
DENPASAR, jarrakposbali.com | Buya Safii Maarif beberapa kali saya saksikan di media berbicara dengan suara bergetar saat mengkritisi praktek kebangsaan yang jauh dari cita-cita para pendiri negara ini.
Buya kerap menyampaikan keprihatinan atas praktek intoleransi, rendahnya moral politik hingga soal-soal spesifik yang menimpa masyarakat kecil.
Suaranya yang bergetar, bagi saya pribadi, menandakan keprihatinan mendalam dan ketulusan dalam menyampaikan kritik demi keutuhan dan kemajuan negeri yang amat dicintainya.
Bagi Buya Indonesia mesti menjadi rumah yang nyaman bagi semua warganya terlepas dari perbedaan-perbedaan primordial dan itu hanya bisa terwujud jika para politisi memegang erat moral politik kebangsaan.
Dua hari lalu guru bangsa yang bersahaja dan karismatik itu telah berpulang menghadap sang Pencipta. Kita tidak akan mendengar lagi petuah dan suara kritisnya dengan suara bergetar disertai mimik serius nan tulus.



