
SEMARAPURA, jarrakposbali.com – Di Balai Budaya Ida Dewa Agung Istri Kanya, Pada Rabu 4 Janurai 2026, suasana terasa lebih hangat dari biasanya. Banyak warga dari berbagai desa berdatangan, sebagian mengenakan pakaian adat rapi yang menambah warna ruang. Di momen itu, Pemerintah Kabupaten Klungkung membuka Bulan Bahasa Bali VIII 2026 dengan nuansa yang terasa akrab. Sering kali acara budaya tampak sederhana dari luar, padahal di dalamnya menyimpan harapan agar tradisi tidak hanya bertahan, tetapi dipahami kembali sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sambutan yang disampaikan mewakili Bupati I Made Satria memberi kesan bahwa kegiatan tahun ini ingin menyentuh lapisan masyarakat secara lebih luas. Kadang bahasa dan sastra dianggap urusan ruang belajar, namun kali ini ditekankan agar seluruh desa ikut bergerak. Ada pandangan bahwa bila kegiatan dilakukan serentak, warga akan melihatnya sebagai ajakan bersama, bukan sekadar agenda tahunan.
“Semoga manfaat kegiatan ini meresap ke sanubari dan dapat menjadi pedoman hidup, bukan sekadar seremonial,” tutur I Gusti Ketut Suardika dengan nada yang terasa sebagai pengingat halus mengenai arti kesungguhan.
Tema yang diusung tahun ini, “Atma Kerthi – Udiaba Purnaning Jiwa”, menarik perhatian karena menawarkan cara pandang yang lebih dalam. Kepala Dinas Kebudayaan Klungkung, I Wayan Suteja, menggambarkannya sebagai ruang spiritual. Dalam banyak kasus, sastra menjadi tempat orang belajar mengenali jati diri. Tradisi lontar dan ragam karya tulis Bali sering menjadi sumber renungan, bukan hanya dokumentasi budaya.
“Atma Kerthi mengajak kita memuliakan sastra Bali sebagai taman batin untuk membentuk jiwa yang lebih utuh,” jelas Suteja yang sejak awal tampak menekankan kedalaman makna tema tersebut.
Kegiatan berlangsung selama tiga hari, sejak 4 hingga 6 Februari 2026. Pada hari pertama, Festival Nyurat Lontar menjadi pusat perhatian. Beberapa peserta terlihat tekun, bahkan anak-anak yang baru belajar memegang pisau pangrupak. Pengunjung yang datang tidak hanya menyaksikan lomba, tetapi ikut merasakan suasana belajar yang berjalan santai. Kadang momen seperti ini memberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan generasi muda dengan tradisi tulis Bali yang mulai jarang disentuh.
Acara pembukaan turut dihadiri Ketua TP PKK Klungkung Ny. Eva Satria, Ketua Majelis Desa Adat Klungkung Dewa Made Tirta, serta para penyuluh bahasa dari seluruh kecamatan. Selama kegiatan berlangsung, suasana Balai Budaya terasa seperti arena besar tempat warga berkumpul untuk mengingat kembali siapa mereka dan dari mana nilai-nilai itu bermula. Pada akhirnya, Bulan Bahasa Bali VIII 2026 memberi ruang agar masyarakat tidak hanya merayakan bahasa, tetapi juga menemukan cara baru untuk merawatnya di kehidupan sehari-hari.(JpBali).



