Berita

RESENSI BUKU REINTEGRASI SOSIAL KLIEN PEMASYARAKATAN BAPAS KELAS I DENPASAR

“NUR WIJAYANTI”

Penulis: Gede Budi Astawa, S.Psi

 

DENPASAR, jarrakposbali.com ! “Buku Ini Di Dedikasikan Untuk Seluruh Pembimbing Kemasyarakatan Dan Pemerhati Pemasyarakatan Di Seluruh Indonesia, Nur Wijayanti, 2022”

Sesuai Undang-undang No. 12 Tahun 1995, Balai Pemasyarakatan Kelas I Denpasar yang saat ini dipimpin oleh Ni Luh Putu Andiyani, Amd.,IP.,S.H.,M.H. merupakan Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Ham Wilayah Bali.

Bapas Denpasar merupakan ujung tombak pemasyarakatan dalam memulihkkan kesatuan hubungan hidup, kehidupan, dan penghidupan Warga Binaan Pemasyarakatan yang telah bebas yang selanjutnya disebut Klien Pemasyarakatan.

Balai Pemasyarakatan memiliki 6 (enam) tugas pokok dan fungsi penting antara lain: Pembuatan Litmas, Pembimbingan Klien, Pendampingan, Pengawasan, Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP), dan Pengadministrasian Ketatausahaan.

  Jarrak Travel

Nur Wijayanti, salah satu dari 46 pejabat fungsional penegak hukum pembimbing kemasyarakatan pada Bapas Kelas I Denpasar, dilahirkan di kota pendidikan, Yogyakarta.

Beliau dilantik resmi sebagai pembimbing kemasyarakatan pada tahun 2020 diumurnya yang ke -30 tahun, sempat menjadi bagian dari PT. HM Sampoerna selama empat tahun.

Namun memilih mendedikasikan dirinya dan melabuhkan darma baktinya pada Kementerian Hukum Dan Ham Republik Indonesia.

Melalui Buku yang berjudul “Reintegrasi Sosial Klien Pemasyarakatan Balai Pemasyarakatan Kelas I Denpasar” beliau ingin membagikan pandangan terkait reintegrasi sosial yang merupakan sebuah proses terpenting bagi narapidana yang menjalani integrasi sosial di tengah-tengah masyarakat yang selanjutnya narapidana tersebut disebut Klien pemasyarakatan.

Berdasarkan data Sistem Data Base Pemasyarakatan (SDP) yang telah tercantum dalam buku tersebut, saat ini terdapat 5320 narapidana dewasa yang masuk ke dalam program reintegrasi sosial Klien Bapas Denpasar tahun 2000-2022.

Pada tahun 2021-2022 terdapat 1438 narapidana diantaranya 142 narapidana perempuan dan terdapat 1296 narapidana laki-laki.

Reintegrasi sosial merupakan sebuah proses yang melibatkan Pembimbing Kemasyarakatan (PK Bapas) yang bertugas melakukan pembimbingan dan pengawasan sehingga Klien mampu pulih seperti semula.

Baca Juga :  Heboh Kasus Penculikan Anak di Jembrana, Polisi Berhasil Bekuk Pelaku Kurang dari Satu Jam

Dengan demikian, sejalan dengan filosofi Pemasyarakatan bahwa tujuan pemidaan tidak semata-mata melindungi masyarakat, tetapi juga melindungi pelanggar hukum.

Proses Reintegrasi Sosial Klien Bapas Denpasar meliputi : Penelitian Kemasyarakatan, Pendampingan, Bimbingan dan pengawasan Klien dalam rangka reintegrasi sosial.

 

 

Proses pembimbingan yang dilakukan oleh Bapas Denpasar terhadap Klien Pemasyarakatan merupakan tindak lanjut dari program pembinaan yang telah diterimanya ketika berada di dalam Lapas/Rumah Tahanan.

Namun yang membedakan adalah Klien tersebut telah kembali berkumpul bersama keluarganya dan berbaur dengan masyarakat lainnya dan tetap melaksanakan kewajiban bimbingan konseling, tahap ini disebut tahap pertama atau tahap awal.

