
GIANYAR, jarrakposbali.com – Pagi di Halaman Kantor Bupati Gianyar, Jumat (14/8), berlangsung dalam suasana penuh khidmat. Barisan peserta upacara berdiri tegak memperingati Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali Tahun 2026. Di tengah suasana tersebut, Bupati Gianyar I Made Mahayastra bertindak sebagai inspektur upacara sekaligus membacakan pidato Gubernur Bali.
Peringatan tahun ini menjadi ruang untuk melihat kembali perjalanan Bali, sekaligus menatap arah pembangunan yang akan menentukan wajah Bali dalam jangka panjang. Semangat itu terangkum dalam tema “Suci Lascarya, Nusa Wijaya”, yang bermakna tulus ikhlas untuk kejayaan Bali.
Tema tersebut membawa pesan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Bali. Setiap karya, pengabdian dan pelayanan publik diharapkan tumbuh dari ketulusan, integritas serta rasa tanggung jawab terhadap tanah kelahiran.
Dalam amanat Gubernur Bali yang dibacakan Bupati Mahayastra, Hari Jadi Provinsi Bali diposisikan sebagai momentum refleksi. Berbagai capaian pembangunan menjadi bagian dari perjalanan yang perlu dievaluasi dan dijadikan pijakan untuk menyusun langkah berikutnya.
“Peringatan Hari Jadi Provinsi Bali bukan sekadar mengenang perjalanan sejarah berdirinya Provinsi Bali, tetapi menjadi momentum untuk melakukan refleksi atas berbagai capaian pembangunan, sekaligus memperkuat tekad dan komitmen dalam membangun Bali ke depan.”
Arah pembangunan Bali juga memiliki landasan hukum yang semakin kuat melalui Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2023 tentang Provinsi Bali. Regulasi ini memberikan pengakuan terhadap keberadaan Desa Adat, Subak, Sad Kerthi, kebudayaan serta kearifan lokal Bali.
Fondasi tersebut kemudian diarahkan dalam Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru 2025 sampai 2125. Visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menjadi pijakan dalam menjaga keberlanjutan pembangunan sekaligus kehidupan masyarakat Bali.
“Setiap karya, pengabdian, dan pelayanan yang kita lakukan hendaknya dilandasi ketulusan hati, menjunjung integritas, mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun golongan, serta semangat gotong royong dan bertanggung jawab demi Nindihin Gumi Bali.”
Untuk periode 2025 sampai 2030, pembangunan Bali diarahkan pada enam bidang prioritas. Mulai dari adat, agama, tradisi, seni, budaya dan kearifan lokal, kemudian kesehatan, pendidikan, pemuda, olahraga, jaminan sosial dan ketenagakerjaan.
Selanjutnya, transformasi perekonomian melalui Ekonomi Kerthi Bali menjadi salah satu perhatian utama. Pembangunan infrastruktur dan transportasi, pengelolaan lingkungan, kehutanan dan energi, serta pengembangan Bali Pulau Digital dan keamanan Bali turut menjadi bagian dari agenda pembangunan.
Enam bidang tersebut menunjukkan bahwa pembangunan Bali ke depan membutuhkan kerja yang saling terhubung. Pemerintah, masyarakat adat, dunia pendidikan, pelaku ekonomi dan berbagai unsur lainnya memiliki ruang untuk mengambil peran sesuai bidang masing-masing.
“Tidak ada pilihan lain, hanya ada satu pilihan, harus sukses. Keberhasilan pembangunan Bali lima tahun ke depan akan menjadi fondasi yang menentukan keberhasilan dan keberlanjutan peradaban serta masa depan generasi penerus Bali sampai 100 tahun ke depan.”
Dari Gianyar, peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali menjadi pengingat bahwa perjalanan Bali terus bergerak. Tradisi tetap menjadi bagian penting dari identitas, sementara pembangunan membuka ruang bagi masyarakat untuk menghadapi perubahan zaman.
Semangat “Suci Lascarya, Nusa Wijaya” kemudian menemukan maknanya dalam kerja sehari-hari. Ketulusan dalam mengabdi, gotong royong dalam bergerak dan tanggung jawab dalam menjaga Bali menjadi energi yang dibutuhkan untuk membangun masa depan.
Di usia ke-68, Bali tidak hanya merayakan perjalanan yang telah dilalui. Bali sedang meneguhkan kembali komitmen untuk menjaga tanah, budaya, kehidupan masyarakat dan peradaban yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.(JpBali).



