1
Sen. Sep 21st, 2020

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

POLEMIK PEMBANGUNAN TEMPAT MEDITASI DI GESING: DIMEDIASI WALUBI, HAPPY ENDING

3 min read

SINGARAJA-JARRAKPOSBALI.COM – Kendati Sebagian besar masyarakat Desa Gesing, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, menerima kehadiran tempat meditasi yang sedang dalam pembangunan, namun masih ada yang mempertanyakan legalitas pembangunan tersebut.

Adalah Yayasan Ekayana Magga Hermatige (YEMH) yang sedang membangun tempat meditasi di Desa Gesing. Dan salah satu tokoh masyarakat Geding, Budi Hartawan, yang mempertanyakan legalitas pembangunan tempat meditasi tersebut.

Nah, sebelum perbedaan pandangan itu melebar, Wadah Antar Lembaga Umat Budha Indonesia (WALUBI) Kabupaten Buleleng langsung bertindak dengan cara memediasi kedua pihak untuk mencari jalan keluarnya.

Pertemuan pun digelar di lantai dua Restoran Beatrix di Jalan Udayana Singaraja, Sabtu (29/8/2020) siang. Dihadiri pengelola YEMH Hendrik, pemroptes Budi Hartawan, Perbekel Gesing, dan Kelian Desa Pakraman Gesing. Menariknya, Binmas Buddha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Suliarna, juga menghadiri pertemuan mediasi perbedaan pandangan soal legalitas pembangunan tempat meditasi tersebut.

Budi Hartawan yang mewakili masyarakat kontra pembangunan tempat meditasi menegaskan, pembangunan tempat meditasi yang berada di hutan Desa Gesing itu belum mengatongi izin termasuk IMB dan dianggap meresahkan warga desa setempat.

Mantan anggota DPRD Bali dari Gerindra itug menambahkan, muncul kisruhnya masalah pembangunan tempat meditasi di Desa Gesing yang bernuansa aliran kepercayaan Buddha. Karena segala hal teknis tidak mematuhi ijin yang sudah ditentukan sesuai dengan aturan yang berlaku.

“Termasuk tidak ada ijin IMB, ijin amdal dan segala ijin lainnya. Dan ini patut menjadi atensi dari pemerintah daerah Buleleng,” ungkap Budi Hartawan.
Namun sebelum melakukan pembangunan tersebut yayasan harus melakukan sosialisasi terlebih dahulu dengan warga. “Kemudian saat ini pihak yayasan sudah setuju untuk memtauhi aturan tersebut dalam dalam waktu dekat akan akan menyelesaikan,” ucap Budi Hartawan kepada wartawan usai pertemuan.

Baca Juga :  NARKOBA: DI RIAU SEKELUARGA BISNIS NARKOBA, DIBEKUK SATRESNARKOBA INHU

Sementara pengelola YEMH Hendrik kepada wartawan menyebutkan bahwa dalam pertemuan mediasi yang belangsung sekitar 2 jam lebih telah ada titik temu. Pihak yayasan menyanggupi akan menyelesaikan secepat izin pembangunan. Kemudian selajutnya akan bertemu dengan warga untuk melakukan sosialiasai keberadaan tempat meditasi.

Lebih lanjutkan Hendrik menjelaskan, sejatinya pihaknya sudah mengurus segala bentuk perizinan terkait pembangunan tempat meditasi di Desa Gesing. Namun karena adanya COVID-19, sehingga terjadi penundaan.

“Sebenarnya kami sudah ada sosialisasi kepada warga pembangunan tempat meditasi tersebut. Bahkan warga menyambut baik tempat meditasi tersebut,” ungkapnya.

Kata dia setelah pertemuan sesmuanya sudah pahami, situasi yang sempat memanas sudah berubah menjadi adem. “Mediasi ini positif, dan semua pihak sudah ada titik temu. Jadi, kita sudah satu suara, satu pemikiran, kita berjalan bersama, tidak ada kontradiktif lagi,” ucap Hendrik.

Lalu mengapa pihaknya memilih lokasi di Desa Gesing sebagai lokasi pembangunan meditasi. Selain lokasi sangat cocok untuk meditasi jauh dari keramian juga faktor kondisi alam. Jadi pembangunan tempat editasi bukan hanya bagi umat Buddha saja melainkan kepada seluruh pemeluk agama lainnya.

Baca Juga :  VIRUS CORONA: BUPATI MINTA KESADARAN PEKERJA MIGRAN PERIKSA DIRI

“Pada intinya kami akan memenuhi segala apa yang menjadi tuntutan warga agar kondisi kearifan lokal disana tetap terjaga,” pungkasnya.

Binmas Buddha Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, Suliarna, berharap kisruh pembangunan tempat meditasi ini mudah-mudahan tidak terjeadi kisruh atau gesekan. Harapan pihaknya tetap diselesaikan arif dan bijaksana.

Suliarna menyarakan YEMH agar mematuhi kearifan lokal yang ada di masyarakat Desa Gesing. Kemudian YEMH juga mematuhi segala perizinannya. “Harapan kita kalau memang tempat hanya untuk meditasi. Ya harus secepat diselesaikan. Kemudian warga juga harus mengawal secara proses pembangunan sampai akhirnya tempat tersebut dijadikan lokasi meditasi. Sehingga lokasi tersebut berdampak positif bagi masyarakat,” tandasnya.

“Kita pada prinsipnya mengikuti apa yang berlaku di sini (Desa Gesing, red), kearifan lokal lalu tatakrama disini. Karena yang kita kedepankan adalah suasana kerukunan,” ucap Suliarna.

Ketua Walubi Buleleng Wiharta Harijana menjelaskan bahwa mediasi yang dilakukannya cukup bagus. Kedua belah pihak sudah saling memahami , dan YEMH diminta untuk melengkapi persyarakat administrasi seperti IMB dan sejenisnya. “Astungkara, semuanya bisa berjalan dengan baik. Dari pihak Pak Budi sudah bisa memberikan masukan-masukan yang juga sudah dbisa diterima pihak Yayasan,” papar Wiharta.

Penulis: Francelino
Editor: Sarjana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *