1
Sab. Sep 19th, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

VIRUS CORONA: DESA ADAT BULELENG TIADAKAN MELASTI

2 min read

SINGARAJA-JARRAKPOSBALI.COM – Wabah virus corona atau COVID-19 membuat kegiatan spiritual di Desa Adat Buleleng batal dilaksanakan. Seperti kegiatan melasti yang jatuh pada tanggal 7 April 2020 mendatang.

Dibatalkannya melasti kali ini juga membuat catatan sejarah. Menurut Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna bahwa dibatalkannya melasti ini merupakan yang pertama kalinya dalam satu abad terakhir ini.

Kata mantan Kadispar Buleleng itu, kegiatan melasti direncanakan bakal digelar tanggl 7 April bertepatan dengan Purnama Kedasa. Namun karena kondisi terkini akibat wabah virus corona ini sehingga pihaknya memutuskan tidak digelar melasti.

Ini diputuskan dalam paruman di secretariat Desa Adat Buleleng, Jumat (27/3/220) yang melibatkan perwakilan Tridatu, Pemangku Kahyangan Tiga, dan perwakilan prajuru.

Baca Juga :  VIRUS CORONA: PASIEN SEMBUH DI BULELENG CAPAI 78 PERSEN

Paruman tersebut, beber Sutrisna, menghasilkan tiga point yang meliputi melasti tanggal 7 April 2020 bertepatan Purnama Kedasa ditiadakan atau mepamit. Selanjutnya pada pura kahyangan tiga akan dilaksanakan ngaturang guru piduka pada pukul 10.00 Wita.

Sutrisna menguraikan, sementara untuk masing-masing panti, dadia/ merajan dan pemaksan dilaksanakan guru piduka setelah menerima tirta kahyangan tiga dari masing- masing banjar adat.

“Keputusan ini setelah mempertimbangkan beberapa dasar hukum di antaranya SK BNPB Pusat Nomor 13 A tentang perpanjangan status darurat wabah penyakit akibat virus corona hingga tanggal 29 Mei 2020, Maklumat Kapolri serta Awig- Awig Desa Adat Buleleng nomor 1 tahun 2013 Pasal 55 dan Pasal 112,” tegasnya.

Baca Juga :  VIRUS CORONA: STATUS TANGGAP DARURAT MASIH MENGACU PADA KEPUTUSAN PUSAT

Sutrisna menjelaskan bahwa melasti dilaksanakan Desa Adat Buleleng setelah hari suci Nyepi. Dasarnya adalah lontar Sundarigama dan lontar Aji Swamandala.

“Tujuannya, ngiring Prawatek Dewata atau mengingatkan umat untuk meningkatkan bakti kepada Ida sanghyang Widhi Wasa, Anganyutaken laraning jagat atau membangun kepedulian untuk mengentaskan penderitaan masyarakat, Anganyutaken papa klesa atau menguatkan diri dengan membersihkan diri dari kekotoran rohani serta Anganyut aken letuhan bhuwana atau bersama-sama menjaga kelestarian alam,” pungkas Sutrisna yang sewaktu masih berdinas di Pemkab Buleleng menjabat beberapa jabatan penting seperti Kadis Perikanan dan Kelautan, Kadisbudpar, dan Kadispar.

Penulis: Junior
Editor: Francelino

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *