BeritaMangupura

Ketua DPRD Badung Hadiri Karya Nyekah Massal dan Metatah Desa Adat Kelan

MANGUPURA, jarrakposbali.com –  Suasana kebersamaan terasa kuat di Desa Adat Kelan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, Selasa (11/8/2026). Di Wantilan Desa Adat Kelan, Jaba Sisi Pura Desa lan Puseh, krama desa berkumpul menjalankan Karya Nyekah Massal lan Metatah Desa Adat Kelan Tahun 2026.

Rangkaian yadnya ini menjadi bagian dari perjalanan kehidupan masyarakat Bali. Nyekah sebagai bagian dari Pitra Yadnya dan metatah sebagai bagian dari Manusa Yadnya dilaksanakan secara massal dengan melibatkan krama desa. Dari rangkaian upacara tersebut, terlihat kuatnya semangat gotong royong yang masih hidup dalam keseharian masyarakat Desa Adat Kelan.

Pelaksanaan karya massal tersebut menjadi ruang bagi krama untuk menjalankan kewajiban keagamaan sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan desa adat.

Sejak persiapan hingga pelaksanaan, berbagai unsur masyarakat mengambil peran sesuai tanggung jawab masing-masing. Ada yang menyiapkan sarana upacara, mengatur pelaksanaan kegiatan, membantu kebutuhan krama, hingga memastikan seluruh rangkaian berjalan dengan baik.

Di tengah kesibukan tersebut, nilai menyama braya terasa begitu nyata. Setiap orang hadir dengan perannya masing-masing. Kebersamaan menjadi kekuatan yang membuat sebuah karya dapat dilaksanakan secara bersama-sama.

Ketua DPRD Kabupaten Badung, I Gusti Anom Gumanti, turut hadir menyaksikan pelaksanaan karya tersebut. Kehadirannya menjadi bentuk perhatian terhadap aktivitas keagamaan, adat dan budaya yang tumbuh di tengah masyarakat Badung.

Menurutnya, pelaksanaan karya secara massal memiliki makna yang luas bagi kehidupan masyarakat. Selain menjalankan kewajiban agama, kegiatan tersebut menjadi sarana memperkuat rasa kebersamaan antar-krama.

“Kami sangat mengapresiasi semangat gotong royong dan kebersamaan krama Desa Adat Kelan dalam melaksanakan karya ini. Kegiatan seperti ini memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat karena menjadi bagian dari kewajiban agama sekaligus memperkuat rasa menyama braya.”

“Kebersamaan seperti ini perlu terus dijaga. Adat dan budaya Bali akan tetap kuat ketika masyarakatnya bersama-sama menjaga, melaksanakan dan mewariskan nilai-nilai tersebut kepada generasi berikutnya,” ujar I Gusti Anom Gumanti.

Ada sesuatu yang menarik dari sebuah karya adat ketika dilaksanakan secara massal. Yang terlihat bukan sekadar rangkaian upacara, melainkan sebuah gambaran tentang bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan keluarga, lingkungan dan desa adat.

Di Desa Adat Kelan, nilai tersebut hadir melalui kebersamaan krama. Karya Nyekah Massal lan Metatah menjadi momentum ketika ruang-ruang sosial kembali dipenuhi interaksi, kerja bersama dan rasa saling membantu.

Bagi masyarakat Bali, yadnya memiliki perjalanan yang panjang. Di dalamnya terdapat nilai pengabdian, ketulusan dan tanggung jawab yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, ketika sebuah karya dilaksanakan secara bersama-sama, yang tumbuh bukan hanya kelancaran upacara. Ada ikatan sosial yang ikut dirawat.

Semangat menyama braya menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Krama hadir, bekerja bersama dan saling mendukung. Nilai itu kemudian menemukan bentuknya dalam sebuah karya yang menjadi milik bersama.

Kehadiran berbagai unsur pemerintahan, aparat, tokoh masyarakat dan bendesa adat juga memperlihatkan adanya hubungan yang erat antara kehidupan adat dengan kehidupan sosial masyarakat.

Turut hadir Camat Kuta, Sekretaris Camat Kuta, Lurah Tuban, Danramil Kuta, Kapolsek Kuta, Bendesa Adat Kedonganan, Bendesa Adat Tuban, tokoh masyarakat serta krama Desa Adat Kelan.

Karya Nyekah Massal lan Metatah Desa Adat Kelan Tahun 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar sebuah agenda keagamaan. Di dalamnya terdapat cerita tentang kebersamaan yang terus dirawat, gotong royong yang tetap berjalan dan nilai adat yang diwariskan melalui tindakan nyata.

Di tengah perubahan zaman, tradisi seperti ini menunjukkan bahwa kekuatan desa adat tetap bertumpu pada masyarakatnya. Ketika krama bergerak bersama, sebuah karya menjadi ruang untuk menjaga hubungan, memperkuat kebersamaan dan meneruskan nilai budaya Bali kepada generasi berikutnya.(JpBali).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button