BeritaBulelengDaerahKesehatan
Trending

Diskusi The Marginalist, Ajak Semua Pihak Peduli Kesehatan Mental dan Penanganan ODGJ

SINGARAJA, jarrakposbali.comKesehatan mental dan penanganan Orang Dalam Gangguan Jiwa (ODGJ) menjadi perhatian serius dalam diskusi The Marginalist.

Diskusi ini berlangsung pada hari Jumat, 14 April 2023 pukul 18.00 WITA di wilayah Pantai Kerobokan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng.

Mengusung tema ‘Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya, Menyungsung Kebangkitan Kota Singaraja’ diskusi ini juga memperingati HUT Kota Singaraja ke-419 tahun.

Dalam diskusi ini hadir sebagai narasumber yakni, Prof. Dr. LK Suryani dari Suryani Institute for Mental Health (SIHM), I Nyoman Sunarta dari LSM Kompak, dan Sukmayeni dari Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng.

Hadir juga perwakilan DPRD Buleleng, beberapa LSM di Buleleng, organisasi mahasiswa eksternal, serta masyarakat.

Selain dikusi kesehatan mental, dalam acara ini ada juga pameran fotografi serta advokasi kaum marginal.

Terkait adanya gangguan jiwa, Suryani menyebutkan bahwa faktor utamanya adalah trauma dalam kandungan dan bukan keturunan dari orang tua.

Namun ia menjelaskan bahwa gangguan jiwa pada seseorang dapat terobati sehingga kembali normal.

“Gangguan jiwa bukan karena faktor keturunan tetapi karena trauma dalam kandungan, tapi ditangani bisa normal kembali,” katanya.

“Kebanyakan karena ada trauma. Kalau ada diobati dulu kemudian dihipnosis traumanya sehingga menjadi orang biasa,” lanjutnya.

Suryani juga menyebutkan bahwa Bali menduduki peringkat nomor satu di Indonesia terkait dengan jumlah ODGJ.

Sehingga hal ini harus menjadi perhatian khusus, dan Suryani menyarankan agar para pengantin melakukan tes kejiwaan sebelum menikah.

Hal ini guna mencegah anak dalam kandungan mengalami trauma, dan lebih mendapatkan cinta kasih selama dalam kandungan.

Peran pemerintah dan lembaga lain

Sementara itu, Nyoman Sunarta menuturkan bahwa pihaknya yang berkecimpung di bidang hukum juga memiliki peran dalam penanggulangan ODGJ.

Apalagi, jumlah ODGJ di Buleleng yang meningkat tiap tahunnya, sehingga perjuangan hak-hak untuk mereka tidak boleh terabaikan.

“Tentu juga memiliki peran terkait penanggulangan ODGJ yang meningkat di Buleleng, seperti memperjuangkan hak-hak ODGJ yang terabaikan,” ujarnya.

Bersamaan dengan itu, I Nyoman Gede Wandira Adi, Anggota DPRD Buleleng; mengharapkan ada pertemuan setelah diskusi ini.

Tentu untuk membahas secara tekni mengenai penanganan ODGJ secara regulasi serta pembiayaan, bersama dengan komunitas peduli ODGJ Buleleng dan pemerintah.

Ini mengingat jumlah ODGJ di Bali yang tinggi di Indonesia serta jumlahnya di Buleleng yang tiap tahun meningkat.

Wandira juga menyebutkan bahwa dalam pengobatan, banyak keluarga dari ODGJ yang tidak memiliki biaya cukup.

“Pentingnya pendampingan dari lembaga advokasi dan bantuan pemerintah dalam hal penanganan odgj dari sisi regulasi dan pembiayaan,” jelasnya.

“Kalau melihat peningkatan ODGJ harus menjadi perhatian pemerintah daerah, bisa melalui regulasi atau anggaran,” lanjutnya.

“Tetapi untuk menguatkan perlu membuat perda. Perlu dipertimbangkan ke depan,” tambahnya lagi.

Kegiatan diskusi ini pun berakhir dengan pengguntingan pita tanda peresmian Singaraja Internasional Museum Photo Kesehatan Jiwa. (fJr/JP)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button