Setelah bimbingan awal, kemudian Klien memiliki kewajiban melaksanakan tahap bimbingan lanjutan lebih fokus pada pemberian bimbingan kemandiran (sesuai jenis keterampilan, minat dan bakat Klien) sehingga Klien mampu menyalurkan potensi-potensi yang ada dalam dirinya menjadi profesi untuk memenuhi kebutuhan hidup Klien.

Setelah tahap lanjutan ini dilaksanakan kegiatan pengawasan, dimana PK Bapas melakukan penilaian terhadap kegiatan Klien yang berhubungan dengan (Karir atau pekerjaan, keahlian Klien, hubungan Klien dengan keluarganya, hubungan Klien dengan masyarakat, serta dengan Tuhannya).

Pentingnya pengawasan dalam memastikan tercapainya tujuan perawatan tahanan, pembinaan, dan pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) harus didukung kapasitas Pembimbing Kemasyarakatan (PK) yang memadai agar peran pengawasan dilaksanakan secara optimal.

Dalam peningkatan kapasitas PK, khususnya dalam pengawasan, perlu adanya pendampingan/panduan teknis dalam melaksanakan praktik pengawasan agar sesuai standar dan ketentuan tentang pelaksanaan tugas dan fungsi pengawasan.

Selain itu, dalam buku ini juga diulas, yaitu pentingnya Aksi Sosial (dalam seorang Pembimbing Kemasyarakatan, aksi sosial terwujud dalam proses pembimbingan, pendampingan, dan pengawasan terhadap klien).

 

Penelitian Kesejahteraan Sosial (dalam seorang Pembimbing Kemasyarakatan, melakukan penelitian kemasyarakatan (litmas) sebagai keluaran (output) atas amanat perundang-undangan), serta Tata Laksana Kesejahteraan Sosial (dalam seorang Pembimbing Kemasyarakatan, perlu diinventarisir berbagai peraturan perundang-undangan sebagai kekuatan argument dalam membuat litmas.

Baca Juga :  Final ! Tarif PPH Jasa Konstruksi Turun

 

 

Hal ini dilakukan guna sebagai media pengontrolan diri klien agar di masa yang akan datang klien tetap terus konsisten dengan perubahan baik yang terjadi serta tidak melakukan kejahatan atau tindak pidana yang sama.

 

Dimana kedua hal tersebut sangat mempunyai impact yang besar bagi tercapainya atau terpenuhinya keberhasilan dari proses reintegrasi sosial itu sendiri.

 

Untuk itu, upaya maksimal perlu dilakukan pada setiap kegiatan atau program serta dalam setiap metode yang dijalankan.

 

Tentunya, untuk terpenuhinya upaya maksimal yang diberikan perlu jangka waktu yang lama dan panjang. Karena, tugas ini merupakan tugas bersama yang harus dijalankan dan berkontribusi dengan banyak pihak.

 

Masyarakat dan keluarga salah satu poin penting suksesnya reintegrasi sosial seorang klien pemasyarakatan atau tindak pidana. Diharapkan dengan mengetahui pentingnya setiap tahapan reintegrasi sosial klien dapat membuka mata dan menyadarkan kembali kepada masyarakat bahwa klien pemasyarakatan atau narapidana sangat perlu dirangkul dan dijaga sebaik-baiknya untuk menciptakan kerukunan dan hubungan yang baik antara masyarakat dengan klien pemasyarakatan atau narapidana.

 

Daftar Pustaka:

Wijayanti, Nur. 2022. Reintegrasi Sosial Klien Pemasyarakatan Balai Pemasyarakatan Bapas Kelas I Denpasar. Banyumas.

UU. No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA).

Suwardani, GAP. 2019. Dasar-Dasar Bimbingan Kemasyarakatan. Depok: BPSDM Kementerian Hukum Dan HAM Republik Indonesia.

Direktorat Jendral Pemasyarakatan. 2012. Modul Pembimbing Kemasyarakatan. Jakarta: Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan.

https://www.kompasiana.com/khaerudin03/62a5d0faf5f3295eba645ae5/peran-pk-bapas-dalam-penanganan-anak-yang-berhadapan-dengan-hukum-abh

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button
%d blogger menyukai ini: