1
Sen. Sep 21st, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

GANDENG ARMA UBUD, KAGAMA BALI GELAR PAMERAN LUKISAN KELOMPOK SAPTA PRASASTA “KERTHAMASA”

2 min read

DENPASAR-JARRAKPOSBALI.COM – Wabah pademi COVID-19 tidak membuat daya kreasi dan seni para seminan di Bali, surut. Malah terus berkreasi dan karya.

Sebagai bukti, KAGAMA Bali bekerjasama dengan ARMA Ubud mempersembahkan Pameran Lukisan Kelompok Sapta Prasasta “Kerthamasa”.

Arya Suharja, salah satu penggagas pameran, menjelaskan bahwa pihaknya mengambil tema “Kerthamasa” bukan tanpa makna. Dia jelaskan, secara etimologis “Kerthamasa” bermakna “Masa (-jeda) Demi Kesejahteraan Berkelanjutan”.

Dijelaskannya, konsep Kerthamasa dalam keutuhan paradigma Subak (yang berasal dari kata “subhakarma”, parilaksana becik), lahir dari suatu sistem pengetahuan yang terbangun dari praxis atau pengalaman panjang tradisi pertanian par excellence. Suatu siasat kebudayaan untuk meraih produktifitas optimal dan berkelanjutan dalam mengusahakan pertanian basah di Bali Dwipa, sebuah pulau kecil vulkanis dengan dataran rendah yang sempit.

“Kerthamasa adalah langkah konstruktif dan pro aktif dalam idea pertanian lestari,” tambah Arya Suharja.

Kenapa mengambil teman ini? “Tema ini diambil dari khazanah tatanan tradisi kebudayaan pertanian Bali, menunjuk suatu masa ketika seluruh petani anggota subak di seluruh Pasedahan dan semua Pasedahan Agung di se-antero Bali wajib melakukan jeda menanam padi untuk satu musim tanam, dan menanam palawija,” jawabnya lagi.

Baca Juga :  VIRUS CORONA: DESA ADAT BULELENG TIADAKAN MELASTI

Tujuan jeda ini, ungkap Arya Suharja, adalah untuk memutus siklus hidup hama padi; Merawat daerah tangkapan hujan dan “mengistirahatkan” sumber air demi kesinambungan pasokannya; serta memulihkan kesuburan tanah dengan menanam kacang-kacangan.

“Masa jeda ini tidak akan berhasil kalau ada satu saja petani anggota Subak di suatu Pasedahan melanggarnya. Tradisi ini menegaskan kearifan para Panglingsir kebudayaan Bali terhadap keniscayaan melembagakan satu sistem yang utuh, disiplin sosial, dan pemahaman tentang perlunya pengurbanan (yasakerthi, yajna) dalam mencapai suatu tujuan,” urainya.

Arya Suharja menjelaskan bahwa semangat di balik konsep Kerthamasa sangat relevan di hidupkan di masa kini untuk acuan memahami situasi kekinian yang sedang dialami Bali, Indonesia dan seluruh umat manusia di bumi. “Bahwa alam memiliki hukum dan batas-batasnya, dan manusia mesti melakukan tindakan konstruktif dan pro aktif, mitigasi dan adaptasi di setiap persimpangan yang dilalui perkembangan peradabannya,” papar Arya Suharja.

Baca Juga :  VIRUS CORONA: BUPATI AGUS CABUT STATUS KARANTINA DESA BONDALEM

Ia berpandangan bahwa pandemi ini memaksa umat manusia melakukan jeda, menoleh ke belakang dan menilai langkahnya. “Kerthamasa, periode jeda yang niscaya, saat setiap umat manusia mesti berhenti sejenak menoleh ke belakang, menilai langkah hari ini, dan menata masa depan peradaban,” ungkap dia.

Maka itu, Arya Suharja berpendapat bahwa setiap subjek kebudayaan patut berorientasi dan menentukan kembali arah keadaban dan peradabannya demi mencapai kesejahteraan manusia dan semesta.

“Presentasi Kelompok Sapta Prasasta dalam pameran ini adalah respon mereka atas situasi batas dan tawaran yang lahir dari “Tiwikrama” di studio masing-masing di tengah Pandemi Covid 19 ini,” pungkasnya.

Penulis: Francelino
Editor: Sarjana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *