Berita

Demi Pantai Tetap Bernapas, Bupati Satria Turun Tangan Bongkar Bangunan Ilegal di Jungutbatu

Langkah tegas demi menjaga wajah Nusa Penida: membebaskan garis pantai dari bangunan tanpa izin untuk menyelamatkan keindahan yang diwariskan alam.

jarrakposbali.com, KLUNGKUNG – Pagi itu, laut di Pantai Jungutbatu berwarna biru jernih, berkilau ditimpa cahaya matahari.

Angin laut membawa aroma asin yang khas, namun di balik keindahan itu, ada pemandangan yang tak biasa: sederet petugas berseragam, palu, dan linggis di tangan.

Bupati Klungkung, I Made Satria, berdiri tegak di antara mereka. Di sampingnya, Wakil Bupati Tjokorda Gde Surya Putra ikut menyaksikan setiap langkah yang diambil.

Hari itu bukan sekadar agenda kerja, melainkan momen penentuan menyembuhkan luka yang menggores wajah pantai akibat bangunan tanpa izin yang berdiri terlalu dekat dengan laut.

โ€œPantai ini bukan hanya milik kita hari ini, tapi milik anak cucu kita nanti,โ€ ujar Bupati Satria dengan nada mantap. โ€œKita harus pastikan ia tetap indah, bersih, dan lestari.โ€

Bangunan pertama yang disentuh adalah The Beach Shack, sebuah kafe yang selama ini menjadi tempat wisatawan bersantai, namun dibangun tanpa mengikuti aturan garis sempadan pantai.

Tembok belakang mulai dirobohkan, atap diturunkan, dan lantai disesuaikan. Tidak ada teriakan marah, tidak ada perlawanan semua dilakukan dalam suasana tenang, berlandaskan kesepakatan damai hasil mediasi sebelumnya.

Tak jauh dari sana, sebuah gudang penyimpanan alat diving dirobohkan total. Batu, semen, dan kayu berjatuhan, mengungkap kembali pemandangan laut yang selama ini tertutup.

Kepala Satpol PP dan PMK Klungkung, I Dewa Putu Suarbawa, memastikan setiap tindakan sesuai prosedur.

Warga setempat berdiri di pinggir pasir, sebagian mengabadikan momen itu dengan ponsel.

Mereka tahu, ini adalah bagian dari upaya besar: menata pesisir demi masa depan pariwisata yang tertib dan berkualitas.

Ketika matahari semakin tinggi, hamparan pasir di Jungutbatu terasa lebih lapang. Ombak memecah di kejauhan, seolah ikut merayakan kebebasan baru garis pantai.

Hari itu, Nusa Penida mendapatkan kembali ruang bernapasnya dan pemerintah daerah menegaskan, keindahan bukan hanya untuk dinikmati, tapi juga untuk dijaga.(jpbali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button