
SINGARAJA, jarrakposbali.com – Pengusaha tahu dan tempe di Buleleng kini mengurangi produksinya lantaran harga kedelai naik.
Imbas harga kedelai yang tinggi membuat sejumlah pengusaha/perajin tahu dan tempe di Buleleng mengurangi produksi mereka.
Hal ini diungkapkan sejumlah pengusaha tahu dan tempe di Lingkungan Taman Sari, Kelurahan Kampung, Kecamatan/Kabupaten Buleleng.
Lingkungan Taman Sari memang dikenal dengan industri tahu dan tempe di Kabupaten Buleleng.
Salah satu pengusaha tahu dan tempe, Abdul Jalil (46); mengaku saat ini pihaknya merasa sangat terbebani dengan naiknya harga kedelai.
Ia menuturkan bahwa saat ini harga untuk mendapatkan kedelai berkisar antara Rp13.000 sampai Rp14.000 per kilogramnya.
Menurutnya, kenaikan harga kedelai saat ini sangat parah selama ia berkiprah di industri tahu tempe sejak tahun 2000.
“Kalau sebelumnya berkisar Rp8.000 sampai Rp9.000 bahkan sebelum pandemi harganya berkisar Rp7.000,” ungkapnya saat ditemui Kamis, 29 September 2022 siang.
“Kenaikan saat ini luar biasa,” tambahnya lagi.

Juga pengaruhi produksi
Kini usahanya yang diberi nama UD. Yayan itu hanya mampu membeli satu kuintal untuk sekali produksi, mengingat lonjakan harga kedelai.
Kenaikan harga kedelai ini tentu mempengaruhi produksi, mulai dari biaya hingga ukuran dari tahu dan tempe buatannya.
“Kalau dibilang lancar ya lancar, tapi saat ini produksinya kami kurangi,” ujar pria yang akrab disapa Pak Jalil itu.
“Pengurangan produksi ini juga berpengaruh ke hasil yang kami dapatkan,” lanjutnya lagi dengan senyum tipis.
Ia juga menyebutkan sampai merumahkan sejumlah karyawannya lantaran omzet yang saat ini diterimanya tidak begitu bagus.
Karena pendapatan yang begitu tipis, membuatnya saat ini hanya memperkerjakan satu karyawan saja untuk produksi dibantu anggota keluarganya.
Pak Jalil menambahkan, pihaknya kini terpaksa menaikkan harga jual tahu produksinya, setelah sebelumnya sempat ia pertahankan.
“Sebelum naik kami jual Rp45.000 per embernya, tapi kini kami jual seharga Rp50.000 per embernya dengan isi 240 biji,” terangnya.
“Harga sempat kami naikkan, cuma konsumen mengeluh,” ujarnya yang selalu mengirim tahu ke sekitar 20 pedagang di Pasar Anyar.
“Kami takutkan tahu tempe bukan jadi makanan yang murah tetapi jadi makanan yang mahal,” cemasnya melihat harga kedelai yang naik. (fJr/JP)



