Walikota Jaya Negara Dorong Teba Modern sebagai Solusi Berbasis Adat
Dari Paruman ke Aksi Nyata, Desa Adat Jadi Garda Terdepan Kelola Sampah Denpasar

DENPASAR, jarrakposbali.com – Pagi di Gedung Santi Graha, Denpasar, terasa berbeda dari biasanya. Bukan sekadar ruang pertemuan, tempat itu menjadi titik temu antara nilai adat, kepedulian lingkungan, dan harapan akan perubahan. Minggu (14/12), Paruman Madya Majelis Desa Adat (MDA) Bali Tingkat Kota Denpasar Tahun 2025 berlangsung dengan satu pesan kuat: persoalan sampah tidak bisa ditunda, dan desa adat punya peran kunci di dalamnya.
Paruman ini dihadiri tokoh-tokoh adat dan pemangku kebijakan, di antaranya Penyarikan Agung MDA Provinsi Bali Dewa Nyoman Rai Asmara Putra serta Bendesa Madya MDA Kota Denpasar Anak Agung Ketut Sudiana. Diskusi tidak hanya berputar pada program kerja dan pedoman kelembagaan, tetapi juga menyentuh isu yang paling dekat dengan kehidupan warga sehari-hari.
“Majelis Desa Adat bukan hanya penjaga tradisi, tapi juga kendaraan sosial yang bisa menggerakkan masyarakat secara kolektif,” ujar Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dalam sambutannya.
Menurut Jaya Negara, kekuatan desa adat terletak pada kemampuannya membangun kesadaran bersama. Inilah yang membuat MDA dinilai strategis untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam pengelolaan sampah dari sumbernya.
“Kalau desa adat bergerak bersama, dampaknya akan terasa besar. Pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu,” tegasnya.
Salah satu langkah konkret yang ditawarkan adalah penerapan teba modern. Konsep ini dinilai selaras dengan nilai adat sekaligus menjawab kebutuhan lingkungan perkotaan. Pemerintah Kota Denpasar mendorong setiap desa adat menyediakan teba modern di lingkungannya, termasuk di kawasan Pura Desa dan Pura Kahyangan.
“Terkait pengelolaan sampah, kami mohon sinergi desa adat untuk ikut menyediakan teba modern. Kalau dilakukan bersama-sama, hasilnya akan jauh lebih efektif,” kata Jaya Negara.
Teba modern bukan hanya tempat mengolah sampah organik. Lebih dari itu, sistem ini berfungsi sebagai penghasil kompos alami sekaligus sumur resapan air hujan. Manfaatnya berlapis, mulai dari pengurangan volume sampah, pencegahan banjir, hingga menjaga cadangan air tanah.
“Meski kecil satu per satu, kalau setiap desa adat punya minimal 10 teba modern, kita bisa punya sekitar 350 teba modern di Denpasar. Dampaknya akan signifikan,” tambahnya.
Apresiasi juga disampaikan Walikota Denpasar atas sinergi yang selama ini terjalin antara MDA Kota Denpasar dan Pemerintah Kota. Ia berharap Paruman Madya ini menjadi panduan bersama untuk melahirkan karya nyata, memperkuat swagina dan swakarya desa adat demi kesejahteraan masyarakat.
“Kami berharap hasil paruman ini tidak berhenti pada rumusan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam aksi di lapangan,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Penyarikan Agung MDA Provinsi Bali, Dewa Nyoman Rai Asmara Putra, menegaskan komitmen MDA Bali sebagai mitra pemerintah daerah. Dukungan terhadap kebijakan publik, termasuk pengelolaan sampah, disebutnya sebagai bagian dari tanggung jawab bersama menjaga Bali tetap ajeg dan lestari.
“Kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah demi menjaga Bali,” katanya singkat.
Paruman Madya hari itu pun berakhir dengan lebih dari sekadar kesepakatan. Dari ruang pertemuan adat, tumbuh semangat untuk bergerak bersama. Harapannya sederhana namun kuat: perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil. Dari teba modern di sudut-sudut desa adat Denpasar, masa depan Bali yang bersih dan lestari perlahan dibangun.(JpBali).



