
KLUNGKUNG, jarrakposbali.com | Kehidupan ritual dan spiritual di Bali amat sarat dengan makna dan simbol. Bagi seorang Sulinggih (pendeta Hindu Bali) berkewajiban untuk melaksanakan Surya Sewana mehening-hening, yakni pemujaan kepada Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, dalam perwujudan sebagai Sanghyang Surya (penguasa matahari) dan juga sebagai saksi abadi.Hal tersebut di sampaikan Ida Pedanda Rai Putra Keniten,saat dikunjungi oleh awak media jarrakposbali di Geria Gede Bakas, Klungkung, Senin (7/8/2023).
Adapun tujuan dari surya sewana ini, tidak lain adalah untuk menyucikan diri lahir bathin, dalam rangka meningkatkan kemampuan spiritual mengemban tugas suci yang menjadi tanggung jawab seorang Pendeta Brahmana.
Di dalam Yayurweda terdapat mantra khusus untuk memuja Tuhan pada waktu pagi dalam manifestasinya sebagai Dewa Surya, yaitu yang dinamakan surya Sewana dan Surya Namaskar, yang berarti memuja Dewa Surya.
Dalam mantra tersebut untuk memohon kepada Dewa Surya, yaitu putranya Antariksa, yang mempunyai cahaya yang agung untuk memberikan kekuatannya kepada manusia supaya bisa melihat alam ini.
“Jadi dari kekuatan surya itulah manusia bisa melihat dan beraktivitas, dan bila tidak ada kekuatan surya, sulit bagi manusia untuk melakukan tugasnya sehari-hari,” ujar Ida Pedanda Rai Putra Keniten.
Dalam mantra tersebut juga dijelaskan, bahwa tuhan memberikan perintah kepada umat manusia agar selalu memuja-nya dan mengikuti ajaran-nya. Kita percaya bahwa Dia akan menghukum para penjahat yang tidak mengikuti perintah atau mengikuti jalan Dharma (Kebenaran). Dengan mantra tersebut seseorang memuja dewa Surya supaya bisa melakukan tugas dan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab, dan berada pada jalan yang benar.
“Jadi, pada waktu yang begitu mulia, yaitu pagi hari, saatnya manusia bangun dan pertama-tama memohon kepada tuhan supaya kita selalu ingat pada-nya, sebelum melanjutkan kesibukan sehari-hari,”jelas Ida Pedanda Rai Putra Keniten.
Surya Sewana, Peganggan dan Japa sulinggih Ritual atau persembahan sesajen kepada Tuhan merupakan salah satu bentuk yadnya adalah korban suci yang didasari atas ketulusan dan tanpa pamrih. Yadnya merupakan bentuk nyata kehidupan beragama umat Hindu di Bali. Yadnya tidak dapat dilepaskan dari peranan seorang sulinggih (sebutan untuk Pendeta Hindu di Bali).
Peranan sulinggih sebagai Adi Guru Loka artinya seorang sulinggih berperan sebagai guru spiritual yang membimbing dan memimpin umatnya di daerah atau wilayah tertentu. Sedangkan Ngeloka-parasraya artinya peranan seorang sulinggih untuk menjadi sandaran atau tempat bertanya tentang kegiatan yang dapat meningkatkan religiusitas.
Dimana pemujaan kepada tuhan yang wajib dilakukan yaitu: Surya Sewana dan pegangganya. Dalam pemujaan ini seorang sulinggih melakukan proses japa yaitu mengucapkan nama-nama suci tuhan (smaranam).
Pentingnya peranan seorang sulinggih dalam menyucikan diri umat Hindu beserta alam semesta, sehingga seorang sulinggih di tuntut harus tetap dalam keadaan suci. Menyucikan diri bagi seorang sulinggih adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan. Kewajiban yang pertama yaitu tapa.
“Tapa artinya teguh dan tekun dalam melakukan pemujaan kepada tuhan. Pemujaan kepada tuhan yang wajib dilakukan oleh seorang Sulinggih pada pagi hari disebut dengan surya Sewana dan pegangannya,” imbuh Ida Pedanda Rai Putra Keniten.
Japa dengan menggunakan genitri pada umumnya di laksanakan pada proses ngeloka-phalasraya, khususnya upakara dengan menggunakan sarana upakara Bebangkit atau identik dengan upakara yang besar. Dalam pelaksanaan beragama di Bali, umat Hindu selalu di identikkan dengan adanya kemeriahan, semarak, biaya yang besar dan juga terjadi kehampaan spiritualitas.
Kehampaan spiritualitas juga sangat dipengaruhi oleh kualitas seorang sulinggih, Sehingga jika seorang sulinggih, yang tidak melaksanakan kewajibannya dalam surya sewana dan Pegangannya,ย maka itu akanย berdampak kepada kesucian seorang Sulinggih.
Seperti diketahui kehampaan spiritualitas umat hindu juga dapat di pengaruhi karena tingkat kesucian seorang sulinggih. Kesucian seorang sulinggih akan ternoda dengan ketidakmampuan seorang Sulinggih mengendalikan indria khususnya sadripu dan juga karena dipengaruh pada karakteristik Kali Yuga.
“Japa pada saat surya sewana dan Pegangganya di lakukan setiap hari, dimana ini merupakanย Implementasi dari Japa yang mampuย mampu untuk melepaskan keterikatan seorang Sulinggih dari keduniawian sehingga seorang sulinggih benar-benar pada keadaan suci,” pungkas Ida Pedanda Rai Putra Keniten, sembari menghaturkan selamat hari raya Galungan dan Kuningan buat umat sedarma, semoga alam beserta isinya selalu mendapatkanย keselamatan.( td/jp).



