Berita

Dilaporkan ke Polisi atas Dugaan Pemerasan dan Pencemaran Nama Baik, Begini Penjelasan Putu Suardana

JEMBRANA, jarrakposbali.com ! Dilaporkan ke Polres Jembrana oleh pemilik salah satu SPBU di kota Negara atas tudingan dugaan berita bohong, pencemaran nama baik dan dugaan pemerasan, Putu Suardana (PS) wartawan Media CMN justru menanggapinya dengan santai.

Dikonfirmasi di kantor redaksinya yang berlokasi di Lingkungan Samblong, Kelurahan Sangkaragung, Jembrana, PS mengaku siap menjalani proses hukum dengan koperatif berkaitan pelaporan yang disampaikan oleh pemilik salah satu SPBU di Kota Negara.

“Itu hak mereka untuk melapor jika memang merasa dirugikan. Saya pasti koperatif mengikuti proses hukum dan saya yakin teman-teman kepolisian bisa bertindak profesional,” ujarnya, Selasa (14/5/2024).

Lanjut PS, dirinya dilaporkan atas tudingan dugaan berita bohong, pencemaran nama baik dan dugaan pemerasan, berkaitan dengan berita yang dia tulis dan terbitkan di Media CMN terkait perijinan pemanfaatan daerah sempadan sungai Ijogading untuk membangun taman dan meeting room oleh pihak SBPU.

Berita itu muncul menurut PS karena adanya tokoh masyarakat dan beberapa warga Kelurahan Pendem, Jembrana mempertanyakan perijinan penggunaan daerah sempadan Sungai Ijogading.

Karena sebelum dibangun SPBU, daerah sempadan sungai ditanami pohon pisang dan pohon lainnya oleh warga atas persetujuan Camat Negara saat itu.

“Namun karena daerah sempadan sungai dimanfaatkan untuk membangun taman dan bangunan meeting room, tanaman pisang milik warga ditebangi atas dugaan pemanfaatan sempadan sungai itu. Kemudian warga mempertanyakannya terutama masalah ijin sempadan sungai, karena itulah saya muat di media,” tuturnya.

Dari aturan jurnalistik, PS mengaku menulis berita itu telah memenuhi kaidah jurnalistik dengan telah mengkonfirmasi kepada para pihak, diantaranya konfirmasi kepada pemilik SPBU dan konfirmasi ke Dinas PUPR Jembrana.

“Kemudian terkait permasalahan ijin pemanfaatan daerah sempadan sungai yang dipertanyakan oleh tokoh, sebenarnya pemilik SPBU itu tinggal menunjukan saja kalau memang sudah ada ijinnya, kenapa mesti dibuat ribet. Warga kan juga punya hak untuk bertanya dan media punya kewenangan menyuarakan aspirasi masyarakat itu,” terang PS.

Dalam pemberitaan itu, PS mengaku semata-mata untuk menyuarakan aspirasi masyarakat yang peduli terhadap lingkungan, tidak ada motif lain. Terlebih untuk mencari keuntungan pribadi, apalagi sampai melakukan pemerasan, bahkan niat saja tidak ada untuk melakukan pemerasan, seperti yang dituduhkan kepada dirinya.

“Berkaitan dengan pemberitaan itu, saya sama sekali tidak pernah meminta apapun, apalagi uang dengan cara memaksa atau mengancam, tidak ada sama sekali. Saya harap pelapor bisa membuktikan kalau saya sudah melakukan pemerasan,” ujar PS.

Namun demikian PS mengakui beberapa bulan lalu, sebelum berita itu dimuat, dirinya pernah memohon sekedar bantuan dana kepada pemilik SPBU secara pribadi untuk keperluan pribadi. Tetapi itu sifatnya permohonan sama sekali tidak ada paksaan atau ancaman, dan tidak ada hubungannua dengan permasalahan ini.

“Itu sudah lama, saat itu komunikasi saya dengan beliau masih bagus dan saya sempat memohon sekedar bantuan dana secara pribadi, karena menganggap beliau yang katanya adalah seorang dermawan, bukan memaksa dan beliau menjawa melalui WA jika beliau saat itu sedang sakit, ya ngak apa kalau ngak bisa bantu. Malah saya doakan beliau cepat sembuh,” tutur PS.

Kerena itulah, PS mengaku heran, kenapa pemilik SPBU tersebut melaporkan dirinya ke Polres Jembrana atas tudingan membuat berita bohong, pencemaran nama baik dan dugaan pemerasan. Bahkan sampai mengajak enam orang kuasa hukum. PS berharap pihak pelapor bisa membuktikan tuduhannya.

PS juga mengaku sangat menyayangkan pemberitaan pelaporan dirinya ke Polres Jembrana oleh pemilik SPBU bersama enam orang kuasa hukumnya di sejumlah media. Pasalnya, dalam pemberitaan itu, media yang memuat tidak ada konfirmasi kepada dirinya atau setidak-tidaknya konfirmasi kepada pihak kepolisian. Pemberitaan itu sama sekali tidak berimbang.

“Dalam berita pelaporan yang dimuat di sejumlah media, sama sekali tidak memberikan ruang kepada saya untuk menjelaskan duduk persoalannya karena tidak mengkonfirmasi ke saya. Atas pemberitaan itu paradikma di masyarakat sudah menganggap saya melakukan pemerasan,” keluhnya.

Karena itu, PS mengaku akan mengikuti proses hukum dari pihak kepolisian yang saat ini informasinya masih dalam tahap lidik. Kapanpun polisi memanggil, PS mengaku siap datang untuk memberikan keterangan yang sebenarnya.

“Saya dengan koperatif pasti mengikuti proses itu,” tutupnya.(ded)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button