
JEMBRANA, jarrakposbali.com | Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk tahun ini menjelang hari raya Nyepi, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana mengelar lomba ogoh-ogoh dengan hadiah uang pembinaan mencapai jutaan rupiah.
Namun pelaksanaanya, lomba ogoh-ogoh tersebut tidak disertai parade maupun arak-arakan. Hal ini lantaran pelaksaksanaan lomba kali ini ditengah pandemi covid-19 yang masih melanda. Tim penilai dari Kecamatan dan Dinas Parbud Kabupaten akan turun langsung ke lokasi pembuatan ogoh-ogoh untuk melakukan penilaian.
“Penilaian nanti ada tiga tahap dan dimulai dari tahap pembuatan ogoh-ogoh oleh sekaa truna-truni, hingga ogoh-ogoh itu jadi seratus persen,” terang Plt. Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Jembrana A.A. Ngurah Mahadikara Sadhaka dikonfirmasi, Rabu (2/2/2020)
Lanjutnya penilaian pertama oleh tim penilai dari masing-masing kecamatan turun langsung ke lokasi pembuatan ogoh-ogoh untuk dinilai dan mencari lima ogoh-ogoh terbaik untuk dinilai oleh tim penilai dari kabupaten.
“Jadi di masing-masing kecamatan nanti ada lima ogoh-ogoh yang dilombakan di kabupaten. Sehingga ada dua lima ogoh-ogoh yang ikut lomba ditingkat kabupaten,” ujarnya kepada redaksi jarrakposbali.com
Untuk dana pembinaan, lima ogoh-ogoh terpilih di masing-masing kecamatan diberikan Rp 15 juta atau satu ogoh-ogoh diberikan Rp 3 juta. Pelaksanaan penilaian dilakukan di tempat pembuatan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.
“Saat penilaian, tim penilai hanya boleh dihadiri oleh ketua sekaa, bendesa dan satu orang yang membuat ogoh-ogoh. Tidak boleh ada orang banyak,” paparnya.
Dari 25 ogoh-ogoh di lima kecamatan yang ada di Kabupaten Jembrana, kemudian dinilai oleh tim penilai kabupaten untuk mencari 15 ogoh-ogoh di lima kecamatan. 15 ogoh-ogoh yang terpilih mendapatkan dana pembinaan masing-masing Rp 5 juta.
“Jadi dari lima belas ogoh-ogoh yang ada di lima kecamatan ini akan dinilai tim kabupaten pada saat pembuatan rampung seratus persen untuk menentukan juara satu sampai juara lima,” tambah Mahadikara.
Lanjutnya, bagi ogoh-ogoh yang terpilih juara 1 berhak dengan uang pembinaan Rp 10 juta, juara 2, Rp2,8 juta, juara 3 sampai Rp 6 juta , juara 4, Rp juta dan juara 5, Rp 4 juta dana pembinaan masing-masing mendapatkan Rp 5 juta.
Yang terpenting menurut Mahadikara, pelaksanaan lomba ogoh-ogoh tersebut tidak disertai larade atau arak-arakan. Namun penilaian dilakukan di tempat pembuatan langsung. Tim penilai menurutnya yang turun langsung ke lokasi pembuatan ogoh-ogoh untuk melakukan penilaian.
Saat ditanya termait keinginan masyarakat untu melakukan pawai ogoh-ogoh atau arak-arakan saat Pengrupukan, sehari sebelum Nyepi, Mahadikara mengatakan hal tersebut bukan menjadi kewenangannya. Melainkan kewenangan dari Majelis Desa Adat Provinsi Bali bersama Bendesa dan aparat terkait, termasuk ijin dari Satgas Covid.
“Tapi jika dilihat surat edaran dari Majelis Desa Adat Provinsi Bali, arak-arakan ogoh-ogoh bisa dilakukan hanya di lingkungan banjar adat setempat. Tentunya dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan yang terpenting mendapatkan ijjn dari Satgas covid,” tutupnya.(ded).



