
BADUNG, jarrakposbali.com – Pada Kamis 5 Febroari 2026 Pagi di pesisir Pantai Jimbaran terasa sedikit berbeda. Barisan relawan, aparat, pelajar, hingga pejabat pemerintah terlihat berjalan menyusuri garis pantai sambil membawa karung dan alat kebersihan. Ombak datang perlahan, sementara tumpukan sampah yang terseret arus laut menjadi pengingat bahwa Bali sedang menghadapi pekerjaan rumah yang tidak kecil.
Di tengah aktivitas itu, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI, Faisol Nurofiq hadir bersama Gubernur Bali Wayan Koster dalam aksi korve bersih pantai yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Kegiatan ini bukan sekadar simbol, tetapi juga bagian dari dorongan serius pemerintah untuk mempercepat penanganan persoalan sampah di Bali.
Dalam sambutannya, Menteri Lingkungan Hidup menyampaikan bahwa perhatian pemerintah pusat terhadap Bali belakangan semakin intens. Bali, menurutnya, memiliki posisi yang sangat penting sebagai wajah pariwisata Indonesia di mata dunia.
“Demikian pentingnya arti Bali bagi pemerintah pusat. Banyak keluhan dari masyarakat internasional yang langsung disampaikan kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto,” ujar Faisol Nurofiq.
Isu sampah di Bali memang menjadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini mendorong pemerintah pusat untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah agar langkah penanganan berjalan lebih terarah dan cepat.
“Persoalan sampah di Bali menjadi perhatian serius Presiden. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah diminta segera mengambil langkah konkret,” katanya.
Salah satu hal yang disoroti adalah pola pengelolaan sampah yang selama ini masih bergantung pada sistem pengumpulan dan pembuangan akhir. Sistem tersebut, dalam banyak kasus, membuat tekanan terhadap tempat pembuangan akhir semakin besar.
“Kita tidak bisa lagi menunda. Mulai sekarang wajib pilah sampah dari sumber,” tegasnya.
Data dari kementerian menunjukkan sebagian besar sampah di Bali sebenarnya berasal dari bahan organik. Dalam banyak kasus, sampah jenis ini dapat dikelola langsung di tingkat rumah tangga atau lingkungan komunitas jika sistem pemilahan berjalan dengan baik.
“Sekitar 60 persen sampah di Bali merupakan sampah organik. Ini seharusnya bisa diselesaikan dari tingkat sumber,” jelasnya.
Pemerintah pusat juga mendorong pemerintah daerah untuk mempercepat penerapan sistem pemilahan sampah. Target waktu yang diberikan cukup singkat agar perubahan kebiasaan masyarakat mulai terbentuk dalam waktu dekat.
“Kami meminta pemerintah daerah memimpin langsung gerakan pilah sampah hingga level rumah tangga,” ujar Faisol Nurofiq.
Dalam kesempatan yang sama, pemerintah pusat turut memberikan dukungan peralatan untuk membantu penanganan sampah di kawasan pantai. Bantuan ini secara simbolis diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Badung.
“Ini menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten dalam menyelesaikan persoalan sampah di Bali,” katanya.
Pagi di Pantai Jimbaran itu kemudian ditutup dengan kegiatan bersih pantai yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Aparat TNI-Polri, organisasi masyarakat, kelompok perempuan, hingga para pelajar ikut menyatu dalam gerakan sederhana yang memiliki pesan besar.
Bagi pemerintah dan masyarakat Bali, menjaga pulau ini tetap bersih bukan sekadar urusan lingkungan. Di banyak percakapan tentang pariwisata berkelanjutan, kebersihan sering kali menjadi titik awal dari kepercayaan wisatawan terhadap sebuah destinasi. Dari pantai hingga rumah tangga, gerakan pilah sampah perlahan mulai menjadi bagian dari langkah bersama menuju Bali yang lebih bersih.(JpBali).



