
JEMBRANA, jarrakposbali.com I Abrasi yang terjadi di pesisir Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara, Jembrana telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Kerugian yang dialami warga pesisir mencapai milyaran rupiah, karena banyak rumah warga, lesehan dan warung kuliner hancur disapu gelombang pasang.

Alih-alih mendapatkan penanganan dari pihak terkait, abrasi justru kian tampah parah. Pemerinah desa setempat mengklaim, sedikitnya belasan hektar tanah terkikis abrasi di sepanjang bibir pantai pebuahan. Usulan penanganan telah disapaikan oleh pemerintah desa setempat, namun tak kunjung ditangani.
Kondisi yang memprihatinkan tersebut ternyata mendapat respon dari LSM pemerhati limgkungan di Bali. Diduga, breakwater yang berada di sisi kiri pantai Pebuahan sebagai biang kerok abrasi tersebut. Jika tidak segera mendapat penangan, satu atau dua tahun berikutnya abrasi akan meluas ke kawasan pemukiman penduduk.
Adanya Breakwater di sisi kiri Pebuahan menurut Ketua BPW LSM Jarrak Bali I Made Ray Sukarya, menyebabkan suplai sidimen putus. Sidimen dari arah kiri yang dibawa gelombang laut terhalang dan terhenti pada Breakwater, kemudian sidemen itu bertunpuk di sisi kiri Breakwater, sehingga menimbulan tanah timbul di sisi kiri atau timur breakwater.
“Sangat disayangkan abrasi di pesisir Pebuahan hingga saat ini belum mendapat penanganan. Munggkin menunggu korban lebih banyak lagi baru ditangani. Saya sangat kesal terkesan ada sikap tidak perduli dari pihak yang berwenang menangani,” tegas Ray Sukarya, Selasa (8/2/2022).

Bahkan, menurut Ray Sukarya, hasil temuan lapangan menyebutkan faktor penyebab abrasi dan erosi yang kian ganas menerjang kawasan pesisir Pebuahan itu, ternyata, mutlak berasal dari pembangunan Breakwater PPN Pengambengan, Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Menurut Ray Sukarya, hal ini berdampak pada pembentukan tanah timbul di sisi timur Breakwater dan erosi terus terjadi di sepanjang pantai sisi barat dari Breakwater.
“Ini berdampak erosi bahkan abrasi di sepanjang pantai Cupel, Baluk Rening dan terus sampai Pebuahan,” tegas Ray Sukarya.
Kemudian, dipaparkan, pada akhir tahun 2018, ada sebuah penemuan baru yang dipasang di lepas pantai Pebuahan, yang secara fungsi mungkin tidak berhasil. Hal ini, mengingat tidak ada dampak significant pada areal pantai. Untuk itu, pihaknya sedang mencari tahu, sumber dana dari kontruksi ini.

Terkait bangunan yang tidak berfungsi baik ini, disebutkan direksi akan melakukan klarifikasi pada Balai Teknik Pantai, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, yang patut dipertanyakan mengapa dipaksakan dan menurut informasi lapangan, hal ini sebagai produk penemuan baru yang dicoba diterapkan.
Pasalnya, inti awal masalah adanya Breakwater pelabuhan Pengambengan terkait panjang, bentuk dan lokasi. Kemudian, merembet saat dampak bangunan tidak diperhitungkan.
“Terus BWSBP coba bantu untuk proteksi revetment. Itu benar, tapi gak semuanya, karena mahal. Bentuk Breakwater yang salah, jadi, boros. Itu dipaksakan dan endingnya malah masih rusak,” jelasnya.

“Saya mendapatkan penjelasan dari sumber yang menyampaikan, kerusakan pantai dipicu oleh adanya breakwater milik PPN Pengambengan yang memutus alur transportasi sedimen secara total,” ujarnya.
Sehingga sedimen pantai di hilir mengalami defisit. Kekurangan suplai ini secara langsung berdampak pada erosi di pantai sisi barat dari Breakwater. Jadi, Cupel, Baluk Rening dan Pebuahan terkena dampaknya.

“Kami tidak ingin mencari pihak yang harus bertanggung jawab pada kerusakan ini. Namun, penanganan setempat dan sepotong tidak akan menyelesaikan masalah,” bebernya.
Menurutnya, penanganan di daerah erosi harusnya dengan perkuatan tebing (armoring). Hal ini berhasil menghambat kemunduran pantai di Cupel dan sekitarnya. Proteksi ini harusnya dilakukan di sepanjang pantai tererosi.
“Jadi, sumber masalahnya jelas, solusi harusnya ada dan saat ini perlu sebuah kepedulian dari semuanya, untuk menyikapi permasalahan ini. Karena, kerusakan ini telah lama terjadi dan masyarakat telah dirugikan secara moral dan material terkait hal ini”, terangnya.
Lanjutnya, solusi yang harus dilakukan melalui sistem groin (krib) sepanjang pantai, lalu revetment (senderan) sepanjang pantai dan memperbaiki arus sedimen yang terhenti akibat Breakwater melalui sand by passting secara rutin.

Untuk itu, Ray Sukarya mengingatkan permasalahan ini perlu mendapat perhatian serius para pihak yang terkait, dalam hal ini, Kementerian PU Pera (Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat), Kementrian Kelautan dan Perikanan serta instansi daerah, karena kerusakan ini akan terus terjadi, jika tidak ada penanganan yang tepat.(Dewa Darmada). (td/JP).



