1
Ming. Sep 20th, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

KASUS ANAK DI BAWAH UMUR KORBAN AJANG POLITIK: IBU KORBAN DESAK POLISI TANGKAP SOMVIR

3 min read

SINGARAJA-JARRAKPOSBALI.COM – Ketika Polres Buleleng terus berupaya “melindungi” orang yang disebut-sebut actor pelibatan anak di bawah umur dalam kegiatan politik hingga anak yang jadi korban itu trauma, kini ibu korban Komang NS, mulai blak-blakan tentang identitas tokoh kebal hukum yang diduga kuat diback-up oknum polisi.

Made Sudiari, ibu korban Komang NS, mendesak polisi untuk segera menangkap pelaku yang bernama Somvir yang telah melibatkan anak di bawah umur dalam kegiatan kampanye politiknya saat menjadi caleg 2019 lalu.

Sudiari menyampaikan desakan itu saat mendatangi Unit PPA Satreskrim Polres Buleleng, Jumat (21/8/2020) mendampingi putranya Komang NS bersama pengacaranya Gede Astawa untuk memberikan keterangan tambahan.

Sudiari menyampaikan desakannya dalam sehelai kertas dengan tulisan tangan. Berikut desakan Sudiari dalam surat tulis tangan tersebut:

“Pak polisi, saya sebagai ibu Komang sangat kawatir dengan nasib dan masa depan anak saya. Pasca viral di medsos, anak saya ditabrak lari dengan luka di seluruh tubuh, untung tidak merenggut nyawa anak saya. Bahkan sering didatangi orang berbadan besar. Anak saya mengaku merasa sangat cemas dan kawatir bila keluar sendirian atau bepergian.
Tanggal 10 Agutsus kemarin saya periksakan Kesehatan anak saya di RSUD Buleleng dan ternyata dokter memvonis anak mengalami gangguan depresi bercampur cemas.
Saya harap pak polisi tangkap pelaku kejahatan yang sudah saya laporkan tanggal 10 Juli di Polres Buleleng yaitu Somivir.”

Baca Juga :  VIRUS CORONA: SEKPROV DEWA INDRA TINJAU RAPID TEST MASSAL DI PASAR GALIRAN SEMARAPURA

Sudiari menyatakan bahwa Ketut Adi Gunawan mengajak anaknya Komang NS untuk mengikuti yoga di tempat DR Somvir di Lovina. “Kalau untuk politik pasti tidak ajak anak saya. Karena Adi ajak anak saya hanya untuk yoga. Setelah yoga baru orang yang Namanya Somvir itu mengumpulkan mereka untuk mencari suara bagi dia pada pemilu kemarin,” beber Sudiari

Sementara penasehat hukum korban, Gede Astawa, SH, menjelaskan bahwa kehadirannya kliennya di Unit PPA Satreskrim Polres Buleleng untuk memberikan keterangan tambahan.

“Memberikan keterangan tambahan saja, siapa yang ajak kesana. Dan sudah dijelaskan bahwa yang mengajak ke sana adalah Adi Gunawan, namun yang menjelaskan masalah pemilihan dan apa itu, dia (korban Komang NS) menyebut DR Somvir, dengan menyebut pilih lihat nomor 5 cari nomor 10 pilih saya DR Somvir,” jelas Astawa.

Astawa menyebutkan bahwa dengan bukti yang sudah diserahkan kepada penyidik seperti kartu pemilih, surat keterangan evaluasi Kesehatan korban, sudah selayaknya polisi sudah harus menetapakn tersangka. “Dari kacamata saya, sudah layak sebenarnya dijadikan tersangka. Karena pelakunya sudah jelas. Dia (DR Somvir) melakukan sendiri. Kalau yang mengajak kesana, hanya mengajak yoga saja, bukan mengajak untuk melakukan kegiatan politik. Nah, setelah yoga, mereka ditahan di sana diberitahu cara memilih dirinya. Dan korban Komang NS menyatakan bahwa dia menyebut dirinya Somvir. Darimana kenal, karena dia menyebutkan dirinya Somvir, pilih saya DR Somvir,” jelasnya.

Baca Juga :  NARKOBA: ROY KIYOSHI DITANGKAP POLISI

Bagaimana tanggapana kepolisian? Kasubbaghumas Polres Buleleng, Iptu Gede Sumarjaya, SH, bahwa kasus ini masih dalam penyelidikan dan sekitar 5 saksi telah dimintai keterangan oleh penyidik Unit PPA Satreskrim Polres Buleleng.

Menjawab pertanyaan wartawan, Sumarjaya menyatakan bahwa alat bukti sesuai pasal 184 KUHAP itu nanti di pengadilan. “Bukan berarti dua barang bukti yang ditemukan itu sudah memenuhi unsur sebagaimana diatur dalam pasal 184, tidak. Terbukti atau tidaknya barang itu nanti setelah diucapkan di persidangan. Kalau di penyelidikan dan penyidik itu proses pemeriksaan, mengumpulkan semua keterangan, mengumpulkan semua barang bukti apa dari semua barang bukti yang ada dan keterangan yang ada bersesuaiannya, apakah keterangan bersesuaian itu merupakan sebuah tindak pidana. Proses penyelidikan belum ditentukan siapa yang bertanggung jawab,” jelas Sumarjaya.

Penulis: Francelino
Editor: Sarjana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *