1
Ming. Sep 20th, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

Cerita Dibalik Nasi Goreng

1 min read

JARRAKPOSBALI – Pada tahun 1995-an saya tinggal di perumahan Pasir Jati, Ujung Berung-Bandung. Saya menyewa rumah pada seorang pensiunan tentara asal Tabanan-Bali. Sewa rumah Rp 600 ribu setahun. Keluar-masuk kompleks perumahan saya menyewa ojek Rp 500 sekali. Saya pulang pergi ke kantor naik angkutan kota (angkot).

Sore hari warung nasi goreng buka di seberang jalan masuk perumahan. Sekali makan harga nasi goreng murah. Di depan di sebelah jalan masuk perumahan sore hari ada orang jualan martabak. Ada dua jenis martabak yang tersedia yaitu martabak manis dan martabak telur. Martabak ini mahal.

Baca Juga :  ESAI POLITIK: NYOMAN TIRTAWAN, TOKOH PENYELAMAT RP 98 M, TERHEMPAS OLEH SISTEM PEMILU YANG KOTOR

Pensiunan tentara induk semang saya dulu menikah dengan sepupunya dan punya dua putri dan seorang putra. Istrinya membuka warung untuk melayani pembeli di kompleks perumahan berupa sayuran dan bumbu dapur kebutuhan sehari-hari. Pensiunan TNI ini agak tertutup sehingga hanya sedikit yang saya ketahui jati dirinya. Yang jelas orang tua ini sebelum pensiun tugasnya di Yon Zipur Ujung Berung. Apa persisnya posisinya  tidak ada orang yang boleh tahu.

Baca Juga :  VIRUS CORONA: TIGA ANGGOTA POLSEK SUKASADA POSITIF CORONA

Saya punya sedikit posisi yang lebih baik sehingga bisa sewa rumah di sana. Saya masuk ITB lewat ujian tulis sipenmaru pada tahun 1987. Setelah lulus tahun 1992 saya mulai magang jadi peneliti muda di PAU Mikroelektronika ITB. Honornya cukup untuk hidup sebulan sebagai lulusan sarjana S-1.

 

Penulis : I Wayan Budiartawan
PAU Mikroelektronika ITB
1991-1997

Editor : Lle

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *