BeritaKeagamaanMangupura

Ketua DPRD Badung Hadiri Persembahyangan Karya di Pura Pererepan

BUALU, jarraposbali.com – Suasana pagi Rabu 11 Febroari 2026,  di Kuta Selatan terasa lebih teduh dari biasanya. Warga yang datang sejak matahari naik perlahan memenuhi pelataran Pura Pererepan Dalem Pemutih dan Dalem Kapal Bualu.

Di antara kepulan dupa dan suara kidung, tampak Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti hadir bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa. Kehadiran keduanya sering kali menjadi bagian dari ritme kehidupan adat di Badung.

Ada kesan bahwa hubungan pemerintah daerah dan masyarakat adat terjalin melalui momen-momen seperti ini, yang berlangsung hangat dan apa adanya.

Upacara Karya Memungkah, Ngenteg Linggih, Nila Pati dan Pedudusan Wrespati Kalpa Agung yang berlangsung hari itu memiliki lapisan makna yang dalam bagi warga setempat.

Banyak krama datang dengan harapan sederhana agar pura semakin suci dan kehidupan mereka tetap berjalan selaras. Di berbagai kesempatan, karya seperti ini menjadi ruang dimana adat, keyakinan, dan kebersamaan menyatu tanpa perlu banyak penjelasan.

Para pemangku memimpin rangkaian upacara dengan tenang, sementara warga mengikuti dengan penuh hormat.

Kehadiran Ketua DPRD dan Bupati terasa sebagai bagian dari tanggung jawab moral untuk mendampingi masyarakat dalam kegiatan spiritual. Kadang peran pejabat daerah terlihat paling nyata ketika mereka berada di tengah masyarakat dalam acara adat.

Bukan sekadar menghadiri, tetapi ikut merasakan suasana batin masyarakat yang sedang melakukan penyucian dan penyempurnaan tempat suci mereka.

Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti menyampaikan bahwa rangkaian upacara ini menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga warisan leluhur.

Ia menambahkan bahwa dukungan pemerintah terhadap adat dan budaya adalah bagian dari komitmen untuk menjaga keseimbangan hidup masyarakat Badung.

“Upacara seperti ini tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga menjadi ruang bagi seluruh krama untuk kembali pada nilai-nilai yang menuntun kehidupan. Pemerintah daerah selalu berusaha mendampingi agar adat dan budaya tetap kuat,” ujarnya.

Pada akhirnya, persembahyangan hari itu berakhir dengan suasana yang damai. Warga perlahan meninggalkan pura sambil membawa keyakinan bahwa karya yang besar ini akan membawa kerahayuan bagi desa mereka.

Di banyak kasus, momen seperti ini memberi gambaran tentang bagaimana adat Bali terus hidup, tumbuh bersama dukungan masyarakat dan pemerintah. Ada rasa bahwa kehidupan yang harmonis sering berawal dari tempat suci seperti ini, tempat di mana doa dan kebersamaan berjalan beriringan.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button