Berita

IWFP 2026 Dimulai dari Bali, 50 Bhikkhu Jalan Kaki 500 Km Gaungkan Perdamaian Dunia

DENPASAR – Semangat perdamaian lintas batas kembali digaungkan dari Indonesia. Menyambut perayaan Waisak 2026, sebanyak 50 bhikkhu dari Indonesia, Thailand, Laos, dan Malaysia akan mengikuti kegiatan spiritual internasional Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026, sebuah perjalanan panjang penuh makna dari Bali menuju Candi Borobudur.

Tak sekadar ritual keagamaan, IWFP 2026 menjadi simbol kuat persatuan, welas asih, dan harmoni antarumat manusia.

Para bhikkhu yang terlibat berasal dari rentang usia 23 hingga 67 tahun, menegaskan bahwa semangat damai melampaui batas generasi.

Ketua Umum Panitia, Dr. Tosin S.H., menyatakan kegiatan ini membawa pesan universal yang relevan bagi dunia saat ini.

“Kegiatan ini bertujuan menyebarkan nilai perdamaian, cinta kasih, dan persaudaraan. Kehadiran para bhikkhu diharapkan memberi inspirasi dan kekuatan spiritual bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Dari Bali untuk Dunia

Koordinator Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026 Wilayah Bali, Romo Sudiarta Indrajaya menegaskan perjalanan ini bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan momentum kebangsaan.

“Ini bukan hanya momen agama, ini momen Indonesia. Dari Bali, pesan damai akan disuarakan untuk dunia,” kata Romo Sudiarta Indrajaya di Denpasar, Rabu, 6 Mei 2026.

Perjalanan spiritual ini akan menempuh jarak sekitar 500 kilometer selama 21 hari. Para peserta akan melintasi berbagai daerah hingga mencapai puncaknya pada 28 Mei 2026 di kawasan suci Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Sewu.

Rangkaian ini menjadi simbol keterhubungan sejarah, budaya, dan spiritualitas Nusantara.

Romo Sudiarta Indrajaya juga menyinggung akar toleransi yang telah lama hidup di Bali, salah satunya tercermin di Pura Gambur Anglayang.

“Sejak ratusan tahun lalu, Bali sudah menunjukkan harmoni lintas keyakinan. Nilai ini yang ingin kita hidupkan kembali,” ujarnya.

Pengamanan Kolaboratif

Dukungan penuh datang dari berbagai elemen masyarakat, termasuk pecalang, Banser, serta aparat keamanan negara. Manggala Utama Pecalang Bali, Dewa Bagus Made Suharya menegaskan kesiapan pihaknya mengawal perjalanan para bhikkhu hingga Pelabuhan Gilimanuk.

“Ini kebanggaan bagi Bali. Dari sinilah pesan damai dunia dimulai. Kami mengajak masyarakat untuk ikut menghormati perjalanan para bhikkhu, bahkan dengan hal sederhana seperti menyediakan air di sepanjang rute,” ungkapnya.

Ketua PW GP Ansor Bali, H. Tommy Reza Kurniawan juga menegaskan keterlibatan Banser sebagai bentuk toleransi lintas komunitas.

“Kami merasa terhormat bisa berjalan bersama pecalang. Ini bukan sekadar pengamanan, tetapi simbol persatuan masyarakat Bali,” terangnya.

Dorong Pariwisata Berbasis Nilai

IWFP 2026 juga dinilai berdampak strategis bagi citra pariwisata Indonesia. Ketua DPW Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali Agus Maha Usadha menyebut kegiatan ini selaras dengan tren global.

“Bali sebagai titik awal menunjukkan bahwa pariwisata tidak hanya soal destinasi, tetapi juga nilai. Spirit of peace dari Bali diharapkan menjadi cahaya bagi dunia,” ujarnya.

Momentum Global dari Nusantara

Dijadwalkan berlangsung mulai 7 Mei hingga 5 Juni 2026, IWFP diharapkan menjadi magnet wisata religi internasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat harmoni dunia.

Sejumlah tokoh nasional dijadwalkan hadir dalam pembukaan, diantaranya Wakil Menteri Agama RI Muhammad Syaifi serta Dirjen Bimas Buddha Kemenag RI Supriyadi.

Dari pemerintah daerah, turut diundang Gubernur Bali Wayan Koster dan Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra.

Sementara dari unsur tokoh dan organisasi keagamaan, hadir Bhante Dhamavudho, Dr. Tosin, S.H., M.H., Romo I. B. Rahoela, Romo Sudiarta Indrajaya, Romo Wawan, Romo Irwan Pontoh, serta Romo Alex.

 Perwakilan organisasi nasional, seperti Walubi oleh S. Hartati Murdaya dan Permabudhi oleh Philip K. Widjaja juga dijadwalkan hadir.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi simbol kuat dukungan lintas sektor dalam menyukseskan misi perdamaian yang diusung IWFP 2026.

Ditengah dunia yang kerap diliputi konflik, langkah kaki para bhikkhu ini menjadi pesan sunyi namun kuat bahwa perdamaian bisa dimulai dari hal sederhana dari Bali, untuk Indonesia, dan untuk dunia. (red).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button