
GIANYAR, jarrakposbali.com – Pada Senin 13 April 2026 malam di Gianyar terasa sedikit berbeda. Sejak langkah pertama para penabuh muda memasuki panggung, suasana langsung berubah. Riuh penonton seperti mengikuti denyut gong yang mulai ditabuh perlahan, lalu menguat, dan pada akhirnya memenuhi seluruh ruang terbuka di Balai Budaya.
Yang menarik, malam itu tidak hanya tentang satu kelompok seni. Empat sekaa gong hadir dalam satu panggung yang sama. Sebuah komposisi yang jarang terlihat, bahkan bagi penonton yang terbiasa dengan pementasan gong kebyar di Bali.
Dari anak-anak hingga penabuh wanita, semuanya seperti berbagi ruang sekaligus berbagi energi. Kadang terasa seperti dialog, kadang seperti saling menjawab melalui tabuh dan gerak tari.
“Ini pertama kalinya kami menyatukan empat sekaa dalam satu konsep pertunjukan yang utuh,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan Gianyar, I Wayan Adi Parbawa.
Di sisi panggung, dinamika terasa hidup. Penampilan Gong Kebyar Anak-anak dari Banjar Kebon Bona Blahbatuh membawa semangat yang segar. Tidak lama kemudian, energi itu seperti dijawab oleh Cudamani Pengosekan Ubud dengan karakter tabuh yang lebih eksploratif.
Perpindahan antar segmen berjalan alami. Penonton seperti diajak mengikuti alur, tanpa merasa ada jeda yang memutus suasana.
“Kami ingin memberi ruang eksplorasi bagi para seniman, sekaligus menghadirkan pertunjukan yang lebih kompleks,” lanjut Adi Parbawa.
Memasuki segmen wanita, suasana sedikit berubah. Gerak menjadi lebih halus, namun tetap menyimpan kekuatan. Sanggar Lila Janaki Batuan Sukawati menghadirkan nuansa yang tenang, lalu berpadu dengan dinamika dari Sanggar Alit Sundari Batuyang.
Sering kali, penonton terlihat diam sejenak. Bukan karena suasana mereda, tetapi karena mereka seperti sedang menikmati detail yang muncul satu per satu.
“Pergelaran ini adalah persembahan untuk masyarakat Gianyar sendiri sebelum nanti dibawa ke panggung yang lebih luas,” kata Adi Parbawa.
Di balik pementasan, ada proses panjang yang tidak selalu terlihat. Latihan, penyatuan konsep, hingga penyesuaian antar kelompok. Semua itu terasa menyatu dalam satu malam yang mengalir.
Panggung ini juga menjadi ruang belajar yang nyata. Para penabuh muda tidak hanya tampil, tetapi juga merasakan bagaimana berada dalam satu komposisi besar.
“Ini penting sebagai ruang kaderisasi, mereka belajar sekaligus diuji langsung di panggung,” ujar perwakilan Majelis Kebudayaan Bali Kabupaten Gianyar, I Wayan Sudirana.
Pada akhirnya, Barungan Agung tidak hanya menghadirkan pertunjukan. Ia terasa seperti pertemuan antar generasi, antar gaya, dan antar cara memaknai tradisi.
Di tengah gemuruh gong yang perlahan mereda, ada kesan yang tertinggal. Bahwa di Gianyar, tradisi tidak hanya dijaga, tetapi terus dirawat melalui ruang-ruang kolaborasi yang hidup dan bergerak mengikuti zamannya.(JpBali).



