21 Januari 2021

Jarrak Pos Bali

Bersama Membangun Bangsa

PT Porang Bali Dewata Penggerak Budidaya Tanaman Porang Di Bali

2 min read

Foto Ist: Made Teja, Dirut PT Porang Bali Dewata

BALI-JARRAKPOSBALI.COM – Yang perlu diketahui para petani budidaya porang adalah cara pemupukannya. Dirut PT Porang Bali Dewata, Made Teja, memaparkan pada awal tanam kompos seperempat (1/4) kilogram perpohon. Setelah orang tumbuh setinggi 25 sentimeter semprot dengan pupuk organic cair. “Selanjutnya 1 bulan sekali dengan pupuk organic cair,” jelas Teja.

Teja menjelaskan bahwa yang patut diperhatikan petani budidaya porang adalah adalah hama. Ada dua jenis hama yang bisa menyerang tanaman porang yakni jamur dan ulat. Jenis obat yang dipakai untuk jenis hama jamur adalah obat merk Dupont Delsene atau merek lainnya. Penggunaan lihat petunjuk pada kemasan.

“Jenis hama ulat, maka obat yang dipakai adalah jenis obat yang digunakan Dupont Lannate campur dengan kalsium dan perekat atau insektisida merk yang mengandung bahan metomil,” jelas mantan anggota DPRD Buleleng itu.

Pertumbuhan Porang

Dijelaskan Teja bahwa porang tumbuh selama 6 bulan pertahun (Desember-Mei pada musim hujan). Selanjutnya mengalami masa istirahat atau dorman, daun layu seolah-olah mati (Juni-November).

Baca Juga :  VIRUS CORONA: BERUBAH LAGI, PASAR DI BULELENG MULAI 08.00 HINGGA 16.00

“Tanaman akan tumbuh kembali pada musim hujan berikutnya dan umbi dalam tanah akan membesar,” urainya lagi.

Proses Panen

Porang setelah tumbuh2-3 tahun, umbi baru dapat dipanen, biasanya pada bulan Juni-November pada saat musim dorman. Panen katak/bubil tiap tahun setelah dorman. “Setelah itu dilakukan peremajaan dengan penanaman kembali bibit baru. Untuk lebih kecil dari setengah (1/2) kilogram ditanggalkan untuk dipanen pada tahun berikutnya,” jelas Teja.

Estimasi keuntungan

Budidaya porang sebagai upaya perbaikan ekonomi petani maka patut dilakukan Analisa porang berdasarkan Analisa financial. Mari kita awali dengan estimasi keuntungan.

a. Umbi

Dijelaskan Teja, 1 kilogram bibit katak atau bubil berisi 200 butir, satu butir kalau ditanam selama dua musim akan menghasilkan berat kurang lebih 2 kg. Berarti 200 butir bibit x 2 kg = 400 kg umbi. “Jika dijual dengan harga pasar sekitar Rp 8 ribu/kg maka 400 kg x Rp 8.000 = Rp 3.200.000,” beber Teja.

Baca Juga :  PERUMDA TIRTA HITA BULENENG BERIKAN KERINGANAN TARIF PADA RIBUAN PELANGGAN

b. Katak/Bubil

Teja menguraikan bahwa 1 kg bibit katak/bubil berisi sekitar 200 butir. Satu butir kalau ditanam selama 2 musim akan menghasilkan minimal 6 butir biji katak/bubil (dengan asumsi pada musim ke-1 menghasilkan 2 biji katak, dan pada musim ke-2 akan menghasilkan 4 biji katak).

“Jadi 200 butir menghasilkan 200 x 6= 1.200 butir katak, jika per-kg isi 200 butir katak maka 1.200/200 = 6 kg. Jika per-kg katak harganya Rp 100.000 maka 6 kg x Rp 100.000 = Rp 600.000,” urai Teja.

Nah, berdasarkan urai diatas maka kalau tanam 1 are butuh bibit 2 kg, berarti potensi hasil: umbi 2 kg x 3.200.000 = 6.400.000, katak 2 kg x 600.000 = 1.200.000. “Maka total hasil 1 are sebesar Rp 7.600.000,” pungkas Teja meyakinkan. (frs)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *