
BADUNG, jarrakposbali.com – Kuta, menyatu dengan debur ombak yang seakan ikut menjadi saksi. Di Open Stage Majelangu, Pura Segara Kuta, penutupan Lomba Jegeg Bungan Desa 2026 berlangsung khidmat sekaligus semarak. Momen ini menjadi penanda berakhirnya rangkaian Festival Seni Budaya XIV Desa Adat Kuta yang telah menghidupkan denyut tradisi selama berminggu-minggu.
Di bawah langit senja Kuta, Ketua DPRD Badung I Gst Anom Gumanti bersama Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa berdiri berdampingan. Dengan tiupan sungu, keduanya secara resmi menutup ajang yang bukan sekadar perlombaan, tetapi juga ruang ekspresi generasi muda dalam merawat budaya.
Kehadiran sejumlah tokoh daerah dan masyarakat menambah hangat suasana, memperlihatkan kuatnya sinergi antara pemerintah dan adat dalam menjaga warisan leluhur.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Badung, saya sangat mengapresiasi penyelenggaraan Festival Seni Budaya ini. Tema ‘Samudramanthana’ mencerminkan kreativitas dan kecintaan masyarakat terhadap budaya adiluhur,” ujar Bupati I Wayan Adi Arnawa, Sabtu (21/3).
Festival ini bukan sekadar panggung hiburan, melainkan cerminan jati diri Kuta sebagai kawasan pariwisata berbasis budaya. Setiap penampilan, setiap karya, dan setiap langkah para peserta Jegeg Bungan Desa menjadi simbol bahwa tradisi tetap hidup di tengah arus modernitas.
Dukungan nyata pun diberikan pemerintah daerah melalui bantuan dana motivasi sebagai bentuk komitmen menjaga keberlanjutan seni dan budaya.
“Pariwisata Badung berbasis budaya. Kegiatan seperti ini adalah implementasi nyata pariwisata berkelanjutan, sekaligus ruang bagi generasi muda untuk menjadi pelopor,” tambahnya.
Di balik gemerlap panggung, tersimpan kerja kolektif masyarakat adat yang menjaga harmoni. Bendesa Adat Kuta menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan, termasuk perayaan Nyepi, berjalan dengan tertib tanpa pelanggaran sebuah bukti kuatnya kesadaran kolektif dalam menjalankan nilai-nilai Catur Brata Penyepian.
Tema “Samudramanthana” pun bukan sekadar konsep, melainkan filosofi tentang perjuangan dan keseimbangan hidup yang lahir dari kebersamaan.
“Samudramanthana melambangkan proses perjuangan dan kerjasama untuk mencapai keharmonisan kehidupan. Ini menjadi inspirasi dalam berkarya dan berproses,” ungkap Bendesa Adat Kuta I Komang Alit Ardana.
Saat gema sungu perlahan mereda, semangat yang ditinggalkan justru semakin terasa. Festival mungkin telah usai, namun energi kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya terus berdenyut di Kuta. Dari panggung sederhana di tepi laut, harapan besar tentang masa depan budaya Bali kembali ditegaskan tetap hidup, lestari, dan menginspirasi generasi berikutnya.(JpBali).



