BeritaJembrana
Trending

Jembatan Putus Belum Ditangani, Pelajar SD dan SMP ke Sekolah Nyeberang Sungai

JEMBRANA, jarrakposbali.com |  Jembatan Sekarkejula, Desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo, Jembrana yang putus total akibat diterjang banjir bandang, Minggu (16/10/2022) malam lalu, hingga kini belum mendapat penanganan.

Padahal Jembatan tersebut merupakan jembatan yang vital, yang menghubungkan dua desa, yakni Desa Yehembang dan Desa Yehembang Kauh, serta tergolong jalur padat lalu lintas, terutama untuk warga mengangkut hasil petanian.

Bahkan, putusnya jembatan di jalan Yehembang-Kedisan tersebut membuat kesulitan sejumlah pelajar SD maupun SMP menuju sekolahnya. Sejumlah pelajar yang hendak ke sekolah terpaksa harus menyeberangi sungai dengan membuka sepatunya agar cepat sampai di sekolah.

Resikonya, para pelajar yang melintasi singai tersebut dihantui bahaya banjir yang sewaktu-waktu air sungai bisa membesar karena saat ini curah hujan sangat tinggi. Jika air sungai banjir, banyak pelajar yang tinggal di Banjar Sekarkejula tidak bisa sekolah.

Jika mau mengunakan jalan lain, yakni melintasi jalan Sekarkejula Kelod menuju Banjar Jati, kemudian masuk ke Banjar Kaleran dan terus ke Banjar Wali hingga sampai di Banjar Baleagung, Desa Yehembang yang merupakan lokasi SMP Negeri 3 Mendoyo dan SD Negeri 7 Yehembang, pelajar sering terlambat tiba di sekolah lantaran jaraknya sangat jauh.

“Saya ke sekolah terpaksa menyeberangi sungai karena jika melalui jalan melingkar, sudah pasti terlambat sampai sekolah. Itupun jika air sungai tidak banjir,” ujar Komang Baskara Adi Pradipta, salah satu siswa SMP Negeri 3 Mendoyo, asal Banjar Sekarkejula, Desa Yehembang Kauh, Senin (24/10/2022).

Dia dan sejumlah pelajar lainnya berharap, pihak pemerintah segera membangun kembali jembatan yang putus tersebut agar tidak lagi pergi ke sekolah dengan menyeberangi sungai karena sangat membahayakan.

Hal senada disampaikan oleh Made Pradnya Alit, salah satu tokoh masyarakat Desa Yehembang Kauh. Menurutnya putusnya jembatan tersebut akibat terjangan banjir bandang, sangat berdampak terhadap aktifitas dan perekonomian warga.

Mengingat, warga sangat kesulitan untuk mengangkut hasil bumi atau hasil pertanian kebun untuk dijual di kota. Jika menggunakan jalan melingkar, jaraknya sangat jauh dan memerlukan biaya angkut yang lebih besar. Karena itu pihaknya berharap pemerintah daerah segera membagun kembali jembatan yang terputus tersebut.

“Yang buat warga Sekarkejula kuatir mana kala jika ada upacara pengabenan. Gimana caranya mengusung mayat ke Setra karena jembatan putus. Kalau lewat kebun-kebun orang jelas tidak dikasi karena harus mecaru. Tapi jika turun menyebrangi sungai sangat membahayakan karena sungai bertebing,” terangnya.

Kelian Banjar Sekarkejula Kelod I Nyoman Supardi membenarkan putusnya jembatan tersebut membuat aktifitas warganya mati total, terutama untuk mengangkut hasil pertanian termasuk aktifitas lainnya.

“Yang lebih memprihatinkan lagi, banyak pelajar SMP maupun SD di banjarnya yang bersekolah di Desa Yehembang harus menyeberangi sungai dengan resiko yang terus mengancam. Air sungai sewaktu-waktu bisa saja banjir,” jelasnya yang juga berharap pihak pemerintah daerah segera membagun kembali jembatan tersebut.

Disisi lain Kepala BPBD Jembrana Agus Artana Putra dikonfirmasi terkait penanganan jembatan yang putus tersebut mengatakan, untuk penanganan jembatan Sekarkejula tersebut saat ini sudah dalam tahap kajian oleh pihak PUPR dan akan segera di tangani.

“Penanganan jembatan Sekarkejula tersebut merupakan skala prioritas karena warga Sekarkujule yang bersekolah di SMP dan SD yang ada di desa tetangga (Desa Yehembang). Kasihan mereka ke sekolah harus menyeberangi sungai,” terangnya.

Perbaikan nantinya bukan hanya terhadap jembatan, namun juga dilakukan perbaikan akses jalan yang juga rusak parah akibat terjangan banjir bandang.(ded)

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button