17 Januari 2021

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

SALAH PATI: PEKAK WAYAN MARA TENGGELAM DI TUKAD SABA PATEMON

2 min read

Foto Polsek Seririt: Warga evakuasi korban dari Tukad Saba

SERIRIT-JARRAKPOSBALI.COM – Tampaknya gumi Seririt lagi murka. Hanya dalam hitungan hari, dua nyawa di Kawasan tewas karena tenggelam.

Pertama, hari Minggu (27/9/2020) sore pukul 17.30, seorang siswa kelas 5 SD Sidatapa, Kecamatan Banjar Buleleng, Bali, tenggelam di kolam renang Water Park Seririt. Kedua, Rabu (30/9/2020) sore jam yang sama yakni 17.30 wita kembali terjadi kejadian yang sama.

Kali ini seorang pekak (kakek) berusia 81 tahun asal Banjar Dinas Sema, Desa Patemon, Kecamatan Seririt yang tenggelam di Tukad (Sungau) Saba yang melintasi Desa Patemon. Pekak bernasib naas itu adalah Wayan Mara.

Bagaimana ceritanya? Informasi dari kepolisian menyebutkan bahwa pada hari Rabu (30/9/2020) pagi sekitar pukul 06.00 Wita korban yang sudah lansia dan mengalami sakit bingung, diketahui oleh putrabya bernama Kadek Sama, 46, melihat kamar korban sudah dalam keadaan kosong.

Baca Juga :  KAPOLSEK CELUKAN BAWANG AJAK MASYARAKAT BERSIHKAN GORONG-GORONG

Kemudian, Sama yang sehari-hari berprofesi teknisi itu bersama keluarga berusaha mencari di sekitar Desa Patemon. “Dan juga menginformasikan melalui facebook,” jelas Kasubbag Humas Polres Buleleng, Iptu Gede Sumarjaya, SH, kepada media ini Rabu (30/9/2020) petang.

Kemudian sore hari, beber Sumarjaya, saksi mendapat informasi dari warga bahwa korban ditemukan warga tenggelam di Tukad atau Sungai Saba. Saksi dan keluarga langsung menuju TKP dan sampai di TKP, saksi menemukan korban memang tenggelam di sungai dan dengan dibantu warga memindahkan korban ke tepi sungai.

“Saat dilakukan pemeriksaan oleh petugas medis, korban dinyatakan telah meninggal dunia karena tenggelam dan tidak ditemukan ada tanda tanda kekerasan pada tubuh korban,” jelas Sumarjaya.

Baca Juga :  Terungkap Tidak Cukup Bukti, Penetapan Bendesa Adat Keramas Sebagai Tersangka Harus Dihentikan

Sama, anak korban atau saksi, membenarkan bahwa korban selama ini memang dalam keadaan sakit bingung dan sering berjalan sendiri melintasi sungai tersebut menuju ke rumah anak perempuannya yang ada di seberang sungai. “Menurut keterangan anaknya bahwa sebelumnya sudah 3 kali ditemukan bengong / kebingungan sendiri di sekitar sungai tersebut,” ura Sumarjaya.

Sumarjaya menyebtukan bahwa korban diduga meninggal karena tergelincir di sungai dan karena sudah lanjut usia akhirnya terbawa air dan tenggelam. Selain itu karena tidak ada yang melihat saat kejadian tersebut sehingga korban tidak tertolong dan meninggal.

“Keluarga korban tidak mempermasalahkan kematian korban dan menerima dgn iklas dengan pertimbangan korban sudah usia lanjut dan bingung sehingga mengalami musibah tersebut,” pungkas Sumarjaya.

Penulis: Francelino
Editor: Sarjana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *