KeagamaanKlungkung

Paguyuban Sangku Desa Bakas Serahkan Genta untuk Mendukung Pelayanan Adat

KLUNGKUNG, jarrakposbali.com – Di tepian Sungai Melangit yang mengalir deras di kawasan Bakas Levi Rafting, ada suasana yang jauh lebih tenang daripada riuhnya arus sungai. Warga Desa Bakas berkumpul dalam satu ruang kebersamaan, merawat tradisi yang telah diwariskan turun-temurun, sekaligus menyambut hadirnya dukungan baru bagi keberlangsungan adat. Minggu (19/7/2026), penyerahan hibah kepada tiga organisasi adat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan rutin Paguyuban Sangku Bakas yang digelar setiap enam bulan sekali.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penyerahan genta dan perlengkapan upacara kepada para sangku Desa Bakas. Prosesi sederhana itu menjadi simbol kesinambungan tugas pelayanan spiritual yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali, I Nyoman Suwirta.

Pada kesempatan yang sama hadir Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali, I Nyoman Suwirta, didampingi Bendesa Adat Bakas Tjokorda Oka Adnyana, Kepala Dusun Kawan Jero Dasar, Ketua Sangku Bakas Jero Mangku Suwegina, serta para tokoh adat dan masyarakat.

“Semoga bantuan ini benar benar memberi manfaat bagi masyarakat dan mampu memperkuat pelayanan di masing masing organisasi penerima,” ujar Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali, I Nyoman Suwirta.

Momentum itu kemudian berlanjut dengan penyerahan hibah Pemerintah Provinsi Bali kepada tiga organisasi adat yang selama ini aktif menjaga kehidupan budaya dan spiritual masyarakat Desa Bakas.

Pemaksan Pura Dalem Agung menerima bantuan sebesar Rp200 juta. Paguyuban Sangku Desa Bakas memperoleh Rp100 juta. Sementara Sanggar Galang Kangin menerima hibah Rp75 juta sesuai proposal yang telah disetujui.

“Bantuan ini adalah bentuk dukungan agar organisasi adat tetap mampu menjalankan perannya bagi masyarakat,” kata I Nyoman Suwirta.

Bagi masyarakat Desa Bakas, hibah tersebut memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar nilai anggaran. Bantuan itu dipandang sebagai wujud perhatian pemerintah terhadap lembaga adat yang setiap hari bekerja menjaga tradisi, melayani upacara keagamaan, hingga membangun semangat kebersamaan warga.

“Saya mengapresiasi seluruh pihak yang telah memberikan tenaga, pikiran, dan materi sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik,” ungkap Ketua Sangku Bakas sekaligus Ketua Panitia, Jero Mangku Suwegina.

Ketua Sangku Bakas sekaligus Ketua Panitia, Jero Mangku Suwegina.

Menurutnya, setiap pelaksanaan yadnya selalu menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk saling menguatkan. Di balik setiap prosesi, tumbuh semangat gotong royong yang menjadi fondasi kehidupan adat Bali sejak dahulu.

“Persatuan dan rasa saling memiliki adalah kekuatan utama untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tutur Jero Mangku Suwegina.

Pandangan serupa disampaikan Bendesa Adat Bakas, Tjokorda Oka Adnyana. Ia melihat hibah tersebut sebagai investasi bagi keberlanjutan tradisi yang telah menjadi identitas masyarakat Desa Adat Bakas.

“Semoga hibah ini dimanfaatkan sesuai fungsi dan tujuan yang telah direncanakan sehingga benar benar memberi manfaat bagi masyarakat adat,” ujar Tjokorda Oka Adnyana.

Bendesa Adat Bakas, Tjokorde Oka Adnyana

Apresiasi juga datang dari Pemerintah Desa Bakas. Melalui Kepala Dusun Kawan, Jero Dasar, pemerintah desa berharap bantuan tersebut mampu memperkuat berbagai kegiatan sosial, adat, dan pelayanan kepada masyarakat dalam jangka panjang.

“Kami berharap bantuan ini mampu mendukung berbagai kegiatan adat, sosial, dan kemasyarakatan sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” kata Jero Dasar.

Di hadapan seluruh penerima hibah, Suwirta mengingatkan bahwa setiap rupiah bantuan adalah amanah. Karena itu, seluruh penggunaan anggaran harus tetap mengacu pada proposal yang telah disepakati sehingga manfaatnya dapat dipertanggungjawabkan.

“Gunakan bantuan ini sesuai proposal yang telah disetujui sehingga manfaatnya benar benar dirasakan oleh masyarakat,” tegas I Nyoman Suwirta.

Pemerintah Desa Bakas. Kepala Desa yang diwakili Kepala Dusun Kawan, Jero Dasar

Perhatian Suwirta juga tertuju pada penguatan sumber daya manusia di lingkungan adat. Menurutnya, pembangunan budaya tidak hanya diwujudkan melalui bangunan fisik, melainkan juga melalui peningkatan kualitas para pemangku yang menjadi penjaga nilai nilai spiritual masyarakat Bali.

“Para jero mangku perlu terus belajar mengikuti perkembangan zaman, namun tetap menjaga kesucian nilai nilai agama dan adat Bali,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya etika kepemangkuan dalam memberikan pelayanan kepada umat. Sikap tulus, kesabaran, dan kepekaan membaca situasi dinilai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehormatan seorang pemangku.

“Edukasi mengenai etika kepemangkuan harus terus diperkuat karena dari hal hal sederhana itulah kualitas pelayanan spiritual dapat terlihat,” pungkas I Nyoman Suwirta.

Menjelang acara usai, percakapan hangat masih mengalir di antara para undangan. Di tengah hijaunya Desa Bakas dan gemuruh Sungai Melangit yang terus mengalir, penyerahan hibah hari itu meninggalkan pesan yang sederhana namun bermakna. Adat tidak hanya bertahan karena bangunan pura yang kokoh atau upacara yang terus berlangsung. Ia tetap hidup karena ada masyarakat yang memilih menjaga, pemerintah yang memberi dukungan, dan para pemangku yang terus merawat nilai nilai leluhur. Dari Desa Bakas, harapan itu kembali dipupuk, agar warisan budaya Bali tetap tumbuh dan menemukan tempatnya di setiap generasi yang akan datang.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button