Koster Tinjau Taman Gumi Banten dan Usadha Besakih
800 jenis tanaman upakara dan usadha ditata untuk edukasi spiritual dan pelestarian budaya

jarrakposbali.com, KARANGASEM – Pagi itu udara Besakih terasa lembap setelah semalam hujan rintik. Di sela barisan cempaka, kenanga, dan majegau, Wayan Koster melangkah pelan, sesekali berhenti untuk menanyakan nama lokal dan fungsi tiap tanaman. Di hamparan 4,2 hektar Taman Gumi Banten dan Usadha inilah, ribuan warga mencari sumber bahan upakara dan ramuan usadha. Bagi Koster, kebun ini bukan hanya kumpulan tanaman, melainkan buku terbuka tentang laku spiritual orang Bali.
Di taman milik UPTD Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali ini, lebih dari 800 jenis tanaman lokal tumbuh berdampingan. Ada kelapa mulung, daksina, gading, puspa dewata, hingga rumpun yang jarang ditemui di pekarangan warga.
“Tanaman-tanaman yang tumbuh di sini menjadi sumber utama bahan upakara di kompleks Pura Besakih sepanjang tahun. Di kawasan suci ini ada 118 jenis upacara yang rutin dilaksanakan, sehingga keberadaan taman ini sangat penting,” ujar Koster.
Penataan berikutnya tidak sekadar merapikan bedeng. Taman akan dipetakan menurut tema dan fungsi: blok bunga upakara, blok daun suci, blok rimpang obat, dan seterusnya. Setiap area dilengkapi papan penjelasan singkat tentang nama ilmiah, nama lokal, hingga peran dalam upacara serta pengobatan tradisional.
“Saya ingin taman ini menjadi kebun edukatif yang hidup. Pengunjung tidak hanya melihat tanaman, tapi juga memahami maknanya dalam upacara dan kehidupan spiritual masyarakat Bali,” tegasnya.
Inisiatif ini memiliki pijakan kebijakan yang jelas. Peraturan Gubernur Bali Nomor 29 Tahun 2020 menugaskan pelestarian tanaman lokal untuk Taman Gumi Banten, Usadha, dan penghijauan.
Di lapangan, kebijakan itu menjawab keluhan yang kian sering terdengar, bahan upakara tertentu makin sulit dicari, sementara generasi muda tak lagi akrab dengan nama-nama tumbuhan warisan leluhur.
“Tanaman lokal Bali semakin sulit ditemukan. Dengan adanya kebun ini, kita jaga agar warisan hayati dan budaya Bali tetap lestari dan bisa diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Koster.
Besakih menjadi model awal. Pemerintah Provinsi Bali mulai memetakan tanah aset yang memiliki daya dukung ekologis mirip, agar kebun serupa dapat tumbuh di kabupaten lain. Gagasannya sederhana: mendekatkan sumber bahan suci dan obat tradisional ke komunitas, sekaligus membangun jejaring konservasi yang saling menguatkan.
“Kita akan lihat di mana tanah aset Pemprov yang cocok. Kalau memungkinkan, taman seperti ini akan kita tambah di lokasi lain agar pelestarian tanaman lokal semakin meluas,” ujarnya.
Dari jalur setapak yang basah, tampak rombongan meninggalkan area puspa dewata menuju kebun kelapa ritual. Rencana penataan, papan edukasi, hingga mekanisme pengambilan yang tertib perlahan membentuk gambaran baru: taman yang bisa dikunjungi siswa, pemangku, peneliti, dan wisatawan minat khusus, semuanya belajar langsung dari sumbernya. Di sini, pelestarian hayati bertemu laku budaya. Nangun Sat Kerthi Loka Bali bukan sekadar semboyan, melainkan kerja hening yang dirawat dari akar, daun, hingga bunga.(JpBali).



