
DENPASAR,jarrakposbali.com – Suasana ruang utama Gedung Dharma Negara Alaya pada Kamis pagi terasa hangat. Ratusan pelajar, guru, pegiat literasi, serta undangan dari berbagai kalangan berkumpul dalam satu momentum yang sama. Mereka datang membawa semangat yang sederhana namun kuat. Semangat untuk merayakan tulisan, ide, dan keberanian anak muda menuangkan pikiran melalui literasi.
Pada puncak Festival Literasi Denpasar ke-6 tahun 2026 ini, Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa hadir dan menyampaikan apresiasi atas konsistensi gerakan literasi yang digagas oleh Nyalanesia. Menurutnya, kegiatan seperti ini memberi ruang nyata bagi generasi muda untuk mengekspresikan gagasan melalui karya tulis dan media kreatif.
Dalam kesempatan tersebut, Arya Wibawa membacakan sambutan tertulis Walikota Denpasar. Ia menggambarkan bagaimana dunia saat ini bergerak cepat melahirkan berbagai inovasi. Dalam banyak kasus, inovasi sering kali lahir dari kebiasaan membaca, memahami informasi, lalu mengolahnya menjadi gagasan baru.
“Literasi hari ini bukan hanya kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga berkaitan dengan kemampuan memahami informasi, memilah kebenaran, dan mengubah pengetahuan menjadi inovasi,” ujarnya.Kamis (5/3).
Yang menarik, Pemerintah Kota Denpasar dalam beberapa tahun terakhir memang cukup konsisten menghadirkan ruang literasi di berbagai sudut kota. Perpustakaan, pojok baca, hingga ruang kreatif di ruang publik menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan membaca di tengah masyarakat.
“Dari ruang ruang literasi inilah akan tumbuh ide ide besar. Kreativitas lahir dari kebiasaan belajar yang terus berjalan sepanjang hayat,” kata Arya Wibawa.
Di tengah perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat, perpustakaan tetap memiliki peran penting. Tempat ini sering kali menjadi ruang pertemuan antara pengetahuan, diskusi, dan eksplorasi gagasan baru. Dalam praktiknya, literasi juga berkembang melalui berbagai kegiatan berbasis komunitas dan sekolah.
“Gerakan gemar membaca di Kota Denpasar semakin diminati masyarakat. Karena itu perlu kolaborasi yang terus dijaga agar gerakan literasi ini berjalan secara berkelanjutan,” jelasnya.
Festival Literasi Denpasar sendiri sudah berjalan selama enam tahun. Dalam laporan yang disampaikan Duta Literasi Denpasar, Jemima Mulyandari, partisipasi peserta terus meningkat dari tahun ke tahun. Angka yang muncul pada pelaksanaan tahun ini cukup menarik untuk disimak.
Sebanyak 161 sekolah ikut ambil bagian dengan total 10.150 peserta. Angka tersebut terdiri dari 9.306 siswa dan 844 guru yang terlibat dalam berbagai kategori karya.
“Tahun ini kami menerima lebih dari sepuluh ribu karya. Ada puisi, cerita pengalaman pribadi, cerpen, dan esai. Semua karya itu sudah dibukukan sebagai jejak literasi siswa dan guru di Kota Denpasar,” ungkap Jemima.
Dalam perkembangannya, festival ini juga mulai membuka ruang baru bagi kreativitas pelajar. Tidak hanya tulisan, beberapa kategori baru mulai diperkenalkan. Ada lomba video pertunjukan seni melalui Nyalakreasi, olimpiade literasi numerasi melalui Nyalagames, serta lomba website literasi tingkat kota.
Pendekatan ini sering kali membuat literasi terasa lebih dekat dengan keseharian generasi muda yang hidup di tengah dunia digital.
“Harapannya festival ini dapat terus menginspirasi siswa dan guru untuk berani menulis, berkarya, dan menyuarakan nilai nilai lokal melalui media kreatif,” ujar Jemima.
Festival Literasi Denpasar ke-6 akhirnya terasa seperti sebuah catatan kecil tentang perjalanan literasi di sebuah kota. Ribuan karya yang lahir dari tangan siswa dan guru menunjukkan bahwa minat menulis masih tumbuh di tengah generasi muda.
Pada akhirnya, gerakan literasi memang sering dimulai dari hal yang sederhana. Sebuah buku yang dibaca, sebuah cerita yang ditulis, lalu sebuah gagasan yang perlahan menemukan tempatnya di tengah masyarakat. Di Denpasar, perjalanan itu tampaknya terus bergerak dari tahun ke tahun.(JpBali).



