BeritaDenpasar

"Prasasti", Teater yang Mengajak Bali Berdialog dengan Sejarah dan Zaman

DENPASAR, jarrakposbali.com – Ada malam ketika tepuk tangan tidak hanya lahir karena kualitas akting para pemain. Ia hadir karena penonton merasa sedang diajak melihat dirinya sendiri. Begitulah suasana yang menyelimuti Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Sabtu malam. Di atas panggung Festival Seni Bali Jani VIII Tahun 2026, Sanggar Teater Agustus mempersembahkan Prasasti. Sebuah pertunjukan yang membawa penonton melintasi seribu tahun perjalanan sejarah, lalu mengembalikannya pada pertanyaan yang terasa sangat dekat dengan kehidupan hari ini.

Berangkat dari Prasasti Blanjong yang menjadi salah satu penanda penting sejarah Bali, naskah karya I.B. Martinaya atau Gus Martin menghadirkan sejarah sebagai pengalaman yang hidup. Batu bertulis peninggalan masa lampau itu tidak diposisikan sebagai benda museum yang hanya disimpan untuk dikenang. Ia berubah menjadi pintu masuk untuk membaca perjalanan manusia, kebudayaan, dan perubahan zaman.

Di bawah arahan Wayan Sila Sayana, Ngurah Rai Riauadi, dan Gede Sustrawan, Teater Agustus membangun panggung yang bergerak luwes antara dunia sejarah, mitologi, dan realitas sosial. Penonton diajak mengikuti perjalanan sekelompok anak yang terseret menuju masa pemerintahan Raja Sri Kesari Warmadewa hingga menyaksikan langsung proses pemancangan Prasasti Jaya Sama yang kini dikenal sebagai Prasasti Blanjong.

Yang menarik, sejarah tidak hadir sebagai pelajaran yang kering. Ia tumbuh melalui rasa ingin tahu anak-anak, kisah cinta lintas budaya, humor, musik, hingga simbol-simbol yang mengajak penonton menyusun maknanya sendiri.

Cerita kemudian bergeser ke masa kini. Sekelompok ibu memulai pencarian “Prasasti Nusantara” sebagai simbol jawaban atas berbagai kegelisahan yang mereka rasakan. Dalam perjalanan itu, mereka bertemu mahasiswa yang sedang menyuarakan aspirasi, menyaksikan berbagai peristiwa simbolik, dan perlahan menyadari bahwa pencarian terbesar sesungguhnya bukan tentang menemukan sebuah benda, melainkan memahami kembali akar identitas yang mulai terlupakan.

Melalui perpindahan ruang dan waktu itu, Prasasti menyampaikan satu gagasan sederhana. Sejarah selalu berjalan berdampingan dengan kehidupan hari ini. Apa yang pernah ditulis pada batu berabad-abad silam masih memiliki gema dalam percakapan masyarakat modern.

Pementasan tersebut disaksikan Ketua Dekranasda Provinsi Bali sekaligus seniman, Ni Putu Putri Suastini Koster, yang selama ini konsisten memberikan ruang tumbuh bagi seni modern dan kontemporer melalui Festival Seni Bali Jani.

Penulis naskah sekaligus penata musik, I.B. Martinaya atau Gus Martin, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan tampil di Festival Seni Bali Jani.

“Atas kesempatan untuk menampilkan pementasan ini, kami secara khusus menghaturkan dahating suksma kepada Ibu Ni Putu Putri Suastini Koster selaku penggagas utama FSBJ sebagai ranah berkreativitas para pegiat seni modern dan kontemporer.”

Menurutnya, Prasasti merupakan upaya menghadirkan kembali sejarah dalam bahasa teater sehingga dapat lebih dekat dengan generasi masa kini tanpa kehilangan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Di penghujung pertunjukan, lampu panggung memang perlahan padam. Namun, pertanyaan yang ditinggalkan Prasasti justru terus menyala di benak penonton. Tentang bagaimana sebuah peradaban dikenang. Tentang bagaimana kebudayaan diwariskan. Dan tentang bagaimana setiap generasi selalu meninggalkan jejaknya sendiri.

Di Festival Seni Bali Jani VIII, Teater Agustus menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu berbicara dari balik lembar buku atau prasasti batu. Kadang sejarah hadir lewat dialog, musik, tawa, kegelisahan, dan keberanian sebuah panggung untuk mengajak masyarakat membaca kembali masa lalu demi memahami arah masa depan. Di situlah Prasasti menemukan kekuatannya. Ia tidak sekadar dipentaskan untuk ditonton, melainkan untuk direnungkan.(JpBali).

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button