1
Sen. Sep 21st, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

VIRAL KASUS PERCERAIAN MENINGKAT, TAPI DI BALI TIDAK

3 min read

DENPASAR-JARRAKPOSBALI.COM – Dampak Pandemi COVID-19 yang tengah melanda hampir semua belahan dunia saat ini ternyata juga memberikan dampak yang signifikan terhadap keutuhan hubungan suami istri di beberapa kota dan daerah di Indonesia yang berujung pada gugatan perceraian.

Sebut saja salah satu contoh real, ada viral video antrean pasangan pasutri yang mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama di Bandung.

Tercatat dalam seharinya mencapai 150 pasangan suami-istri yang mengajukan gugatan cerai di Kota Kembang tersebut.Belum lagi di kota-kota besar di Indonesia yang dihuni oleh pasangan celebrities, perceraian sepertinya bukan sesuatu yang memalukan, tapi justru dianggap sebagai trend dan dengan bangganya memamerkan di media.

Lalu,bagaimana dengan di Bali? Bali yang notabene masyarakatnya mayoritas beragama Hindu di mana prosesi upacara pernikahannya sarat dengan banten (sarana upacara) dengan ikatan adat dan budaya yang kuat?

Kepala Bidang Catatan Sipil Kabupaten Badung, Putu Yudiatmika, menjelaskan bahwa di Bali khususnya di Kabupaten Badung angka perceraian pasutri selama pandemi tidak ada peningkatan.

“Kalau kita di Bali yang mayoritas beragama Hindu di mana kasus perceraian diselesaikan di pengadilan yang biayanya relatif besar sehingga walaupun ada masalah besar dalam rumahtangganya belum tentu mereka mengajukan gugatan cerai sehingga tidak ada peningkatan perceraian selama pandemi ini. Selama sebulan paling-paling ada dua atau tiga kasus.Itu pun biasanya karena masalahnya terlalu parah,” terang Yudiatmika.

Baca Juga :  ILEGAL LOGING SANGGALANGIT MULAI DIGARAP POLRES, TAPI BARU PENYELIDIKAN

Sementara tokoh masyarakat Sanur, Ida Bagus Partama, mengatakan bahwa rendahnya angka perceraian di Bali karena ikatan batin orang Bali lebih kuat dan percaya dengan adanya hukum karma dari leluhur. “Apabila sudah punya anak akan ada ikatan orangtua dengan anak, ikatan adat dan rasa malu dengan kehidupan sosial yang memberi efek positif dalam mengupayakan menjaga keutuhan keluarga,” papar IB Partama.

Kemudian praktisi hukum sekaligus Wakil PHDI Bali,I Wayan Pasek Sukayasa, ST.SH, berpendapat bahwa masalah pawiwahan (perkawinan secara Hindu) merupakan hal yang amat sakral. “Ya, benar.Pawiwahan (perkawinan) adalah sesuatu yang sangat disakralkan, bahkan keturunannya nantinya bukan sekedar sebagai ahli waris, tapi mutlak menjadi penerus waris. Dengan begitu pasutri akan membangun komitmen yang kuat dalam menjaga keutuhan rumah tangga mereka,” ungkap Sukayasa.

Kata dia lagi, “Di samping itu,dalam prosesi perkawinan melibatkan berbagai unsur baik itu ritual berupa berbagai sarana upacara lengkap,juga menyangkut harga diri kedua belah pihak keluarga yang tidak membenarkan terjadinya perceraian.Kalaupun ada masalah dalam rumah tangga itu hal yang wajar,namun hal itu bisa ditekan karena dirumah itu ada anak,keluarga,merajan(pura keluarga) dan kehidupan sosial.”

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua PHDI Provinsi, Prof.Dr.Drs.I Gusti Ngurah Sudiana,M.Si. “Astungkara kita di Hindu jumlah perceraian pasutri sangat jarang terjadi karena saat upacara pawiwahan sudah diambil sumpahnya untuk setia sehidup-semati untuk melahirkan keturunan yang suputra(anak-anak yang berbakti),” urainya.

Baca Juga :  VIRUS CORONA: HARGA SAYUR ANJLOK, PAKAI UANG PRIBADI, BUPATI TABANAN SELAMATKAN PETANI SUBAK BENGKEL

Kemudian, jelas Prof Sudiana, ada prosesi mepamit (mohon izin pindah ke rumah suami) di merajan, pura kawitan, dan pura yang lain yang secara niskala ada ikatan batin menguatkan tekad membangun bahtera kehidupan baru. “Juga dalam perceraian di dalam Hindu kan tidak cukup secara sekala lewat pengadilan yang bikin aib keluarga,tapi harus juga dilaksanakan secara niskala melalui proses upacara.Kan biasanya bila ada masalah keluarga pihak orang tua kedua belah pihak saling memberi tutur(nasihat) sehingga didapatkan win-win solution,” sambungnya.

Prof Sudiana menguraikan bahwa perkawinan di Hindu ada istilahnya Tri Upa Saksi, yaitu Dewa Saksi (disaksikan oleh Tuhan), Manusa Saksi (disaksikan oleh masyarakat),dan Bhuta Saksi (disaksikan oleh makhluk halus). Hal ini juga sangat luar biasa dampak psikologinya.

Ditanya mengenai jumlah perceraian di Bali selama pandemi, iamengatakan, justru saat situasi seperti ini kecenderungan akan berkurang.”Tiang kira kalau di umat Hindu justru kecenderungan akan berkurang kasus perceraian.Pasutri cenderung akan mulat sarira dengan menjaga hati dan perasaan pasangan,anak,keluarga. mana situasi sudah krisis begini,lagi ada masalah perceraian,kan seperti pepatah,sudah jatuh tertimpa tangga pula? Ya,semoga kita semua eling ring raga(sadar dengan diri) untuk saling asah dan saling asih sehingga tetap terbina kerukunan berumah tangga,” pungkas Prof Sudiana.

Penulis: Beratayasa
Editor: Francelino

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *