BangliBerita
Trending

Ketua DPRD Bangli Hadiri Utsawa Susastra Bali, Semangat Bahasa Daerah Terus Menyala

BANGLI, jarrakposbali.com – Suasana Aula Kantor DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali, Rabu (7/5/2026), terasa berbeda. Deretan pelajar hingga mahasiswa dari berbagai daerah di Bali hadir membawa satu semangat yang sama, menjaga bahasa dan sastra Bali tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Dalam pelaksanaan Utsawa Widyatarka Susastra Bali rangkaian Bulan Bung Karno Tahun 2026 itu, Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika turut hadir memberikan dukungan langsung kepada para peserta.

Yang menarik, kegiatan ini bukan sekadar lomba membaca atau bertutur. Di banyak kasus, ruang seperti ini sering kali menjadi tempat lahirnya rasa percaya diri generasi muda untuk kembali dekat dengan akar budayanya sendiri.

Peserta dari tingkat SD, SMP, SMA/SMK hingga perguruan tinggi tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Bahasa Bali yang selama ini lebih sering terdengar di lingkungan keluarga, kali ini hadir dengan nuansa yang lebih hidup melalui pembacaan sastra, diskusi, hingga penampilan kemampuan bertutur para peserta.

Kehadiran Ketua DPRD Bangli I Ketut Suastika menjadi bentuk dukungan nyata terhadap upaya pelestarian budaya daerah, khususnya bahasa dan sastra Bali di kalangan generasi muda. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi perlu dihadirkan melalui ruang-ruang kreatif yang dekat dengan anak muda.

Sering kali, generasi muda sebenarnya memiliki ketertarikan besar terhadap budaya lokal. Hanya saja mereka membutuhkan panggung dan apresiasi agar keberanian itu tumbuh. Kegiatan seperti Utsawa Widyatarka Susastra Bali menjadi salah satu ruang penting untuk menjaga kesinambungan identitas budaya Bali.

“Bahasa Bali bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga bagian dari jati diri dan warisan budaya yang harus terus dijaga bersama. Saya sangat mengapresiasi semangat para peserta yang hadir hari ini,” ujar I Ketut Suastika.

Pelaksanaan Utsawa Widyatarka Susastra Bali dalam rangka Bulan Bung Karno Tahun 2026 pada akhirnya menghadirkan satu pesan sederhana. Kemajuan zaman tidak selalu membuat generasi muda menjauh dari budaya.

Kadang, lewat ruang yang hangat dan penuh apresiasi, mereka justru menemukan kembali kebanggaan terhadap bahasa dan tradisi daerahnya sendiri.

Di tengah riuh perkembangan digital, suara sastra Bali sore itu terasa seperti pengingat, bahwa budaya akan tetap bertahan ketika terus diwariskan dengan rasa bangga.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button