Kisah Pilu Warga Miskin di Buleleng, Kaki Wage Butuh Bantuan Dermawan

BULELENG, jarrakposbali.com | Pandangannya redup menatap masa depan yang kian suram akibat kemiskinan yang menderanya.
Raut wajahnya kelihatan mengkerut menggampgarkan kerasnya hidup yang dijalaninya. Langkahnya berat memikul beban kehidupan yang semakin sulit dijalani.
Duduk di bale reod, dibawah rumah menyerupai kandang menanti tetangga berbelas kasih mengasi mereka makan agar bisa disantap hari ini bersama sang istri tercinya.
Hanya itu yang bisa dilakukan oleh I Wayan Wage (77), warga Banjar Dinas Dangin Margi, Desa Tunjung, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.
Diusianya yang sudah senja, kaki Wage sudah tidak bisa lagi bekerja untuk mengais rejeki sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama Ni Wayan Sinah (72), istri tercinta.
Untuk makan sehari-hari, pasutri lansia ini hanya bisa menanti uluran tanggan para tetangga dan anak laki-laki yang tinggal terpisah lantaran sudah berkeluarga.
Dulunya semasih kuat, kaki Wage sering bekerja sebagai buruh serabutan dan dari penghasilannya bisa untuk makan sehari-hari. Namun kini usianya sudah sepuh, dia sudah tidak mampu lagi bekerja.
Sementara anak laki-laki satu-satunya juga mengalami nasib yang sama, hanya buruh serabutan yang penghasilannya tidak menentu. Jika dapat pekerjaan, penghasilan anak laki-lakinya hanya cukup untuk kebutuhan istri (menantu) dan anak-anaknya (cucunya).
“Sekarang saya sudah tua, sudah tidak lagi kuat bekerja. Makanya untuk makan sehari-hari susah. Mau minta sama anak, dia juga kekurangan,” ujarnya lirih dalam bahasa Bali logat Buleleng, Sabtu (11/6/2022)
Kaki Wage saat ini hanya tinggal bersama istri tercintanya di rumah yang tidak layak huni. Rumah yang dia tempati berukuran tidak lebih dari 4×5 meter. Berlantai tanah dan berdinding gedek yang kondisinya juga sudah pada rusak. Sementara atapnya juga sudah banyak bocor. Rumah satu-satunya itu sungguh tidak layak huni.
Kaki Wage sebenarnya memiliki anak tiga orang, anak tertua laki-laki memilih tinggal terpisah dengannya karena sudah berkeluarga. Sementara dua anaknya lagi perempuan dan sudah pada menikah tinggal di daerah lain bersama suaminya. Kondisi mereka juga sama dengan kaki Wage.
“Rumah saya sudah sering ada yang lihat (surve) tapi saya tidak tahu siapa mereka. Katanya dari pemerintah, tapi sampai sekarang saya belum dapat bantuan apa-apa,” imbuhnya.
Kini pasutri lansia tersebut hanya bisa pasrah menghadapi nasib dan kerasnya hidup. Dia hanya menginginkan rumah yang ditempatinya lebih layak untuk dihuni, tidak bocor. Dia juga takut sewaktu-waktu rumah itu roboh saat hujan deras dan angin kencang.
“Kalau saya perbaiki sendiri rumah ini sudah tidak mungkin. Jangankan untuk perbaiki rumah, untuk makan sehari-hari saja sudah,” keluhnya.
Kini Kaki Wage, hanya bisa pasrah sembari memohon uluran tangan dari para dermawan untuk sudi membantu memperbaiki rumahnya agar lebih baik dan tidak bocor lagi.
“Semoga saja ada yang berkenan membantu saya,” tutupnya saat ditemui tim jarrakposbali.com.
Sementara itu, Perbekel Desa Tunjung I Made Sadia dikomfirmasi terkait dengan kondisi warganya mengatakan, untuk lebih jelas terkait warganya itu agar memimta penjelasan dari kepala dusunnya langsung. Karena jika meminta penjelasan di desa harus mengecek di operator desa, apakah sudah masuk daftar KK miskin atau belum.
Disisi lain Kepala Dusun Dangin Margi Ketut Carmana dikomfirmasi melalui telpon mengatakan bahwa I Wayan Wage sudah masuk dalam buku merah atau sudah tercatat dalam daftar KK Miskin.
Bahkan menurutnya, warganya itu sudah rutin mendapatkan bantuan beras miskin (raskin). Namun untuk jatah raskin menurutnya sempat tersendat, tapi belakangan ini mulai lancar lagi.
Khusus untuk bantuan bedah rumah, I Wayan Wage sudah pernah diusulkan, namun sampai sekarang belum turun dan masuk daftar antre. Mengingat di banjarnya banyak warga yang nasibnya sama dengan I Wayan Wage. Jadi menurut Carmana, warganya itu bukan sekala prioritas untuk mendapatkan bedah rumah.
“Tahun lalu di banjar kami ada bantuan bedah rumah 4 unit, salah satunya diberikan kepada anaknya. Sedangkan untuk Wayan Wage sampai saat ini belum dapat bedah rumah,” terangnya.
Dulunya saat pendataan usulan bedah rumah, warganya itu tinggal di rumah adiknya. Namun belakangan yang bersangkutan pidah dan menempati rumah sendiri diatas tanah hak milik.
“Memang rumah I Wayan Wage yang ditempati sekarang sangat tidak layak huni. Tapi ya itu tadi, warga kami banyak yang kondisinya seperti itu jadi untuk bantuan bedah rumah menunggu daftar antre dan antreannya untuk yang bersangkutan masih jauh,” tutupnya.(x)
Penulis/editor : Dewa Darmada



