Berita

Patut Diketahui Bagi Umat Hindu, Ini yang Harus Dilakukan Terhadap Lungsuran Yadnya 

DENPASAR,Jarrakposbali.com | Tiga kerangka dasar Umat Hindu di dalam menjalankan kehidupan meliputi, Tatwa ( filsafat), Susila(etika) dan Ritual (upacara).

Dari ketiga kerangka dasar tersebut, yang paling sering dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari bagi umat Hindu di Bali adalah kegiatan Ritual atau upacaranya.

Kegiatan retual/upacara di Bali memang menjadi salah satu ciri khas masyarakat Bali yang sekaligus menjadi daya tarik wisatawan.

Namun dalam melaksanakan kegiatan upacara, terutama dalam upacara besar masih ada yang mengabaikan hal-hal yang seharusnya tidak dianggap sepele.

Salah satunya yaitu masalah membuang sampah sisa dan sampah bekas upacara yang dibuang tidak pada tempat yang tepat.

Terkait hal tersebut, Jro Mangku Alas Arum, Abiansemal kepada jarrakposbali.com mengatakan, bila habis melaksanakan upacara yadnya hendaknya jangan sekali- kali membuang sembarangan, seperti ke pangkung, ke jalan, apalagi ke sungai.

  Jarrak Travel

“Secara sekala itu jelas mengganggu lingkungan dan orang sekitar, bahkan itu sudah melanggar undang-undang normatif dengan ancaman hukum pidana,” jelasnya.

Lalu secara niskala menurutnya, itu pasti mengurangi nilai yadnya yang dipersembahkan dengan biaya besar. Dan yadnyanya tidak bisa dikategorikan Satwika Yadnya meski sudah merasa melakukan dengan ikhlas.Yadnya yang telah dipersembahkan akan menjadi ternoda.

Juga membuang lungsuran (bekas yadnya) sembarangan akan menambah dosa. Bila dibuang ke laut Dewa Baruna akan murka. Begitu juga kalau dibuang ke sungai, Dewi Gangga akan marah dan akan menebarkan berbagai penyakit.

Baca Juga :  Patut Dicontoh! Maanfatkan Lahan Tidur, Polres Badung dan BWC Bagikan Bibit dan Pupuk di Subak Tungkub

Jadi, bila ingin pengorbanan suci tidak sia-sia dan bernilai tinggi, menurut Lontar Yajur Weda Samhita, tanamlah sisa dan bekas yadnya tersebut di pekarangan rumah

Ini akan menjadi pupuk dan kekuatan magis di pekarangan. Beda dengan Upacara Pitra Yadnya saat kita nganyut ke segara (laut) yang memang harus dihanyutkan ke laut untuk membuang sarwa mala (segala kotoran).

Sementara itu, Penglingsir dari Gianyar Ida Bagus Armita menyampaikan, secara umum memang budaya membuang sampah pada tempatnya masih rendah, dianggap hal yang sepele. Mereka enggan membuang sampah pada tempat atau di lokasi tertentu yang sudah disiapkan.

“Dan mengenai sampah yadnya hendaknya harus lebih bijak menangani karena yadnya itu bermakna pengorbanan suci yang tulus ikhlas,” terangnya.

Karena itu diperlukan kesadaran agar yadnya benar- benar suci, perasaan ngedumel dari orang yang merasa dirugikan karena ulah membuang sisa yadnya sembarangan, palagi sampai dihujat, mengakibatkan yadnya ternoda.

“Untuk itu mari kita mulai diri kita sendiri untuk mulat sarira, eling, sadar. Sehingga dengan begitu yadnya yang kita persembahan mempunyai nilai spirit yang tinggi,” imbuhnya.

Baca Juga :  Bupati Tabanan Apresiasi Semangat Persatuan Warga Tunjuk dalam Melaksanakan Upacara Ngaben Masal

Hal senada juga disampikan oleh Ida Bagus Putu Alit Saskara dari Geria Gede, Sangeh. Menurutnya, konsep krama Hindu Bali sangat sederhana. Sampah yadnya yang berupa bunga dan dedaunan biasanya kita buang ke tegalan atau di areal di belakang rumah sebagai pupuk alami, kecuali sampah non-organik dipisahkan.

“Kalau sampai kita membuang sampah tersebut ke pangkung atau sungai, maka akan sia-sia Puja Mantra Ida Pedanda yang diawal yadnya memuja Dewa Wisnu. Ketika bau busuk bekas ayam caru dan semua bekas sarana upacara yadnya dibuang ke pangkung/ sungai, yadnya yang dibikin begitu besar akan menjadi sia- sia,” tegasnya.

Untuk itu sampah bekas yadnya jangan sampai merusak alam, mengganggu dan mencemari lingkungan dan mengganggu orang di sekitar. Layang-layang (hewan bekas caru) hendaknya dipendam di tempat mecaru.

“Lungsuran (sisa persembahan) berupa makanan hendaknya kita makan atau dibagikan kepada yang membutuhkan. Karena makan sisa persembahan adalah hal yang mulia, sedangkan makan makanan yang tidak kita persembahkan terlebih dulu, itu adalah dosa,” imbuhnya.

Demikian juga sehabis sembahyang di pura jangan pernah membiarkan sampah bekas persembahyangan berserakan karena itu juga bagian dari Bhakti.(x)

Penulis : Bratayasa

Editor : Dewa Darmada

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: