Berita

Jalan Diurug Tanah Kapur Oleh Pemilik Tambak Udang, Warga Keluhkan Debu Berhamburan

JEMBRANA, jarrakposbali.com ! Sejumlah warga yg tinggal berdekatan dengan tambak udang milik investor asal Jakarta yang berlokasi di pesisir pantai Yehembang, Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, kembali protes.

Jika sebelumnya warga mengeluhkan kondisi jalan menuju tambak rusak parah akibat aktifitas tambak. Kini warga protes akibat debu yang berhamburan dari jalan tersebut. Warga kuatir, debu tersebut bisa mengganggu kesehatan warga sekitar.

Diketahui, Kevin, pihak pemilik tambak udang tersebut beberapa waktu lalu memperbaiki jalan yang rusak dengan pengurugan menggunakan tanah kapur. Padahal sebelum ada tambak udang jalan desa tersebut dirabat beton dibeberapa titik dengan menggunakan dana desa yang lumayan besar.

2. Tambak udang milik investor asal Jakarta

Diduga pengurugan yang tidak disertai pemadatan secara maksimal tersebut menyebabkan tanah kapur kembali gembur dan berhamburan saat dilewati kendaraan ataupun saat tertiup angin. Terlebih saat ini terjadi musim kemarau dengan cuaca yang sangat terik.

Warga sekitar yang merasa terganggu dengan debu tanah kapur tersebut kemudian mengaku kepada beberapa anggota BPD Yehembang, berharap keluhan mereka ditindaklanjuti dan pihak BPD Yehembang sebagai perwakilan masyarakat dari masing-masing banjar bisa segera turun menemui pemilik tambak.

Terlebih menurut sejumlah warga, keberadaan tambak udang tersebut tidak ada kontribusi terhadap masyarakat sekitar ataupun kepada banjar maupun desa, terutama satu orangpun warga lokal tidak dilibatkan bekerja di tambak tersebut.

Terkait hal tersebut, Ketua BPD Yehembang Gusti Ngurah Anom dikonfirmasi melalui telpon membenarkan ada sejumlah warga mengeluhkan terkait debu yang bersumber dari urugan jalan menggunakan tanah kapur oleh pihak pemilik tambak.

Karena itu, pihaknya bersama jajaran akan segera turun ke lokasi tambak guna menemui pemilik tambak untuk mencari solusi terkait permasalahan tersebut. Juga untuk menanyakan berbagai masalah lainnya, terutama terkait dugaan luas tambak yang tidak sesuai dengan sertifikat dan diduga mengambil tanah desa atau tanah negara.

“Segera kami turun menindaklanjuti masalah ini. Tentunya kita akan temui pemilik tambak. Bukan hanya masalah debu tapi ada masalah lain, termasuk tenaga kerja. Jangan sampai masyarakat Yehembang hanya sebagai penonton saja,” tegasnya.(ded)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button