Berita

MERANGKUL MANTAN NARAPIDANA, MELAWAN STIGMA NEGATIF SEBAGAI MANTAN NARAPIDANA

Penulis : Desak Ayu Wida Pratia Wijaya, M.Psi, Psikolog

DENPASAR, jarrakposbali.com ! “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga”. Sebuah peribahasa yang tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Peribahasa yang memiliki makna bahwa satu kesalahan dapat menyebabkan semuanya salah. Menarik untuk mengaitkan peribahasa tersebut dengan status sosial yang disandang oleh mantan narapidana. Oleh karena satu kesalahan yang mereka lakukan, semua hal-hal baik yang pernah mereka lakukan seakan terlupakan. Kehidupan mantan narapidana seringkali dipandang negatif. Pandangan negatif tersebut muncul kedalam fenomena ketidakadilan masyarakat pada stigma negatif yang kuat menempel sebagai mantan narapidana yang memiliki catatan sebagai pelaku tindak kriminal. Label “narapidana” serta stigma yang diberikan masyarakat terhadap mereka tak jarang menghambat dan mempersempit ruang gerak mantan narapidana tersebut. Sanksi hukum yang mereka dapat ditambah dengan sanksi sosial dari masyarakat membuat beban psikologis narapidana bertambah.

Stigma merupakan seperangkat keyakinan negatif yang dimiliki seseorang untuk mendasari ketidakadilan yang dimiliki sekelompok orang tentang sesuatu (Merriam-Webster, 2019). Van Brakel dalam Fiorillo, Volpe, dan Bhugra (2016) mengungkapkan ada lima tipe stigma, yaitu: Public Stigma, Structural Stigma, Self-stigma, Felt or Perceived Stigma, dan Experienced Stigma. Jika melihat diantara lima tipe stigma yang mungkin terjadi pada mantan narapidana, terdapat dua kemungkinan besar stigma yang bisa terjadi kepada mantan narapidana yakni Public Stigma dan Self Stigma. Public Stigma adalah reaksi negatif berasal dari keluarga, orang terdekat, dan masyarakat terhadap mereka yang mengalami stigmanisasi. Self stigma adalah perasaan takut dengan kondisi sendiri yang berasal dari pandangan negatif masyarakat, mereka merasa keberadaannya merupakan golongan yang tidak disukai, cap buruk masyarakat dianggap benar, serta bentuk internalisasi dari masyarakat mengakibatkan mantan narapidana menerapkan stigma untuk diri sendiri yang dapat merusak kesejahteraan mental mantan narapidana.

Baca Juga :  RAZIA GEPENG: 24 GEPENG DI BULELENG TERJARING RAZIA

Bagi mantan narapidana yang sudah bebas atau keluar dari Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) dan Rutan (Rumah Tahanan Negara) tidak mudah untuk kembali dan berbaur di tengah masyarakat. Meskipun bebas, mantan tahanan atau narapidana tersebut tetap dianggap orang cacat sosial dan sampah masyarakat karena perilaku pidana yang pernah dilakukan.Dengan adanya fenomena tersebut menimbulkan masalah-masalah lain yang dapat merugikan baik mantan narapidana itu sendiri maupun kedua pihak. Stigma ini dapat mengakibatkan adanya perilaku diskriminasi, yang berakibat self-esteem semakin rendah. Akibatnya narapidana tidak mampu berjuang dan bertahan hidup ditengah masyarakat. Melakukan kejahatan kembali menjadi satu-satunya cara untuk mempertahankan hidup. Seakan mantan narapidana tersebut tidak diberikan kesempatan lagi oleh masyarakat untuk berubah jadi lebih baik. Padahal mantan narapidana sangat membutuhkan penerimaan dari masyarakat. Tanpa penerimaan, narapidana justru bisa kembali melakukan hal-hal negatif. Namun, dengan penerimaan dari keluarga dan masyarakat, mantan narapidana bisa diperdayakan. Ketika masyarakat mengakuinya mereka bermanfaat dan banyak yang bisa dilakukan

Undang-undang Nomor 12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan mengamanatkan narapidana yang menjalani pidana dalam lembaga pemasyarakatan mendapatkan pembinaan reintegrasi tentu saja dengan mempersiapkan narapidana dengan pembinaan kepribadian dan keterampilan Tidak hanya itu, Lapas selalu mencoba mencetak orang-orang produktif setiap harinya, tentunya dengan berbagai macam pembinaan dan kemandirian dan kepribadian yang diberikan. Belum lagi setelah keluar dari penjara, adalah tugas Bapas (Balai Pemasyarakatan) yang melanjutkan tugas pembinaan dengan melakukan pembimbingan kemandirian dan kepribadian bagi narapidana yang memperoleh reintegrasi sosial. Bukan tanpa sebab berbagai kegiatan ini dilakukan, namun untuk memberikan pemahaman kepada warga binaan bahwa kelak mereka bisa berguna di masyarakat.

Mengatasi stigma yang terlanjur melekat memang bukan perkara mudah. Masyarakat cenderung melihat sisi buruknya saja. Namun, ada beberapa cara yang dapat dilakukan mantan naraoidana untuk mengurangi stigma negatif tersebut. Ungkapkan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik kepada orang terdekat. Tunjukan perubahan sikap sehari-hari bahwa kita ingin dan telah berubah. Ikuti kegiatan sosial yang ada di masyarakat agar mereka melihat perubahan yang kita lakukan. Biarkan saja mereka yang tetap memandang sebelah mata kepada kita dan jangan pedulikan mereka yang bersikap sinis. Buktikan pada masyarakat bahwa kita bisa berubah dengan karya dan prestasi.

Baca Juga :  Tingkatkan Profesionalisme Anggota Polri, Provos Polda Bali Lakukan Giat Gaktibpin di Polres Badung
  Jarrak Travel

Adapun kita sebagai masyarakat harus mulai mengubah mind set kita tentang mantan narapidana. Alih-alih berprasangka buruk, lebih baik untuk merangkul mereka para mantan narapidana. Untuk itu, hal-hal yang perlu diperhatikan oleh masyarakat tempat mantan narapidana itu kembali antara lain adalah menjunjung tinggi sikap toleransi terhadap mantan narapidana. Berikan kesempatan bagi mantan narapidana untuk menunjukkan perubahan yang positif. Kita harus menyadari bahwa setiap orang memiliki masa depan, terlepas dari seburuk apapun masa lalunya serta tunjukkan sikap terbuka agar mantan narapidana dapat kembali beradaptasi dengan masyarakat.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Fiorillo, A., U. Volpe dan D. Bhugra. (2016). Psychiatry In Practice. Italy : Oxford University Press.

 

Webster, Merriam. 2019. Merriam Webster’s Collegiate Dictionary. United States of America: Merriam Webster Incorporated.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: