BeritaKlungkung

Nang Ateng: Membangun Bakas, Membalas Kebaikan

KLUNGKUNG, jarrakposbali.com – Setiap orang memiliki alasan ketika memutuskan untuk mengabdi. Bagi I Kadek Widiasa alias Nang Ateng, niat untuk maju dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkel) Bakas Oktober 2026 bukan semata tentang jabatan. Ada perjalanan hidup, ada rasa terima kasih, dan ada keinginan sederhana untuk menjadi manusia yang lebih berguna bagi sesama.

Ia membawa satu visi: “Mewujudkan Desa Bakas yang Maju Ekonominya, Sejahtera Warganya, dan Kuat Berlandaskan Adat Budaya.”

Visi itu lahir dari keyakinan bahwa pembangunan desa tidak cukup hanya membangun jalan atau gedung pemerintahan. Desa harus mampu menciptakan ekonomi yang bergerak, masyarakat yang sejahtera, lingkungan yang terjaga, serta adat dan budaya yang tetap menjadi jati diri.

Bagi Nang Ateng, Bakas memiliki modal besar untuk berkembang. Pertanian, UMKM, potensi budaya, kreativitas masyarakat hingga kekayaan alam dan kehidupan sosial desa merupakan kekuatan yang harus dikembangkan menjadi sumber kesejahteraan.

Salah satu perhatian utamanya adalah memperkuat Desa Wisata Bakas.

Desa wisata tidak boleh berhenti pada label atau sekadar mendatangkan wisatawan. Potensi desa harus mampu membuka ruang ekonomi bagi masyarakat lokal. UMKM harus ikut tumbuh, produk pertanian mendapat pasar, seni dan budaya mendapat ruang, serta anak-anak muda memiliki kesempatan untuk berkarya di tanah kelahirannya sendiri.

Karena itu, Nang Ateng ingin mendorong pengembangan UMKM, pertanian dan pariwisata berbasis budaya secara terpadu.

Ia melihat sektor-sektor tersebut bukan sebagai program yang berdiri sendiri, tetapi sebagai satu ekosistem ekonomi desa.

Pertanian menghasilkan produk. UMKM mengolah dan mengembangkan. Pariwisata menjadi ruang promosi dan pemasaran. Budaya menjadi identitasnya.

Dengan konsep tersebut, Desa Wisata Bakas diharapkan bukan hanya menjadi tujuan kunjungan, tetapi juga menjadi ruang tumbuhnya ekonomi masyarakat.

Pelayanan yang Berpihak kepada Masyarakat

Di bidang pemerintahan, Nang Ateng menempatkan pelayanan publik sebagai salah satu fondasi utama.

Menurutnya, pemerintah desa harus hadir ketika masyarakat membutuhkan. Tata kelola pemerintahan harus berjalan sesuai aturan, transparan, sekaligus memiliki keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.

Pembangunan infrastruktur juga menjadi perhatian. Namun, pembangunan Bakas tidak mungkin dilakukan sendirian oleh pemerintah desa.

Diperlukan sinergi yang kuat dengan Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi, hingga Pemerintah Pusat, termasuk memanfaatkan berbagai program pembangunan dan pemberdayaan yang tersedia.

“Desa harus aktif menjemput program, bukan hanya menunggu,” menjadi semangat yang ingin dibangun.

Dengan komunikasi dan koordinasi yang baik, kebutuhan infrastruktur desa dapat diperjuangkan melalui berbagai sumber dukungan pemerintah daerah maupun program pemerintah pusat.

Bersamaan dengan pembangunan fisik, Nang Ateng juga menaruh perhatian pada persoalan lingkungan.

Bakas harus bersih, sehat dan nyaman.

Pengelolaan sampah perlu dioptimalkan dari tingkat rumah tangga hingga lingkungan desa. Kesadaran masyarakat menjadi bagian penting agar persoalan sampah tidak hanya diselesaikan dengan mengangkutnya, tetapi juga melalui pengurangan, pemilahan dan pengelolaan yang berkelanjutan.

Adat, Pemuda dan Kekuatan Bersama

Bakas memiliki kekuatan sosial yang tidak kalah penting: adat, Subak, pemuda dan berbagai lembaga desa.

Bagi Nang Ateng, pembangunan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Semua elemen harus menjadi bagian dari perjalanan membangun desa.

Adat dan budaya harus terus dilestarikan. Kreativitas pemuda harus diberikan ruang. Subak harus diperkuat. Lembaga-lembaga desa harus diajak bersinergi. Dan yang paling penting, masyarakat harus menjadi bagian utama dari setiap proses pembangunan.

Ia ingin membangun pola komunikasi yang lebih terbuka, sehingga gagasan pembangunan tidak hanya datang dari pemerintah desa, tetapi juga tumbuh dari masyarakat.

Ada Kebaikan yang Ingin Dibalas

Di balik gagasan pembangunan tersebut, terdapat sisi personal yang menjadi salah satu alasan kuat Nang Ateng melangkah.

Ia tidak melupakan masa lalu.

Ketika masih kecil dan berada dalam masa-masa sulit, ada orang-orang baik yang hadir dan memberikan bantuan. Kebaikan tersebut membekas dalam perjalanan hidupnya.

Kini, ketika kesempatan untuk berbuat lebih banyak terbuka, ia memiliki keinginan untuk membalas budi kepada orang-orang baik yang pernah membantu dirinya dan keluarganya, bukan semata dengan kata-kata, tetapi melalui tindakan dan pengabdian.

Baginya, membalas kebaikan tidak selalu harus dalam bentuk materi.Menjadi berguna bagi orang lain juga merupakan bentuk membalas kebaikan.

Dari sanalah muncul cita-cita yang lebih besar: jika kelak dipercaya memimpin Desa Bakas, ia ingin menjadikan pengabdian sebagai ruang untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya.

Tidak harus selalu dengan sesuatu yang besar.

Kadang, perubahan dimulai dari pemikiran sederhana, keputusan yang tepat, pelayanan yang tulus, dan tindakan kecil yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Bakas yang Maju Tanpa Kehilangan Jati Diri

Nang Ateng membayangkan Bakas sebagai desa yang ekonominya bergerak, masyarakatnya sejahtera, infrastrukturnya semakin baik, lingkungannya bersih, anak mudanya kreatif, pariwisatanya berkembang, tetapi tetap kokoh dengan adat dan budaya.

Modern dalam pembangunan, kuat dalam kebersamaan, dan tetap berakar pada budaya.

Itulah arah yang ingin ia perjuangkan dalam Pilkel Desa Bakas Oktober 2026.

Sebab baginya, membangun desa bukan hanya tentang memenangkan sebuah pemilihan.

Lebih jauh dari itu, membangun Bakas adalah tentang meninggalkan manfaat.

Dan ketika suatu hari nanti perjalanan pengabdian itu selesai, ia ingin dikenang bukan karena pernah memegang jabatan, melainkan karena pernah berbuat sesuatu yang membuat kehidupan orang lain menjadi sedikit lebih baik.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button