Berita

Satupena Bali Optimis Bangkitkan Minat Membaca Dan Menulis Generasi Muda

DENPASAR, jarrakposbali.com | Di tengah boomingnya perkembangan teknologi dewasa ini membuat masyarakat dunia terhanyut di dalamnya.Penggunaan gudget kini sudah menjadi suatu keharusan.

Ingin mencari informasi,berita,tugas sekolah,resep- resep dan sebagainya cukup dengan membuka google.Seolah google menjadi maharaja yang sanggup menjawab segalanya.

Namun,di balik banyaknya kemudahan yang tersaji,ternyata di sisi lain ada hal yang terlupakan yang kecenderungannya membawa dampak negatif ke depannya.Salah satunya yaitu semakin menurunnya minat baca dan menulis yang membuat prihatin para cendikiawan yang peduli dengan perkembangan kaum milenial.

Sebagai langkah nyata dari keprihatinan tersebut,akhirnya dibentuk organisasi Satupena Provinsi Bali yang diketuai oleh Drs.I Nengah Suardhana,M.Pd.dan pendeklarasian serta pengukuhannya telah dilakukan kemarin(30/05/2022) di Legian Beach Hotel,Legian Kelod,Kuta sekaligus launching buku Terapi Ritual Pasca Bom Bali.

Namun sejatinya untuk di pusat organisasi Satupena ini sudah didirikan tahun 2017 lalu oleh Denny JA yang sekaligus selaku Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia.Lalu dikembangkan sehingga menelorkan SK No.04/SK/ll/2022 tentang penetapan koordinator pulau dan koordinator provinsi se- Indonesia yang meliputi 34 provinsi.

Untuk diketahui,Janny JA ini merupakan salah satu kandidat peraih Nobel Sastra asal Indonesia yang ada di Swis yang sudah selayaknya dijadikan panutan untuk Satupena ini.

Itakimo
Baca Juga :  Tingkatkan Kerja Sama Dalam Pemberitaan, Founder Media Jarrakpos Audiensi Dengan Bupati Bangli

Adapun visi dari Satupena di Bali menurut Suardhana yaitu untuk menjadikan panutan yang cerdas dalam dunia literasi.Sedangkan untuk misinya melakukan edukasi publik seputar dunia literasi,mengembangkan kemampuan menulis serta menyediakan informasi seputar dunia literasi.

Apakah ada kaitannya dengan pesatnya perkembangan medsos yang membuat masyarakat mulai enggan membaca?

“Saya kira dengan kehadiran Satupena ini merupakan angin segar bagi generasi muda karena bangsa kita ini masih jauh dibandingkan negara- negara lain terutama budaya membaca.Sementara kalau hanya membaca di gudget itu kurang jelas sumber dan sebagainya,berbeda dengan buku yang lengkap nama penulisnya,sumbernya serta referensi- referensinya yang lengkap dan bisa dipertanggungjawabkan.Jadi sangat kita sayangkan bila budaya membaca ini terus berkurang di kalangan generasi penerus.

Kalau kita bandingkan dengan negara- negara lain seperti Amerika,Jepang dan negara maju lainnya itu rata-rata mereka baca 10-15 jilid buku dibaca perbulan.Sementara dari hasil penelitian orang Indonesia hanya membaca 1 jilid buku dalam setahun,”ungkap penulis Buku Bali Jani ini.

“Kami berharap dengan dibentuknya organisai Satupena ini bisa membangkitkan minat baca generasi muda.Saat ini kita perhatikan kebanyakan generasi kita terkuras waktunya untuk main gudget saja.Nah,coba bayangkan apa yang terjadi bila suatu ketika satelit kita yang di atas itu rusak? Berarti kan gudgetnya tidak bisa dipakai?Andaikan buku itu semakin memudar,apa yang akan didapati oleh generasi kita? Jadi di satu pihak kita tidak antipati teknilogi,di satu pihak lagi,buku- buku itu sebagai literatur.Sehingga keduanya harus sama- sama jalan untuk mengantisipasi jangka panjang,”terang Suardhana yang sempat memandu acara Satupena dalam diskusi online dengan topik Kenangkitan Pariwisata Bali.

Baca Juga :  SERAP GABAH PETANI, DISTAN BULELENG SIAPKAN SKEMA STIMULUS UNTUK LPM

Ditanya mengenai upaya-upaya untuk merealisasikan di lapangan, Nengah Suardhana mengatakan bahwa berawal dari visi dan misi di atas.

“Untuk merealisasikannya kita berawal dari visi dan misi tadi,yaitu pertama,menyediakan informasi seputar dunia literasi;kedua,mengembangkan,mengedukasi.Nanti akan ada sekolah penulis pemula.Itu sedang kita buatkan silabusnya.Nanti siapa yang berminat boleh bergabung di sana.Yang terpenting mereka mulai senang menulis.Selanjutnya kita akan melangkah menuju sekolah- sekolah dan ke pemerintahan bahwa budaya menulis ini harus sudah dimulai dari sekarang,”tegasnya.

“Perlu juga saya tekankan di sini bahwa membaca itu merupakan sebuah kebutuhan,bukan keinginan.Kalau hal itu bisa dilakukan negara kita akan maju,”tutup Suardhana. (Asa)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: