BeritaMangupuraSeni Budaya

Ogoh-Ogoh dan Kreativitas Anak Muda Warnai Pembukaan Badung Caka Fest 2026

MANGUPURA, jarrakposbali.com – Suasana Area Balai Budaya Giri Nata Mandala, Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, tampak lebih hidup pada Jumat malam (6/3/2026). Ratusan generasi muda dari berbagai Sekaa Teruna dan Yowana hadir membawa semangat kreativitas mereka dalam pembukaan Lomba Ogoh-ogoh “Badung Caka Fest 2026”.

Ketua DPRD Kabupaten Badung I Gusti Anom Gumanti turut hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa. Kehadiran pimpinan daerah ini menjadi bagian dari dukungan terhadap ruang ekspresi seni generasi muda yang setiap tahun semakin berkembang menjelang Hari Raya Nyepi.

Badung Caka Fest selama beberapa tahun terakhir sering menjadi ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas, dan semangat kebersamaan generasi muda Bali. Di banyak banjar, proses pembuatan ogoh-ogoh sering berlangsung berbulan-bulan. Anak-anak muda berkumpul pada malam hari, berdiskusi tentang desain, teknik, dan cerita yang ingin mereka tampilkan melalui karya tersebut.

Pada akhirnya, ogoh-ogoh tidak hanya hadir sebagai patung raksasa yang diarak saat pengerupukan. Ia sering menjadi medium belajar tentang kerja sama, disiplin, dan penghargaan terhadap tradisi.

Anom Gumanti menyampaikan bahwa kegiatan seperti Badung Caka Fest sering menjadi ruang yang sehat bagi generasi muda untuk mengekspresikan ide dan kreativitas mereka.

“Ogoh-ogoh adalah bagian dari tradisi Bali yang terus hidup dari generasi ke generasi. Di dalam proses pembuatannya ada nilai kebersamaan, kreativitas, dan rasa memiliki terhadap budaya. Kami berharap ruang seperti ini terus berkembang dan memberi energi positif bagi anak-anak muda di Badung,” ujarnya.

Menjelang Hari Raya Nyepi, suasana kreatif seperti ini sering terasa di berbagai desa dan banjar di Bali. Sekaa Teruna dan Yowana bekerja bersama, menghidupkan imajinasi mereka melalui karya ogoh-ogoh yang sarat makna budaya.

Badung Caka Fest kemudian hadir sebagai panggung bersama. Tempat di mana karya-karya itu dipertemukan, diapresiasi, dan pada akhirnya menjadi bagian dari cerita kebudayaan yang terus tumbuh di tengah masyarakat Badung.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button