
DENPASAR, jarrakposbali.com – Pada Senin 6 April 2026 Pagi di Gedung DPRD Provinsi Bali terasa sedikit berbeda. Langkah-langkah yang masuk ke ruang sidang utama membawa ritme yang lebih teratur, seolah semua yang hadir memahami bahwa ada sesuatu yang cukup penting untuk dibicarakan. Rapat Paripurna itu resmi dibuka oleh Ketua DPRD Bali, Dewa Made Mahayadnya, menandai dimulainya pembahasan pada masa persidangan kedua tahun sidang 2025–2026.
Yang menarik, suasana formal yang biasanya terasa kaku justru berjalan lebih hangat. Para undangan hadir dengan balutan kain endek, memberi nuansa lokal yang tetap terasa kuat di tengah agenda kebijakan yang cukup strategis. Di forum ini, perhatian mulai diarahkan pada dua rancangan peraturan daerah yang akan mempengaruhi arah pembangunan Bali ke depan.
“Forum ini menjadi awal untuk memastikan arah pembangunan Bali tetap terjaga dan relevan dengan kondisi saat ini,” ujar I Wayan Koster.
Sering kali, pembahasan seperti ini terlihat teknis di permukaan. Namun di banyak kasus, keputusan yang lahir dari ruang sidang justru membentuk wajah Bali dalam jangka panjang. Pariwisata berkualitas dan penyesuaian pajak daerah menjadi dua isu yang mulai diposisikan sebagai fondasi, bukan sekadar pelengkap.
“Selama periode 1 Januari hingga 31 Maret 2026, kunjungan wisatawan mencapai 2,6 juta orang,” jelas I Wayan Koster.
Angka itu memberi gambaran yang cukup jelas tentang dinamika Bali hari ini. Kunjungan wisatawan domestik mencapai 968.313 orang, dengan pertumbuhan yang masih terjaga. Di sisi lain, wisatawan mancanegara juga menunjukkan tren yang terus bergerak, menandakan Bali tetap berada dalam peta perjalanan global.
“Itu ada peningkatan sebesar 37.475 orang atau meningkat 4 persen,” lanjutnya.
Data ini kemudian menjadi semacam penyeimbang dari berbagai persepsi yang beredar. Kadang, narasi di ruang digital berjalan lebih cepat daripada data yang tersedia. Namun dalam forum ini, angka-angka disampaikan dengan lebih tenang, memberi konteks yang lebih utuh.
“Kalau dibilang Bali sepi, data menunjukkan justru meningkat, baik domestik maupun mancanegara,” kata I Wayan Koster.
Di sisi lain, masih ada ruang yang belum sepenuhnya terhitung. Wisatawan yang datang melalui jalur darat dan laut, termasuk kapal pesiar, belum masuk dalam data utama. Pada akhirnya, ini menunjukkan bahwa mobilitas wisatawan ke Bali berkembang mengikuti infrastruktur yang semakin terbuka.
“Yang lewat darat itu akan jauh lebih banyak karena konektivitas di Pulau Jawa semakin panjang,” ujarnya.
Rapat paripurna hari itu tidak hanya membahas angka dan regulasi. Ada upaya untuk membaca arah, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas. Pada akhirnya, Bali tidak hanya berbicara tentang jumlah kunjungan, tetapi juga tentang bagaimana setiap kebijakan bisa menjaga daya tariknya tetap hidup dalam jangka panjang.(JpBali).



