraja karena hasil rapid test menunjukkan reaktif.

“Masuk RS-nya Senin (3/8/2020) dan setelah dirapid test dan hasilnya reaktif, pihak RS merujuk ke RSUD Buleleng,” cerita Sumerdiana, Minggu (09/8/2020) siang terkait penanganan pasien COVID-19 yang dialami amarhum Komang Kertia.

Diceritakan, setelah melakukan rapid test dan hasilnya reaktif, almarhum yang dikenal humanis ini di rujuk ke RSUD Buleleng, dengan kondisi yang sudah sangat lemah. Lalu almarhum menjalani pemeriksaan medis dan pengambilan sample swab di RSUD Buleleng. “Setelah pengambilan sample swab oleh petugas RSUD Buleleng, almarhum diminta menjalani isolasi mandiri. Dengan sangat terpaksa, pihak keluarga membawa almarhum pulang kerumah untuk menjalani isolasi mandiri,” tandas Sumerdiana.

Baca Juga :  FORUM HARMONI BULELENG: TANGKAL RADIKALISME-TEORISME, GENMUD DIMINTA TAK DANGKAL PEMIKIRAN

Bagaimana hasil tes swab? “Hasil test swab yang menunjukkan almarhum positif terjangkit COVID-19 diterima Jumat (7/8/2020),” jawab Sumerdiana.

Sayang, sehari setelah hasil swab diterima, Sabtu (08/9/2020) pukul 11.30 Wita, Komang Kertia pun meninggal dunia. Kematian almarhum ini, langsung dilaporkan ke Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Buleleng. “Tim Pemulasaran Jenasah GTPP juga langsung melakukan penanganan dan membawa jenasah almarhum ke tempat kremasi YPUH Buleleng di Kelurahan Kampung Baru,” ungkapnya.

Sayangnya, lagi-lagi perlakuan tidak manusiawi diperlihatkan pengelola YPUH. Pengelola YPUH menolak melakukan kremasi karena belum menerima surat dari GTPP Kabupaten Buleleng. Karena penolakan tersebut, pihak keluarga memutuskan untuk memakamkan jenasah almarhum di Setra Desa Adat.”Sempat terjadi ketegangan, namun demi almarhum semua dapat diredam,” ujarnya.

Baca Juga :  VIRAL KASUS PERCERAIAN MENINGKAT, TAPI DI BALI TIDAK

Bagaimana tanggapan GTPP COVID-19 Buleleng? Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris GTPP COVID-19 Buleleng, Gede Suyasa, membenarkan kejadian sangat tidak manusiawi itu.

Suyasa mejelaskan, penolakan RS Swasta terjadi karena selain tidak memiliki sarana prasarana penanganan pasien COVID-19, RS bersangkutan juga belum memiliki kualifikasi layak untuk penanganan pasien COVID-19. “Namun demikian, RS bersangkutan tetap diberikan surat tegoran karena sesuai Kepmenkes terbaru, RS Swasta juga harus terlibat dalam penanganan COVID-19,” jelas Suyasa.

Terkait penolakan kremasi terhadap pasien yang meninggal akibat COVID-19, Suyasa menjelaskan, terjadi karena warga masyarakat yang ada di sekitar lokasi kremasi merasa khawatir. “Warga khawatir terpapar COVID-19, padahal sesuai dengan rekomendasi dokter forensik, kremasi adalah cara paling tepat memutus penyebaran COVID-19,” tegasnya.

Penulis: Francelino
Editor: Sarjana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *